Era Baru News >> China News & Culture >> China Update >> Memaknai Pasar Real Estate di China
Memaknai Pasar Real Estate di China Array Cetak Array  Surel
Ditulis oleh Liu Zhongliang   
Jumat, 22 Juni 2012 09:42

alt

Kenaikan harga perumahan di China disebabkan oleh kepadatan populasi pusat perkotaan dan kebijakan negara yang memburuk.

China telah mengalami peningkatan yang stabil dalam harga perumahan sejak reformasi pasar properti pada1998. Beberapa ahli berpendapat bahwa tingginya harga properti China merupakan produk dari populasi yang besar dan kebutuhan untuk mempertahankan lahan area pertanian yang besar, sehingga membatasi jumlah lahan yang tersedia untuk pengembangan real estat. Tapi konsep ini tidak benar. China hanya membutuhkan 1,07 miliar hektar dari total saat ini dari 1,8 miliar hektar lahan pertanian menjadi mandiri dalam produksi pangan. Selanjutnya, perkembangan perumahan di kota-kota menghabiskan lahan yang relatif sedikit. 

Peraturan Negara yang tidak efektif

Pihak berwenang China telah gagal dalam melaksanakan peraturan yang mencegah spekulasi dan akan membantu untuk mempertahankan pasokan sewa properti murah. 

Monopoli Tanah

Harga rumah yang melonjak juga ditimbulkan dari sistem kepemilikan tanah China, yang memberikan gubernur daerah memonopoli atas pasokan tanah. Para gubernur setempat membatasi pasokan lahan yang tersedia untuk pasar, menciptakan kekurangan secara artifisial yang memungkinkan mereka untuk menjual tanah dengan harga yang lebih tinggi. Harga tanah yang tinggi menyebabkan peningkatan biaya konstruksi dan harga perumahan.

Kebijakan Moneter dan Fiskal

Spekulatif investasi asing dalam jumlah besar telah mengalir ke China dengan harapan apresiasi mata uang bernilai lebih rendah. Ini termasuk investasi dalam properti, sehingga menaikkan harga properti. 

Selanjutnya, dalam menanggapi krisis ekonomi global 2008, rezim China meluncurkan 4 triliun yuan paket stimulus, sehingga memicu gelombang pengembangan properti spekulatif yang berlanjut pada peningkatan harga properti.

Kebijakan Ekspor dan Bursa Luar Negeri

Kapasitas produksi China yang berlebihan dan kebijakan ekspor keduanya mendorong ekspor yang menguntungkan, sehingga mengarah ke peningkatan basis moneter negara dan cadangan devisa. Uang yang beredar banyak telah mengakibatkan kelebihan likuiditas dan sehingga mendorong inflasi di China.

Pembatasan Usaha Swasta

Di China, perusahaan swasta yang terhambat dalam hal investasi modal dan pengembangan dalam banyak pembatasan, termasuk pembatasan pada bisnis swasta di sektor-sektor dimana BUMN memiliki posisi monopoli, pembatasan pembiayaan swasta dan berbagai pembatasan atas investasi modal dan manajemen dari perusahaan swasta. Selanjutnya, perusahaan-perusahaan ini dikenakan pajak dalam tingkat yang tidak masuk akal.

Kebijakan Satu Anak

Kebijakan satu anak China telah menciptakan situasi di mana kebanyakan orang tua China memiliki kemampuan finansial yang lebih dalam mendukung anak tunggal mereka.Sekarang, pasangan pengantin baru mampu memiliki rumah baru dengan dukungan keuangan kedua orang tua mereka. Hal ini semakin memberikan kontribusi permintaan akan  perumahan di pasar.

Jurang pemisah Kaya-Miskin

Kebijakan negara yang buruk telah menyebabkan masalah lain dalam masyarakat China, yang juga berkontribusi terhadap tingginya biaya perumahan.

Dengan kesenjangan pendapatan yang semakin besar antara si kaya dan miskin di China, mayoritas penduduk China telah mengadopsi gaya hidup konsumsi rendah. Ketika hal ini diperburuk oleh kurangnya jaminan sosial, orang menjadi lebih enggan untuk berbelanja. Hal ini mengakibatkan rendahnya permintaan domestik kecuali real estate, kontrasdengan produksi yang berlebihan di China. 

Orang kaya juga mulai berinvestasi lebih banyak dalam real estate, bukan investasi industri, saham dan futures, yang sekarang dianggap berisiko tinggi. Sebuah survei kekayaan China menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pemilik modal lebih memilih berinvestasi di real estate.

Korupsi

Dengan mengabaikan kesejahteraan warganya, pejabat lokal telah mengendalikan kota sebagai perusahaan swasta mereka, mengubah sejumlah besar keuntungan tidak sah. Mereka melakukannya dengan diam-diam untuk membantu proyek-proyek perumahan yang berhubungan dengan miliknya, di balik itu mereka diam-diam menentang segala perkembangan perumahan lainnya yang akan bersaing dengannhya.

Hal ini membatasi pasokan rumah baru, menaikkan harga rumah dan memungkinkan pejabat secara pribadi mendapatkan keuntungan atas penjualan properti mereka.

Alasan lain

Karena harga properti China tinggi, kebanyakan orang China tidak mampu memiliki rumah lebih dari tiga kamar tidur. Kini pengembang telah merubah strateginya untuk membangun unit yang lebih kecil, mereka dapat menjual dengan lebih mudah. Namun, membangun unit kecil meningkatkan harga per meter persegi dari properti. Hal ini juga meningkatkan kepadatan populasi daerah itu dan selanjutnya akan menaikkan harga perumahan di masa depan.

Harga rumah China sedang didorong ke atas oleh urbanisasi yang cepat dan spekulasi. Spekulan real estate terus membeli dan menjual properti untuk memperoleh keuntungan dengan mudah, mereka percaya bahwa akan selalu dapat menemukan pembeli untuk setiap properti. Namun, jika perekonomian menurun, peningkatan harga-harga perumahan menjadi tidak akan berkelanjutan.

Gelembung perumahan China pasti akan meledak. Bisa ditebak , akan ada dua kekacauan, dengan kemungkinan pertama terjadi antara tahun 2013-2015 dan yang kedua sekitar tahun 2025, setelah harga tidak akan pernah lagi kembali ke tingkat sebelumnya. 

Banyak orang China telah membeli real estate sebagai sebuah  "skema rumah-untuk-pensiun." Para investor ini sangat rentan.

Liu Zhongliang adalah seorang sarjana di Provinsi Hunan. Ia telah menulis kolom untuk NetEase, ifeng.com, SOHU.com, dan bokerb.com. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada 2011, Liu memberikan analisisnya mengenai penyebab di balik tingginya harga perumahan  China dan prediksi pasar perumahan masa depan China. Artikelnya diterima 360.000 hits di NetEase dan bokerb.com. 

Liu baru-baru ini mem-posting ulang artikel tersebut untuk memperingatkan akan risiko investasi di pasar perumahan China.(EpochTimes/suk)

 

Bagikan halaman ini ke :

|