|

Pelaksanaan eksekusi dari 15 orang dalam satu hari di Kota Changsha, ibukota Provinsi Hunan selatan China, telah memicu kontroversi di kalangan masyarakat China.
15 orang itu dihukum mati karena dituduh melakukan kejahatan pembunuhan, perampokan, dan peledakan di sebuah kantor Pajak Administrasi Negara cabang kotapraja Changsha pada 30 Juni 2010. Menurut media China, mereka "penjahat yang serius mengancam keamanan publik."
Hukuman mereka diumumkan di sebuah pertemuan publik pada 29 Desember 2011 di stadion Universitas Hunan di Changsha. Para tahanan sebelum dibawa pergi untuk di eksekusi dipamerkan dan dipertontonkan di sekitar stadion yang penuh orang-orang dari semua lapisan masyarakat, media China melaporkan.
Pemerintah setempat mengatakan mereka menyelenggarakan tontonan ini untuk "membuat jera pada kegiatan kriminal." Namun tontonan tersebut mengundang kecaman keras dari publik.
Seorang sarjana China, yang minta tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada The Epoch Times: "Hukuman mati adalah hukuman berat yang harus ditangani secara hati-hati. Bagaimana bisa 15 hukuman mati dijatuhkan dan dilaksanakan pada hari yang sama?"
Pengacara hak asasi manusia Changsha Tang Jitian mengatakan kepada jaringan independen televisi China, New Tang Dynasty (NTD) TV, bahwa pihak berwenang mengadakan acara untuk publikasi. Tapi memamerkan para tahanan di depan umum adalah pelanggaran hukum dan hak-hak para tahanan dan anggota keluarga mereka.
"Hal ini mirip dengan gerakan perjuangan kelas dari masa lalu, yang mengejar balas dendam dan hukuman. Namun, melaksanakan hukuman harus menunjukkan perlindungan hak asasi manusia, daripada mencari efek sensasional sementara," kata Tang.
"Memamerkan tahanan di depan publik adalah intimidasi dari orang-orang dan menginjak-injak hukum," posting salah satu dari hampir 10.000 tampilan halaman pada sebuah forum populer di internet.
Sebuah blog, berjudul Kembalinya Era Revolusi Besar Kebudayaan dalam semalam di Changsha, berkata: "pengadilan umum dan memamerkan para tahanan tidak sesuai dengan masyarakat yang beradab yang menerapkan aturan hukum, tetapi itu telah menjadi semakin sering [di China] selama beberapa tahun terakhir tahun."
Blogger Xiaohe menulis, "sudah cukup untuk para tahanan diarak di depan umum, namun mereka bahkan melakukannya di sebuah kampus."
Foto-foto yang dipublikasikan pada media China menunjukkan semua 15 tahanan mengenakan syal di leher mereka. Satu blogger bertanya-tanya, "apakah ada sesuatu di dalam syal yang mereka kenakan untuk menahan leher mereka sehingga mereka tidak akan meneriakkan kata-kata keadilan?"
Blogger lain bertanya, "kenapa tidak ada pejabat yang korup dieksekusi?"
Perkiraan eksekusi di China berjumlah ribuan sampai puluhan ribu setiap tahunnya.
Menurut sebuah laporan Amnesty International 2010, rezim komunis China mengeksekusi lebih banyak orang setiap tahun dari keseluruhan eksekusi mati di dunia, tetapi tidak mengumumkan jumlahnya kepada publik.
Claudio Cordone dari Amnesty berkata, "tidak ada orang yang dihukum mati di China menerima pengadilan yang adil sesuai dengan standar internasional hak asasi manusia."
Sebuah sisi gelap dari sejumlah besar eksekusi di China adalah pengambilan organ dari para tahanan yang dieksekusi. China telah mengaku mengambil organ dari tahanan eksekusi mati, tapi sangat sedikit tentang praktek ini muncul dalam berita. Tahanan yang dieksekusi diyakini menduduki jumlah dua-pertiga dari semua transplantasi, menurut sebuah artikel di bioedge.com.
David Kilgour, mantan anggota parlemen Kanada dan David Matas, seorang pengacara hak asasi manusia terkemuka, menyatakan dalam laporan investigasi independen mereka dan sebuah buku berjudul “Bloody Harvest,” bahwa puluhan ribu tahanan Falun Gong tawanan hati nurani telah di eksekusi, organ mereka dipanen dijual ke pasien-pasien China dan apa yang disebut "wisata transplantasi.”
Industri transplantasi organ China telah mengalami booming, dengan waktu tunggu organ yang sangat singkat dan dimuat iklannya pada website rumah sakit China tak lama setelah tahun 1999, tahun dimulainya penganiayaan terhadap Falun Gong di China dimulai. (EpochTimes/man) |