|

Dua pejabat tinggi dalam Partai Komunis China (PKC) bersekongkol untuk mengganjal naiknya Xi Jinping ke puncak partai dan untuk menguasai pasukan keamanan untuk memaksa Xi menyerahkan kekuasaan, menurut sebuah situs aktivis terkemuka mengutip sumber dari orang dalam.
Informasi tentang rencana rahasia itu mungkin diserahkan oleh Wang Lijun, mantan Wakil Walikota Chongqing kepada pejabat konsuler AS di Chengdu yang menyebabkan maraknya kabar dengan upaya pembelotan baru-baru ini.
"Wang Lijun sedang diperiksa di Beijing, ia mungkin sudah menyerahkan informasi tentang rencana rahasia Zhou Yongkang dan Bo Xilai akan mengganjal Xi Jinping mengambil alih kekuasaan," tulis Boxun.
Wang Lijun adalah tangan kanan Bo Xilai, bos Partai komunis megalopolis Chongqing. Zhou Yongkang adalah kepala pasukan keamanan Partai Komunis. Xi Jinping adalah Wakil Ketua RRC, dan saat ini sedang mengunjungi Amerika Serikat.
"Mereka telah mempersiapkan rencana lengkap untuk menyerang Xi," kata artikel Boxun, berdasarkan sumber-sumbernya, yang digambarkan sebagai sangat rahasia. "Rencana ini akan dilancarkan setelah Tahun Baru China. Yang akan mengumumkan berbagai tuduhan dan kritik tentang Xi melalui media luar negeri. Ini akan melemahkan kekuatan Xi, dan membantu Bo untuk mendapatkan posisi Sekretaris Komite Politik dan Legislatif."
Tahun Baru China berlangsung dari 23 Januari - 6 Februari tahun ini. Wang Lijun tiba di konsulat AS di Chengdu pada malam 6 Februari dengan menyamar.
Situs Boxun dijalankan oleh para aktivis demokrasi China di luar negeri dan aktivis HAM. Rumor beredar online bahwa orang dalam Partai yang menentang Bo Xilai mungkin menggunakannya sebagai saluran untuk membocorkan informasi sensitif tentang intrik antar Partai.
Situs ini adalah yang pertama mempublikasikan berita pembelotan Wang Lijun dengan 70 mobil polisi lapis baja mengepung konsulat AS di Chengdu pada 6 dan 7 Februari semuanya kemudian dikonfirmasi benar.
Komite Politik dan Legislatif adalah organ kunci kekuasaan Partai Komunis yang bertugas atas pengadilan, Kejaksaan, dan pasukan keamanan di China, termasuk polisi.
"Sekali Bo mengambil kontrol dari polisi bersenjata dan sistem keamanan publik, ia akan memaksa Xi menyerahkan kekuasaan," kata artikel Boxun.
Boxun mengutip sumber-sumber yang mengatakan bahwa Wang Lijun mungkin menyerahkan bukti ini ke konsulat Amerika Serikat.
Pengungkapan oleh Boxun sebagian sama dengan klaim dilaporkan oleh Bill Gertz, seorang penulis keamanan nasional khusus dalam masalah China di situs Washington free beacon. Gertz menulis bahwa menurut para pejabat AS, Wang memberikan informasi tentang korupsi di kalangan pejabat tinggi, link Bo Xilai dengan kejahatan terorganisir, dan rincian tentang penindasan dari perbedaan pendapat di China.
Ulasan Gertz tentang sebuah "perdebatan sengit" antara pejabat kementrian senior Keamanan Negara dengan seorang pejabat senior Chongqing diluar konsulat AS di Chengdu, tentang siapa yang memiliki wewenang mengambil Wang, yang dikutip oleh seorang pejabat senior AS, juga sesuai dengan adegan yang dilaporkan oleh Boxun beberapa hari lalu, yang bersumber dari orang dalam partai komunis.
Gertz menulis bahwa, menurut sumber itu, Zhou Yongkang, tangan kanan keamanan partai komunis, telah mengambil kendali Chongqing dari Bo Xilai, dan tidak mengizinkan tindakan lebih lanjut atau investigasi terhadap Bo.
Gertz melaporkan bahwa Locke merekomendasikan Wang Lijun diberi suaka, tapi ditolak oleh Gedung Putih karena mereka tidak ingin mengganggu hubungan AS-China disaat kunjungan Xi Jinping di Amerika Serikat.
Wang dianggap telah membeberkan banyak informasi mengenai operasi dalam partai komunis, yang diketik dan ditelegram kembali ke Washington sepanjang malam. The Epoch Times hari ini melaporkan keterlibatan Wang kembali sejak 2006 - dalam pelaksanaan dan pengambilan organ dari tahanan, banyak di antaranya adalah para praktisi Falun Gong yang ditahan karena keyakinan mereka. (EpochTimes/man) |