PFOFG Desak Harper Angkat Isu Perampasan Organ di China
Ditulis oleh Oleh: Cindy Chan Sabtu, 21 November 2009

Ottawa - David Matas dan David Kilgour penulis buku 'Bloody Harvest: The killing of Falun Gong for their organs.' mendesak Perdana Menteri Stephen Harper untuk mengangkat masalah perampasan organ ilegal dari pengikut Falun Gong dengan pihak berwenang China pada saat lawatannya ke China mendatang.

David Matas and David Kilgour, bergabung bersama anggota parlemen Borys Wrzesnewskyj dan James Lunney pada konferensi pers di Parlemen Hill Senin (16/11) pagi untuk peluncuran buku baru mereka.

Mr. Wrzesnewskyj dan Mr. Lunney yang mewakili Parlemen Friends of Falun Gong (PFOFG), sebuah kelompok dari semua partai terdiri dari anggota parlemen dan senator yang memberikan dukungan kepada para praktisi Falun Gong yang telah mengalami satu dekade penganiayaan oleh rezim komunis China.

"Saya akan mendorong perdana menteri untuk mengangkat masalah ini," kata Mr. Matas, seorang pengacara hak asasi manusia internasional dan penerima penghargaan 'Order of  Kanada 2008.'

"Hal ini bukan hanya kepedulian kami. Ini juga menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)."

Penyelidikan yang dilakukannya bersama dengan Mr. Kilgour, seorang mantan Jaksa Agung dan mantan Sekretaris Negara untuk Asia Pasifik, menyimpulkan bahwa setelah penindasan terhadap Falun Gong dimulai tahun 1999, rezim China memulai perdagangan organ ilegal yang menewaskan puluhan ribu praktisi Falun Gong yang dipenjara.

Mr. Kilgour dan Mr. Matas telah merilis dua laporan sebelumnya berdasarkan temuan mereka, laporan pertama dirilis pada bulan Juli 2006 dan yang kedua pada Januari 2007.

Sejak saat itu, pelapor PBB tentang penyiksaan dan penindasan terhadap agama, seperti Komite PBB melawan Penyiksaan, telah menekan China untuk menjelaskan ketidakcocokan antara volume translantasi yang besar dan sumber organ.

Dengan tidak adanya sistem donasi organ nasional, hingga mendekati  Agustus 2009, rezim mengatakan sumber organnya hampir seluruhnya berasal dari tahanan hukuman mati dan eksekusi.

"Masalahnya dengan penegasan tersebut bahwa frekuensi hukuman mati ini cukup konstan sebelum dan setelah penganiayaan dimulai, namun volume transplantasi melambung tinggi setelah penindasan dimulai," kata Mr. Matas.  

"Ada sekitar 41.500 transplantasi organ yang tak dapat dijelaskan berkisar 2001 dan 2006. Tanpa disadari para praktisi Falun Gong merupakan Bank organ untuk transplantasi ini ...," kata Mr Kilgour.

Dia mencatat bahwa menurut laporan pemerintah AS, setidaknya setengah dari tahanan pada kamp-kamp kerja paksa di China adalah praktisi Falun Gong.

"Kanada dan negara-negara lain harus melarang ekspor barang-barang produksi dari kamp kerja paksa China dengan undang-undang yang meletakkan tanggung jawab pada semua importir untuk membuktikan bahwa barang-barang tersebut tidak dibuat, oleh para tahanan," tambahnya.

Karena tawanan ini adalah sumber dari organ-organ, Mr. Matas mengusulkan agar Mr. Harper meminta China membicarakan perjanjian penolakan impor produk-produk kamp kerja paksa ke Kanada. Di samping itu, perlu ada jaminan bahwa perjanjian tersebut dilaksanakan dengan mengijinkan inspeksi ke kamp-kamp kerja paksa China.

Mr. Matas mengatakan, Amerika sudah memiliki semacam perjanjian dengan China tetapi belum diterapkan karena Amerika belum diizinkan untuk memeriksa kamp-kamp kerja paksa yang ada di China.

Mr. Wrzesnewskyj melihat masalah ini dalam sudut pandang sebagai konsumen. "Mengetahui apa yang saya ketahui, ketika saya mengambil suatu produk dan saya lihat bahwa label produk tersebut 'Made in China,' muncul sebuah kegelisahan," katanya.

"Anda tidak bisa menjaga hal-hal seperti ini rapat-rapat...Banyak orang baik di mana-mana, ketika mereka mengambil produk-produk itu dan mereka melihat labelnya, mereka akan memiliki kegelisahan serupa yang akan mempengaruhi China dengan jutaan cara yang mungkin tidak dapat dihitung."

Sebagai pejabat Kanada yang bernegosiasi perdagangan dengan China, ia bertanya, "Bagaimana anda bisa percaya terhadap sebuah negara yang terlibat dalam kejahatan mengerikan ini terhadap rakyatnya sendiri? Bagaimana anda bisa mempercayai mereka dalam hubungan kerjasama anda ketika anda mengetahui akan sumber daya utama perusahaan-perusahaan mereka? "

Banyak orang Kanada yang ingin melakukan perdagangan dan memiliki hubungan yang sehat dengan China, "ketika isu-isu ini beredar, hal ini akan membuat semua hubungan potensial tersebut dipertanyakan," kata Mr. Wrzesnewskyj.

Buku Kilgour-Matas mencakup rekomendasi kepada China serta negara-negara asing, profesional medis, perusahaan-perusahaan farmasi, legislatif dan instansi terkait untuk mencegah pengambilan organ paksa tersebut.

Salah satu rekomendasinya adalah memberlakukan hukum ekstra-teritorial membuatnya ilegal jika melakukan perjalanan ke negara lain untuk membeli organ-organ untuk transplantasi yang diperoleh tanpa izin.

Ini disebut "Wisata transplantasi " saat ini tidak dijadikan sebagai sebuah kejahatan di mana pun di dunia, tapi Mr. Wrzesnewskyj telah mengajukan rancangan ke Parlemen Kanada yang akan membuat hal itu menjadi suatu kejahatan ekstrateritorial.

Mr. Kilgour berencana untuk mengusulkan RUU ini ke Parlemen Eropa sebagai model untuk Uni Eropa.

'Kernel di pusat pelanggaran hak asasi manusia di China'

PFOFG mengadakan peluncuran buku baru dari buku Kilgour-Matas pada Senin sore di Parlemen Hill, ini merupakan kegiatan pertama kelompok tersebut sejak dibentuk bulan lalu.

Mr. Lunney menyamakan penganiayaan dan pengambilan organ praktisi Falun Gong dengan para korban Holocaust ketika indikasi, peringatan, dan kecemasan tersebut muncul, " bagaimanapun juga, kejahatan akhirnya terungkap dan dimengerti."

"Kami berharap peluncuran buku ini akan membuat dampak besar dan akan membantu menyebarkan berita bahwa kita tidak boleh berdiam diri," katanya.

Peluncuran buku ini diselenggarakan oleh Anggota Parlemen Bill Siksay, ketua PFOFG. Dalam acara ini hadir juga Mr. Wrzesnewskyj, wakil presiden dari kelompok PFOFG; Pemimpin Anggota Parlemen Scott Reid dan Anggota Parlemen Rob Anders; dan anggota lainnya Mr. Lunney dan Anggota Parlemen Irwin Cotler.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menyajikan analisis statistik dan faktual saat ini yang memperbarui laporan sebelumnya. Bagian kedua menceritakan tanggapan yang telah diterima para penulis dan usaha mereka untuk menganjurkan diakhirinya penindasan. Buku ini  juga berisi filosofis, penjelasan analitis tentang mengapa dan bagaimana penindasan terhadap Falun Gong terjadi dan apa yang penulis bayangkan pada masa depan.

Buku ini mengatakan kepada para pemimpin dunia dan orang-orang yang peduli: "akan penindasan terhadap Falun Gong dan semua kelompok lain yang menjadi korban."

Para penulis memberikan bukti yang berlimpah. Mereka melaporkan bahwa pembunuhan sewenang-wenang didokumentasikan dan hilangnya praktisi Falun Gong setiap tahun jauh melebihi total korban dari kelompok lainnya. Falun Gong mewakili dua pertiga dari korban penyiksaan dan setengah dari mereka ada di kamp-kamp kerja paksa. Praktisi dan tawanan dijatuhi hukuman mati adalah satu-satunya korban yang tewas karena organ mereka untuk transplantasi.

Buku tersebut berbicara seputar "mereka yang berusaha untuk menyenangkan China" atau "konflik" dan dengan demikian "mempertaruhkan moral." "Mereka terdiam karena mereka punya keluarga, kehidupan sosial, karier, finansial atau kepentingan bisnis, yang akan terancam bila menghadapi para pelaku. . . . Mereka menempatkan kepentingan pribadi di atas kemanusiaan."

Ada juga orang-orang yang tidak tahu, tulispara penulis. Hal ini karena rezim China mengabadikan kampanye global pelecehan, penindasan, spionase, pengekangan informasi, dan menyebar luaskan propaganda anti Falun Gong. Sementara rezim membuat setiap usaha untuk menghalangi informasi yang mengungkap penganiaaan tersebut.

Untuk mengcounter ketidakpedulian orang-orang yang tidak tahu, para penulis merekomendasikan "membuat setiap usaha untuk mewartakan kebenaran tentang apa yang sedang terjadi [di China], tidak mengambil kepercayaan apa pun yang berasal dari Pemerintah China tentang korban-korban mereka, dan tidak mengulangi apapun yang mereka katakan terhadap korban-korban mereka kecuali hal tersebut telah diverifikasi. "

"Tidak melakukan tindakan apapun berarti memberikan kontribusi pada penganiayaan terhadap orang-orang China," kata mereka. (Erabaru/EpochTimes/sri)