|

Foto-foto Gaya Revolusi Besar Kebudayaan Mengungkapkan Penumpasan Orang-orang Tibet
Berita tragis kasus bakar diri ke-12 seorang biarawan Tibet di China tahun ini diterbitkan bersamaan dengan foto yang dipasang di beberapa situs web menunjukkan bagaimana pasukan keamanan China telah menindak warga Tibet, mengingatkan mereka pada Revolusi Kebudayaan.
Tenzin Phuntsok (46), seorang mantan biksu Tibet, masuk rumah sakit setelah membakar diri pada 1 Desember. Ini adalah kasus bakar diri pertama di wilayah otonom Tibet, dan kasus ke-12 di China tahun ini.
Phuntsok bakar diri di daerah Chamdo Tibet untuk memprotes penangkapan lebih dari 70 biksu oleh pihak berwenang China dari Biara Karma Tibet, menurut Radio Free Asia (RFA).
Pihak berwenang China menuduh kuil ini menyebabkan ledakan di Kota Karma pada akhir Oktober dan menangkap lebih dari 70 biksu, lebih banyak dipaksa untuk melarikan diri ke pegunungan, Sang Jey Kep, editor Buletin Tibet, yang diterbitkan oleh Pusat Administrasi Tibet di Dharamsala, India, mengatakan kepada RFA. Tenzin Phuntsok bakar diri untuk memprotes kontrol ketat otoritas China atas kuil dan daerah itu, kata Sang.
Sang Jey Kep mengatakan polisi memadamkan api dan mengirimnya ke rumah sakit Tenzin Phuntsok, namun kondisinya saat ini tidak jelas.
Sejak Maret 2011, 12 biksu atau biksuni Tibet telah melakukan bakar diri untuk memprotes kebijakan represif Beijing di Tibet. Setidaknya 6 orang telah meninggal.
Dalam wawancara dengan BBC China, Lobsang Sangay, Perdana Menteri Pemerintah Tibet di pengasingan, mengatakan bakar diri terakhir mencerminkan protes keputusasaan Tibet di bawah pemerintahan rezim komunis China.
Pihak berwenang China telah menerapkan serangkaian tindakan represif di biara-biara Tibet, termasuk memaksa para biarawan untuk mengkritik Dalai Lama, kata Sangay.
Rezim komunis China telah menuduh Dalai Lama mendukung dan mendorong orang-orang untuk bakar diri. Tapi Sangay membantah tuduhan itu, mengatakan bahwa baik Dalai Lama dan pemerintah Tibet di pengasingan telah jelas kecewa akan peristiwa bakar diri itu. Sangay mengatakan ia berharap bahwa diplomat dan media internasional akan dapat mengunjungi beberapa biara untuk melakukan investigasi.
Penumpasan Gaya Revolusi Kebudayaan
Sejak protes bulan Maret tahun 2008, wilayah ini telah berada di bawah pengawasan keamanan ketat dan wartawan asing dilarang bepergian ke wilayah otonomi Tibet secara independen atau daerah-daerah Tibet dari Provinsi Sichuan.
Mulai 2 Desember, beberapa situs, termasuk Free Tibet dan Voice of Tibet, telah menampilkan foto-foto yang menunjukkan pasukan keamanan China menghukum dan menindak orang-orang Tibet. Menggunakan cara-cara mempermalukan mereka dimuka umum sama dengan cara-cara yang digunakan selama Revolusi Kebudayaan.
Foto-foto menunjukkan para biksu Tibet dengan dipaksa menundukkan kepala, dan dengan plakat di dada mereka dengan nama mereka dan kejahatan yang dituduhkan, yaitu "separatis" atau "berkumpul untuk menyerang lembaga-lembaga negara," saat dikawal pergi oleh polisi China.
Situsnya tidak memberikan sumber foto-foto ini, kecuali untuk backchina.com, yang menunjukkan bahwa foto-foto dari forum militer China.
Free Tibet menampilkan foto yang telah diterbitkan pada Boxun.com, sebuah situs web berbahasa Mandarin yang berbasis di AS. Artikel Boxun mengatakan bahwa foto-foto diambil di daerah otonom Tibet Kandze daerah otonom Ngaba Provinsi Sichuan. Foto-foto awalnya telah diposting di forum militer China.
Voice of Tibet menerbitkan foto-foto yang sama dari penulis blog Tibet dan aktivis Tsering Woeser, yang telah mereka terbitkan. Woeser mengatakan foto-foto warga Tibet itu ditangkap karena tuduhan "separatisme" atau "berkumpul untuk menyerang lembaga-lembaga negara," tuduhan yang sama yang digunakan rezim komunis China ketika mereka menangkap wargaTibet awal tahun ini.
Woeser memberi tanggal pada foto-foto tersebut baik pada 2011 atau pada 2008, setelah protes di bulan Maret. Dia mengatakan, dilihat dari tanda-tanda jalan dan lanskap, foto-foto yang paling mungkin diambil di Kota Ngaba Provinsi Sichuan, di mana delapan biksu Tibet dan satu biarawati telah bakar diri.
Menurut Woeser, dari Maret 2008 sampai 17 Oktober 2011, 34 orang Tibet di prefektur otonom Ngaba telah meninggal baik karena bakar diri atau karena dipukuli dan disiksa oleh pasukan keamanan China. Tiga ratus biksu dari Biara Kirti di Ngaba ditangkap setelah protes 16 Maret 2008, di mana seorang biarawan Tibet muda juga bakar diri dan akhirnya meninggal. 619 lainnya ditangkap dan 108 dipenjara. (EpochTimes/man) |