David Matas: Menengok Kembali Hak Asasi Manusia
Ditulis oleh David Matas Jumat, 03 September 2010

Pernyataan berikut ini disampaikan oleh pengacara hak asasi manusia (HAM) David Matas pada penerimaan penghargaan Negev Award of Distinction 2010 dari Ben-Gurion University di sebuah pertemuan makan siang untuk penghargaan di Hotel Fairmount, Winnepeg, pada 26 Agustus 2010.

Semua kakek dan nenek saya datang ke Winnipeg sebelum Perang Dunia I. Ayah dari ayah saya, Simon, berasal dari Shtetl dekat Odessa pada 1900. Ayah dari ibu saya, Anna, datang dari Odessa, juga pada 1900. Rose, ibu dari ibu saya, datang dari Piatra Neamt, Rumania ke Omaha, Nebraska pada 1904. Ayah dari ibu saya, Max, datang dari Dvinsk di tempat yang sekarang menjadi Latvia, pada 1905. Orang tua saya lahir di Winnipeg dan begitu juga saya, pada Agustus1943.

Pada Agustus 1943, Holocaust (peristiwa pembantaian orang Yahudi oleh Nazi) sudah dilakukan hampir sekitar dua pertiga. Sekitar 4,5 juta orang Yahudi telah dibunuh. Kedepannya sekitar 1,5 juta orang Yahudi juga tetap akan terbunuh.

Pada bulan kelahiran saya, tahanan Yahudi di kamp kematian Treblinka berusaha untuk merebut kamp. Upaya itu gagal dan para tahanan melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Sebagian besar ditembak mati dari menara pengawas kamp atau tertangkap dan dibunuh.

Setelah invasi Nazi ke Rusia, setiap Shtetl dekat Odessa, termasuk salah satu dari tempat asal Simon, kakek saya, dilenyapkan. Kota Odessa, tempat nenek saya Anna berimigrasi, diperkirakan memiliki 180,000 orang Yahudi sebelum Perang Dunia II. Pada saat perang usai, mereka sudah tidak ada. Semua orang Yahudi telah melarikan diri, terbunuh ataupun dideportasi.

Piatra Neamt di Rumania, rumah tua nenek saya Rose, memiliki populasi Yahudi sebelum Perang Dunia II sekitar 8.000 orang. Mereka selamat dari perang, tapi mengalami penyiksaan, pemerasan, penyitaan dan boikot paksa, wajib memakai bintang kuning, deportasi, dan tenaga kerja budak. Setelah Perang, hampir semua orang Yahudi meninggalkan tempat itu. Saat ini hanya tinggal beberapa ratus orang.

Populasi Yahudi Dvinsk, rumah kakek saya Max, sebelum Perang Dunia II adalah 45.000 jiwa. Orang-orang Yahudi Dvinsk yang ditembak dan dibunuh oleh pasukan pembunuh Nazi, Einsatzgruppen dan polisi pelengkap Latvia, dimakamkan di kuburan massal. Ketika Angkatan Darat Uni Soviet memasuki Latvia pada 1944, di seluruh negeri hanya ada beberapa ratus orang Yahudi.

Anti-semitisme yang menyebabkan Holocaust itu mengambil bentuk yang paling kejam di Eropa, tapi ia memiliki pengikut dan orang yang mempraktekkannya di mana-mana. Di Winnipeg selama masa awal kanak-kanak saya, Universitas Manitoba memiliki kuato bagi orang Yahudi untuk memasuki sekolah kedokteran. Tidak mungkin bagi orang Yahudi untuk membeli properti di lingkungan Tuxedo. Yahudi tidak bisa bergabung dengan Club Manitoba atau St. Charles Golf dan Country Club. Pantai Victoria terlarang. Tidak ada orang Yahudi yang memiliki perusahaan besar di Winnipeg.

Saat saya tumbuh dewasa, kabut dari Holocaust terangkat. Diskriminasi terhadap orang Yahudi dihancurkan. Orang-orang sejaman saya menolak kefanatikan orang tua mereka.

Namun saya tahu itu bukanlah perilaku aneh perang, tapi kenyataan bahwa Sekutulah yang memenangi peperangan, bukan kekuatan Axis. Jika tidak, bukan hanya saya, tapi tidak ada satu orang Yahudi pun yang akan hidup hari ini. Dari usia delapan tahun, saya sudah tahu saya ingin melakukan sesuatu tentang Holocaust. Selama bertahun-tahun, itu menjadi jelas bagi saya bahwa sesuatu akan mencoba untuk mempelajari pelajaran dari Holocaust dan bertindak terhadap mereka.

Pelajaran yang telah saya petik dari Holocaust adalah perlu untuk membawa para pembunuh massal ke pengadilan, melarang pidato kebencian, melindungi pengungsi, dan tidak pernah diam terhadap pelanggaran hak asasi manusia, dimanapun itu terjadi. Dari pelajaran-pelajaran ini, saya telah terlibat dalam pekerjaan hak asasi manusia, untuk bergabung dengan perjuangan hak asasi manusia dengan empat front terkoneksi. Dalam memerangi empat front ini, saya harus melawan empat musuh yang berbeda dengan mondar-mandir di seluruh medan pertempuran hak asasi manusia.

Keempat penumpang kuda pembawa kiamat yang diciptakan manusia sendiri adalah ketidakacuhan, absolutisme, kemunafikan, dan ketidakberdayaan. Ketidakacuhan telah menjadi lawan utama yang membawa para penjahat perang Nazi di Kanada ke pengadilan. Ketika orang-orang sendiri menjadi korban atau korban potensial dari pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia, adalah sangat mudah untuk mendapatkan perhatian. Dimana korban-korban yang lain, semuanya terlalu banyak orang, sayangnya mereka tidak melakukan apa-apa.

Perjuangan saya untuk memiliki undang-undang tentang pidato kebencian telah menuntun saya ke pertempuran dengan absolutism, keyakinan bahwa salah satu hak asasi manusia, hak untuk kebebasan berekspresi, mengalahkan yang lain. Dari semua pelajaran yang dapat dipelajari dari Holocaust, adalah tidak ada yang lebih penting daripada kebutuhan untuk melarang pidato kebencian, karena dengan pelarangan dari pidato kebencian itu, jika efektif, akan mencegah terjadinya kekejaman-kekejaman.

Kemunafikan, menerima nilai-nilai hak asasi manusia pada prinsipnya dan pelanggaran dalam praktek, adalah terilustrasi dengan baik dalam lingkungan para pengungsi. Secara prinsip Amerika memberikan perlindungan kepada pengungsi. Namun, berbagai teknik, termasuk aplikasi yang sempit dari definisi pengungsi, penyangkalan terhadap keadilan dalam prosedur penetapan, perlakukan kasar terhadap para pengungsi yang menunggu keputusan, skeptisisme yang berlebihan, dan pelarangan, semuanya berarti bahwa pada prakteknya komitmen untuk melindungi pengungsi pada prinsipnya telah sering digabungkan dengan penolakan terhadap perlindungan pengungsi.

Pembalasan keadilan HAM  keempat saya adalah ketidakberdayaan, perasaan akan pelanggaran hak asasi manusia sangatlah besar sampai tidak ada yang dapat dilakukan untuk mereka. Namun, kecuali individu-individu menjunjung tinggi hak asasi, hak-hak ini adalah terbelenggu sampai layu.

Akhir-akhir ini saya telah menghabiskan banyak waktu memerangi penganiayaan terhadap Falun Gong. Malam ini aku terbang ke Melbourne, Australia, untuk berbicara di Konferensi PBB minggu depan mengenai subjek ini.

Falun Gong adalah satu set latihan sederhana dengan dasar spiritual yang dimulai di China pada 1992 dan dilarang pada 1999. David Kilgour dan saya telah menyimpulkan (pertama dalam sebuah laporan yang dirilis pada Juli 2006 dan diperbarui pada  Januari 2007, dan kemudian dalam sebuah buku berjudul Bloody Harvest yang dirilis pada bulan November 2009) bahwa Falun Gong telah terbunuh puluhan ribu di China sehingga organ-organ mereka dapat dijual pada pasien-pasien transplantasi.

Salah satu alasan saya aktif dalam memerangi pelanggaran hak asasi manusia terhadap praktisi Falun Gong adalah bahwa saya bukanlah orang China, bukan praktisi Falun Gong. Saya bisa mengatakan yang sama tentang keterlibatan saya melalui Beyond Borders dalam memerangi pelecehan seksual anak internasional. Anak-anak tidak dapat diharapkan untuk memerangi pelecehan terhadap diri mereka sendiri. Adalah orang dewasa yang harus berbicara untuk mereka. Membela hak asasi manusia artinya menembus melalui batas-batas bahasa, budaya, geografi, agama, jenis kelamin dan umur, untuk menegaskan bahwa kemanusiaan adalah sama untuk kita semua.

Pelajaran yang telah saya tarik dari Holocaust adalah, pikiran naif, adalah lebih menghargai yang lain-lain daripada kepada komunitas Yahudi, yang saya percaya, telah menderita semua yang bisa mereka terima. Saya terkejut dan ngeri melihat beberapa tahun terakhir ini muncul serangan terhadap orang-orang Yahudi di seluruh dunia.

Ideologi anti-semitisme telah bergeser. Ia telah menambahkan elemen baru dan kuat, Yahudi sebagai populasi kriminal karena merasa mereka mendukung kriminalitas mistis negara Yahudi.

Kebencian terhadap orang Yahudi selalu menjadikan korban komunitas Yahudi. Tapi, sebelum Perang Dunia II, kebanyakan non-Yahudi adalah ditinggal tidak disentuh.

Dengan Nazi, yang telah merubah secara dramatis. Ideologi pemusnahan antisemitisme dari Nazi Jerman, keputusan rezim Nasi untuk membunuh orang Yahudi di mana-mana, diendapkan, dilanjutkan dan berkepanjanan selama Perang Dunia II.

Perang Dunia II adalah kehilangan masyarakat Yahudi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata lagi. Tapi perang itu juga merupakan sebuah bencana dan tragedi bagi seluruh planet. Total korban selama Perang Dunia II adalah 62 juta - 25 juta militer dan 37 juta sipil. Tiga puluh satu juta warga sipil non-Yahudi tewas dalam Perang. Kebencian terhadap orang Yahudi telah menyeret seluruh dunia ke bawah.

Setelah Perang, kerusakan berkelanjutan. Sekutu, termotivasi oleh keinginan untuk membawa dan menjaga Jerman Barat pada Perang Dingin, menghapuskan Pengadilan Nuremberg pada 1984, jauh sebelum pekerjaannya dilakukan.

Supaya kekebalan melawan Nazi menjadi efektif, haruslah komprehensif. Kekebalan itu menjadi lisensi bagi satu genosida ke genosida lainnya. Ada hubungan langsung antara kekebalan yang diberikan pada para pembunuh massal Nazi setelah Perang Dunia II dan tampaknya ada cucuran tak berujung dari kejahatan-kejahatan Pusat Perang melawan kemanusiaan di Rwanda, Kamboja, Bosnia, Sudan dan tempat lain.

Anti Zionisme (Israel), wajah baru anti-semitisme, kebencian terhadap negara orang Yahudi, penolakan terhadap Yahudi sebagai seorang manusia dengan hak untuk menentukan nasib sendiri, menyajikan dinamis yang mirip dengan anti-semitisme dari abad terakhir. Para pendukung Anti-Zionisme adalah api-api dari terorisme global. Penyebaran racun dari rezim di Iran, yang telah banyak diperangi oleh Irwin Cotler, adalah dicampur dengan anti-Zionisme.

Anti Zionisme menghancurkan Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Komisi itu telah menjadi begitu jelas menjadi Komisi yang memukul Israel yang keberadaannya menjadi tidak begitu jelas. Penggantinya, Dewan  Hak Asasi Manusia PBB, juga mengalami penghancurkan diri sendiri yang sama.

Para pelanggar hak asasi manusia menghindari akuntabilitas dengan mengalihkan perhatian dari pelanggaran-pelanggaran mereka terhadap Israel. Anti-Zionisme telah menambah penderitaan korban-korban pelanggaran hak asasi manusia di mana-mana.

Masyarakat korban telah bereaksi terhadap kekejaman Perang Dunia II dengan menciptakan standar-standar hak asasi manusia internasional, organisasi, dan institusi. Akan tetapi, ini bukan hanya korban saja yang beradaptasi.

Para pelakunya juga beradaptasi. Para pelaku telah menyesuaikan kosakata hak asasi manusia dan menyerbu organisasi dan institut hak asasi manusia, membuatnya sendiri.

Apakah hak asasi manusia hanya sementara dan kewalahan menghentikan perbedaan dalam perjuangan antara para pelaku dan korban? Saya berpikir tidak.

Standar-standar hak asasi manusia, organisasi, dan institusi adalah sebuah warisan dari Holocaust. Kita berhutang kepada warisan itu untuk melakukan apa yang dapat kita perbuat supaya sistem kerja hak asasi manusia ini bisa berjalan.

Memerangi pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia secara keseluruhan dari hari ke hari, tahun ke tahun adalah tugas yang menakutkan. Sebuah penghargaan seperti kali ini, kehadiran anda, apresiasi untuk berbicara, mendorong saya untuk melanjutkan usaha ini. Saya berterima kasih kepada kalian.

Terlepas dari semuanya, kami, komunitas dari para korban, masih di sini. Kami hidup, kami ingat. Kami berkata, “Jangan pernah lagi!” (EpochTimes/khl)

David Matas adalah pengacara hak asasi manusia internasional yang berbasis di Winnipeg, Manitoba, Kanada.