Dari 10 Negara Lebih 30 Orang Datang ke Beijing untuk Menghadapi Rezim Komunis ChinaSerukan Stop Penindasan
Dibelahan dunia yang jauh dari rumah, saya melihat ke cermin apakah kamera pengintai saya kelihatan. Saya saat itu di Beijing, China, dan memiliki kamera lubang jarum tersembunyi dijarit pada tali bahu ransel saya. Setelah melihat mata saya sendiri di cermin, rasa takut menusuk di dalam hati. Tertangkap sebagai mata-mata di daratan China bukan hal sepele. Mereka menerapkan hukuman mati bahkan untuk kejahatan yang jauh lebih kecil sekalipun.
Setelah berjalan sejauh 5 mil ke Lapangan Tiananmen, saya berdiri terperanjat akan luasnya. Sangat sulit membayangkan lapangan seluas ini penuh dengan tank dan mahasiswa. Hari itu cerah dan sejuk, angin utara lembut dingin menerpa wajah saya saat melihat tiang bendera utama. Saya tiba di titik pertemuan.
Lebih dari 30 orang dari 10 Negara berbeda, mengenakan bendera nasional mereka masing-masing, berkumpul untuk memohon mengakhiri penindasan terhadap Falun Gong. Terdengar aba-aba untuk duduk dalam posisi meditasi, sementara beberapa berdiri membentangkan sebuah spanduk emas berukuran 3,6 meter dengan tiga karakter mandarin yang berbunyi, "Sejati, Baik, Sabar." Para pejalan kaki sangat terkejut. Saya berdiri tak bergerak merekam acara dengan kamera video tersembunyi saya. Dalam waktu kurang dari 30 detik mobil polisi meraung-raung dari segala arah.
Itu terjadi pada 20 November 2001 - 10 tahun lalu.
Dalam bulan-bulan berikutnya lebih banyak orang asing dari seluruh dunia melakukan perjalanan ke China dalam upaya untuk membangunkan orang-orang China atas terjadinya hukuman yang tidak adil dan pencemaran nama baik terhadap Falun Gong di negara mereka sendiri.
Sebuah Banding untuk Hati Nurani
Seruan ini menjadi berita utama di media seluruh dunia, bagian yang kami tetapkan tercapai sesuai rencana. Orang yang belum pernah mendengar tentang penganiayaan Falun Gong sekarang tahu tentang hal itu. Dan kesadaran ini adalah langkah pertama menuju lebih banyak orang menuntut rezim komunis China untuk menghentikan penindasan.
Namun, hati kami bertujuan mengubah hal-hal di China. Permohonan kami difokuskan pada memberitahu orang-orang China yang dibutakan oleh blokade media untuk membangkitkan realitas kejahatan yang terjadi di halaman belakang mereka sendiri.
Dalam sepuluh tahun terakhir kami telah datang untuk memahami lebih mendalam tentang betapa sulitnya China memenuhi apa yang kami minta itu.
China memiliki budaya kuno yang kaya membawa kebanggaan dan tak tergoyahkan kepada rakyatnya. Dibangun pada ajaran-ajaran kehormatan, kesetiaan, tanggung jawab, belas kasih, dan terutama mengejar kebenaran. Setiap dinasti memahami pentingnya spiritualitas, dan setiap perubahan dinasti yang penuh gejolak, setelah perubahan orang-orang China hidup ratusan tahun relatif dalam keharmonisan.
Era pemerintahan Partai Komunis China (PKC), bagaimanapun, telah berbeda dari jaman lainnya dalam sejarah China.
Sejak PKC merebut kekuasaan pada tahun 1949, rezim ini telah membuat rakyatnya sendiri menjadi musuh dengan melancarkan kampanye yang tak terhitung jumlahnya dan mengadu satu sama lain dalam rangka menjamin kekuasaan Partai tak tertandingi. Sebagai hasilnya.sekitar 80 juta orang telah tewas tak wajar.
PKC telah menciptakan krisis demi krisis: tahun 1950-an rezim menyebabkan kelaparan hebat selama masa yang disebut Lompatan Jauh ke Depan, Revolusi Besar Kebudayaan yang menakutkan di mulai pada pertengahan tahun 60-an mentargetkan dan menghancurkan agama yang mampu memberikan kemerdekaan rohani, Pembantaian di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989 yang memadamkan harapan reformasi demokratis, penganiayaan yang sedang berlangsung terhadap Falun Gong, dan sebagainya.
Akibatnya, setiap keluarga di China memiliki setidaknya satu kerabat yang telah menghadapi penganiayaan PKC. Namun, sebagian karena teror tak berkesudahan, banyak orang China membabi buta mengikuti PKC dan propagandanya.
Dilema Moral China
PKC telah menjadi tempat di mana orang dipaksa untuk hidup tanpa bebas berkeyakinan, di mana orang takut untuk mengatakan satu kata yang salah di depan umum karena takut penangkapan dan penyiksaan, dan di mana memikirkan orang lain, menjunjung prinsip, dan bertindak menyatakan jatidiri telah digantikan oleh rasa takut, cemburu, egoisme dan ketidakpedulian.
Orang-orang China setiap hari menyaksikan penangkapan tidak adil, pelecehan, diskriminasi dan tindakan tidak manusiawi di seluruh China: serangan terhadap Uighur dan Tibet, menindak umat Kristen dan Katolik kepausan rumah, pembungkaman dan memenjarakan pengacara hak asasi manusia, ketidakadilan dilakukan untuk mereka yang rumahnya dihancurkan dalam rangka untuk memperkaya pejabat setempat, ancaman kepada orang tua untuk menghentikan protes atas kematian anak-anak merekayang tewas di sekolah yang ambruk selama gempa Sichuan, daftar ini tak ada habisnya.
Selama 12 tahun terakhir masyarakat China juga telah menyaksikan penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap praktisi Falun Gong. Puluhan ribu praktisi dipenjarakan telah dibunuh oleh rumah sakit milik negara untuk memacu pariwisata transplantasi organ ilegal bernilai miliaran dolar.
Efek dari pukulan tatanan moral masyarakat semakin terlihat hari demi hari.
Saya menonton video YouTube tentang bocah berusia 2 tahun yang berjalan keluar dari toko orang tuanya di China dimana dia ditabrak dua kali oleh mobil dan terbaring di jalan sekarat. Sementara 18 orang yang berjalan lewat tidak berhenti maupun membantunya. Produsen China menjual susu beracun, makanan bayi beracun, obat yang tercemar, dan papan gypsum beracun kepada konsumen demi uang.
Dari Penerimaan Sampai Penganiayaan
Setiap Minggu pagi saya dan ibu berlatih latihan Falun Gong bersama di sebuah taman terdekat. Kadang-kadang selama meditasi saya membuka mata dan melihat tubuhnya, usianya sudah 70 tahun, ia duduk dengan postur tubuh yang sempurna, matanya ditutup ringan dengan senyum kecil di wajahnya. Dia tampak begitu damai. Saya ingat ketika perkelahian dan kekerasan emosi keluarga merobek keluarga kami yang kurang begitu harmonis. Rasanya seperti sihir bagi saya bagaimana dalam waktu kurang dari satu tahun ini, disiplin rohani tampak sederhana membawa ketenangan dalam kehidupan keluarga saya.
Ekspresi damai di wajah ibu saya terlihat kontras sama sekali dengan wajah orang-orang China di Lapangan Tiananmen saat itu, mereka sangat kaget.
Mereka telah lupa bahwa di awal Falun Gong diberi penghargaan dan dipuji oleh PKC karena manfaat yang dibawa kepada orang-orang China. Bahkan diberi selamat oleh Biro Keamanan Publik karena "membawa kebajikan melawan kejahatan kembali ke China."
Tetapi hanya beberapa tahun setelah penghargaan diberikan, popularitas Falun Gong membuat PKC korup merasa terancam oleh praktek spiritual yang pengikutnya memiliki prinsip-prinsip diluar ideologi Partai. Akhirnya penindasan terhadap Falun Gong dimulai pada tahun 1999.
Para praktisi di seluruh China selama bertahun-tahun menanggapi dengan cara yang paling damai dan sabar, dengan memohon kepada Partai untuk mengakhiri penganiayaan dan menjamin hak untuk berlatih Falun Gong, orang mungkin berharap PKC akan berubah.
Pada tahun 2006 dunia tahu mengapa PKC melanjutkan kampanye melawan Falun Gong. Mr. Chen Yonglin, pejabat peringkat tinggi konsulat China di Australia membelot dari jabatannya dan menyatakan: "Partai Komunis China selalu mengandalkan kekerasan, kebohongan, dan menganjurkan atheisme untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka tidak bisa memahami upaya damai praktisi Falun Gong untuk melindungi kebebasan keyakinan mereka. Sekarang mereka merasa mereka tidak dapat membiarkan orang-orang tahu tentang apa yang telah dilakukan terhadap Falun Gong di China. "
Melihat ke Masa Depan
Hari ini jutaan orang di seluruh dunia menghargai ajaran Falun Gong yang fokus pada moralitas yang telah terbawa dalam kehidupan mereka. Ini adalah sesuatu yang mendesak diperlukan China.
Sepuluh tahun kemudian, banding kami telah diikuti oleh tak terhitung jumlahnya dari praktisi dan warga negara biasa yang telah menampilkan akhir yang sama.
Jutaan praktisi di China terus - menerus memproduksi selebaran dan brosur di rumah mereka sendiri untuk dibagikan kepada sesama warga China. Praktisi Falun Gong di luar China telah menciptakan firewall untuk menembus blokade internet rezim komunis China. Dengan aliran informasi baru, lebih 105 juta orang China keluar dan meninggalkan keanggotaan PKC dan organisasi afiliasinya.
Ribuan pejabat pemerintah dari berbagai Negara di seluruh dunia telah mendukung solidaritas dengan Falun Gong. Jutaan orang di seluruh dunia telah menandatangani petisi dan surat yang ditulis menyerukan untuk mengakhiri penganiayaan ilegal dan untuk menyeret mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.
Meskipun 10 tahun lalu itu masih terasa seperti baru kemarin. Jantung saya terasa keluar dari dada ketika saya berlari mencari becak di Beijing kembali ke hotel saya. Sementara Lapangan Tiananmen memudar di belakang saya. Satu-satunya pertanyaan saya: Apakah kami sukses ataukah kami gagal?
Sepuluh tahun kemudian saya merasa sangat terhormat telah berdiri dengan praktisi lain menentang tirani demi orang lain.
Sepanjang sejarah pertempuran antara kebaikan dan kejahatan telah dimainkan dalam cerita menakutkan dan inspiratif. Garis telah ditarik di pasir yang tak bisa dihitung. Hari ini kita masih menyimpannya dalam hati paling dalam keinginan semakin banyak orang akan berdiri di sisi kebenaran. (EpochTimes/man)
Joel Chipkar adalah broker real estate dan advokat hak asasi manusia yang tinggal di Toronto, Kanada.