| Seorang Kakek Uighur Ditahan Rezim China |
| Ditulis oleh Oleh: Shohret Hoshur/RFA | Selasa, 03 November 2009 |
|
Tursunjan Hesen (67), ditangkap 2 Juli lalu, menurut Juret, kepala desa Nogaytu, Dadamtu, kota Ghulja. "Saya tidak tahu mengapa ia ditangkap atau dimana ia kini berada. Anda dapat menanyakan kasus ini lebih banyak kepada pihak yang lebih tinggi," ujar Juret dalam sebuah wawancara. Polisi setempat menolak berkomentar atas kasus ini. Namun seorang tetangganya mengatakan ia ditahan pada penjara Yengihayat di Ghulja. Tetangga yang tidak mau disebutkan namanya itu, mengatakan bahwa ia telah mengunjunginya minggu lalu. "Keluarganya menerima pemberitahuan yang menyatakan bahwa Tursunjan Hesen ditangkap, karena ia dituduh membocorkan rahasia negara dan membahayakan keamanan negara," ujar tetangganya. Gangguan komunikasiWartawan RFA sedang mempelajari penahanannya Juli itu, saat-saat bentrokan mematikan antara etnis mayoritas Han China dengan minoritas Uighur, yang awalnya terjadi di provinsi Gungdong selatan kemudian meluas ke ibukota XUAR, Urumqi. Tidak ada konfirmasi lanjutan, ketika pihak berwenang China memberlakukan pemutusan hubungan telepon dan internet di seluruh wilayah itu. Ketegangan etnis antara Uighur pribumi yang mayoritas Muslim dan Han China memanas selama bertahun-tahun dan meletus dalam kerusuhan Juli lalu yang menewaskan sedikitnya 200 orang, menurut data pemerintah. Bentrokan pertama antara Han dan Uighur pecah pada 5 Juli. Dua belas orang telah divonis mati terkait kekerasan tersebut, yang merupakan pengalaman negara terburuk dalam beberapa dekade. Dihubungi lewat telepon melalui perantara di Timur China, salah seorang putera Tursunjan Hesen mengatakan ayahnya tidak dapat dihubungi karena "ayah saya berada di penjara." Diberitahu yang menelepon itu adalah seorang wartawan, anaknya menjawab,"Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda, kami dilarang berbicara kepada wartawan....Kami juga dilarang menerima telepon dari orang asing." Perhatian media internasional dan intervensi tingkat tinggi AS mendesak China untuk membebaskan puteri Tursunjan Hesen, Arzigul Tursun, dari rumah sakit tempat ia dijadwalkan menjalani aborsi paksa. Desakan terhadap penguasa China atas kasus Tursunjan Hesen datang dari dua anggota Kongres Amerika dan duta besar Amerika di Beijing untuk menghapus aborsi paksa dari kehamilan yang direncanakan. Kebijakan satu keluarga satu anak di China hanya berlaku bagi mayoritas Han China dan mengijinkan etnis minoritas, termasuk Uighur untuk memiliki anak tambahan. Bagi petani diijinkan memiliki tiga anak sedangkan penduduk kota dua anak. Namun karena Tursun seorang petani sedangkan suaminya dari kota Gulja [China, Yining], maka status mereka belum jelas. 'Putera Amerika'Dalam sebuah wawancara telepon Mei lalu, sebelum ia ditangkap, Tursunjan Hesen mengatakan para tetangganya menyebut cucu lelakinya itu sebagai "bayi Amerika" karena ia lahir atas intervensi Amerika terhadap pemerintah China. "Ia tumbuh sehat dan menyenangkan, tetangga kami menyebutnya 'anak Amerika'," ujar Tursunjan Hesen. "Sebenarnya terdapat sekitar 3.000 bayi laki-laki dan perempuan 'Amerika' yang lahir di Xinjiang selama bulan itu," ujarnya. "Polisi menginterogasi saya sedikitnya 20 kali selama enam bulan terakhir---suatu ketika mereka menyalahkan saya, dengan mengatakan saya yang bertanggung jawab bagi setidaknya 3.000 bayi yang lahir diluar kuota pemerintah pada keluarga yang tidak mematuhi perintah aborsi China." "Mereka berulang-kali bertanya kepada saya atas informasi yang saya beberkan kepada media asing tentang Arzigul. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak tahu, saya tidak memiliki akses internet dan dalam keluarga saya tidak ada yang tahu cara mengakses internet." Pada Maret 2009, beberapa petugas bentrok dengan sekelompok wanita menuntut hak mereka di Aradamtu, tujuh wanita terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Polisi juga menginterogasi Tursunjan Hesen atas perseteruan tersebut, ujarnya ketika itu. Situs resmi Xinjiang China melaporkan bahwa di Kashgar, Hotan dan Kizilsu [China, Kezilesu], suatu wilayah yang hampir seluruh penduduknya orang etnis Uighur, dengan wanita diatas 49 tahun yang hanya memiliki satu anak berhak memperoleh ganti rugi sekitar 3.000 yuan ($ 440) dengan pasangannya yang juga menerima 600 yuan setiap tahun sesudahnya. Tiansan Net, situs resmi China melaporkan bahwa kebijakan pengendalian populasi di Xinjiang telah mencegah kelahiran sekitar 3,7 juta orang selama 30 tahun terakhir. Kebijakan satu anak sangat ketat diberlakukan di seluruh kota, namun hukuman bagi keluarga yang melebihi kuota mungkin lebih parah, termasuk kehilangan pekerjaan, penurunan pangkat, bahkan pemecatan dari partai, ungkap para ahli. (Radio Free Asia/sua) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Veto China—Rusia Dianggap Memberikan Lisensi Membunuh
- Lontong Jumbo Semarakkan Cap Go Meh
- Seorang Gamer Tewas Tergeletak di Kafe Internet
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Tahun Naga, Tahun Perubahan
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Pesawat Tanpa Awak Generasi II Siap Diluncurkan
- Cerita Tentang Einstein
- Apa yang Akan Terjadi 2012? (2)
- Para Pendukung Gaddafi Alami Siksaan dan Perkosaan di Penjara
- Cuaca Ekstrim Akibat Tekanan Rendah di Selatan Jawa
- Tragedi 6 Piring Lunturnya Hati Nurani
- Jangan Diperbudak Nafsu Pikiran
- Cerita Tentang Einstein
- Pemecah Batu yang Sombong
- Bagaimana Menghilangkan Kebiasaan Buruk?

Hongkong - Pihak berwenang di Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang, China (XUAR) telah menahan seorang lelaki etnis Uighur karena berbicara kepada media asing setelah perhatian internasional membantu puterinya terhindar dari aborsi paksa akibat kebijakan pengendalian populasi China.





Mozilla Firefox