|

Jia Jia, seorang aktivis demokrasi terkemuka di China, sedang menjalani hukuman penjara di Jinzhong di barat laut China Provinsi Shanxi atas kegiatan pro-demokrasinya.
Jia Jia adalah Sekretaris Jenderal Asosiasi Ilmuwan dan Ahli Teknologi Provinsi Shanxi. Dia melarikan diri ke Taiwan dengan kelompok wisata pada 22 Oktober 2006. Ia pergi ke Hong Kong, Malaysia, dan Indonesia sebelum sampai ke Selandia Baru, di mana ia diberikan status penduduk tetap. Pada 1 Januari 2008, Jia Jia terpilih menjadi Wakil Presiden pertama dari Pemerintah Interim China.
Tiga tahun kemudian, Jia Jia kembali ke China dan ditangkap di bandara Beijing. Anggota keluarga Jia Jia tidak mendengar kabar tentang dirinya sampai bulan Mei, anaknya, Jia Kuo mengetahui bahwa ayahnya dijatuhi hukuman 8 tahun penjara atas tuduhan "menghasut subversi negara."
Jia Kuo, yang tinggal di Selandia Baru, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pamannya (kakak Jia Jia) diberikan berkunjung pada 28 Oktober. Adiknya yang dulu energik tampak lemah dan rambut semuanya putih. Begitu Jia Jia mengangkat telepon dan memanggil "Kakak!" Mereka berdua menangis.
Jia Jia juga meminta saudaranya untuk memberitahu Jia Kuo belajar dengan tekun dan kerja keras, sehingga ia akan dapat memberikan kontribusi bagi masa depan demokrasi China. Ia meminta keluarganya untuk mengurus diri sendiri dan menjaga kesehatan yang baik dalam menunggu dia kembali dibebaskan.
Jia Kuo mengatakan bahwa ayahnya sedang dianiaya secara politik oleh rezim komunis China dan hak dasarnya telah dilanggar. Rezim komunis China secara ilegal menahan ayahnya dan dihukum secara ilegal, dia menambahkan.
"Ayah saya mengatakan kebenaran dan melakukan hal yang benar. Kata-kata dan tindakannya mencerminkan keinginan rakyat Tiongkok. Hanya karena ini, ia diganjar hukuman 8 tahun. Penganiayaan berat politik menunjukkan bahwa Partai Komunis China tidak beralasan dan melanggar hukum."
Jia Kuo percaya ayahnya ingin orang-orang China untuk membuang ketakutan mereka terhadap rezim. "Ayah saya tidak takut di penjara. Dia ingin memberitahu orang-orang Tiongkok bahwa kita harus melakukan yang terbaik untuk melawan rezim yang lalim dan sewenang-wenang itu."
Jia Kuo mengatakan kepada the Epoch Times bahwa hal pertama yang ayahnya lakukan setelah melarikan diri ke Taiwan pada Oktober 2006 adalah untuk mempublikasikan pergerakan orang China mundur dari Partai Komunis China (PKC).
Selama wawancara, ia membuat pernyataan sebagai berikut:
"Ayah saya mewakili lebih dari 700 anggota Asosiasi Ilmuwan dan Ahli Teknologi Provinsi Shanxi untuk mundur dari PKC. Dia ingin berkontribusi pada gerakan demokrasi China. Saat itu, ada 14 juta orang yang telah menarik diri dari PKC, dan sekarang ada lebih dari 100 juta. Ini adalah gerakan historis yang luar biasa.”
"Saat ini di China, banyak orang belum menyadari bahwa sumber kesulitan dan bencana utama di China adalah PKC. Ayah saya memakai aksi memberitahu orang-orang China apa yang harus dilakukan. Dia menyerukan kepada orang-orang China untuk mundur dari PKC dan menyambut China baru tanpa PKC.”
"Ayah saya yang kini berusia 60 tahun, akan berusia 66 tahun ketika dia dibebaskan. Saya yakin ia masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan upayanya membawa demokrasi ke China. Sebelum ayah saya berangkat ke China, ia mengatakan ia siap untuk mengorbankan hidupnya untuk demokrasi. Sebagai anaknya, saya mengerti dan menghargai pilihannya.”
"Tentu saja, sebagai manusia dengan emosi, saya sangat sedih mendengar tentang kondisinya di penjara. Saya khawatir. Tapi saya tahu ayah telah melakukan sesuatu yang berarti. Adalah penderitaan untuk demokrasi China. Adalah penderitaan bagi orang-orang China. Oleh karena itu saya sangat bangga memiliki ayah seperti dia. " (EpochTimes/man) |