Kehidupan

Terong Mentah

article thumbnail Dahulu ada sepasang suami istri bersama-sama berkultivasi Budha. Mereka setiap hari  membakar dupa di altar Budha. Abu dari dupa jika dikumpulkan mungkin sudah...

Kesehatan

Mengenali Pikiran Anda

article thumbnail Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan (dan kesehatan mental) sebagai: “Kesehatan adalah kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang...

Iptek

Nebula Planet Menyerupai Pijar Hijau Mikro-organisme

article thumbnail Very Large Telescope milik European Southern Observatory telah menangkap gambar rinci IC 1295, sebuah nebula planet di konstelasi Scutum Shield.

Sejarah

Desa Maya yang Terkubur Menyingkap Wawasan Baru Pertanian Kuno

article thumbnail Sebuah desa Maya kuno yang terkubur dalam abu vulkanik selama berabad-abad telah mengungkapkan kebiasaan bangsa Maya merawat rumah, tanaman, dan kebun.

Pemimpin Rezim China Dipermalukan Tapi Tetap Diam PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Lin Zixu   
Senin, 14 May 2012 08:25

 

alt
Krisis segera melanda setelah Chen Guangcheng meninggalkan kedutaan besar AS, setelah negosiasi-negosiasi menegangkan antara rezim China dan pemerintah AS. Dengan disaksikan dunia, janji Hu Jintao bahwa Chen akan aman ternyata terbukti bohong oleh kepala keamanan China Zhou Yongkang, yang dengan sebuah tindakan yang diperhitungkan oleh Zhou untuk mempermalukan Hu dan sekutunya Perdana Menteri Wen Jiabao.
 
Setelah mengancam keluarga Chen, Zhou memutuskan komunikasi aktivis dan pengacara HAM tunanetra itu dari dunia luar.
 
Kemudian Zhou dan teman-temannya dari “Geng hutang darah” (mereka yang terlibat dalam penganiayaan terhadap latihan meditasi Falun Gong), termasuk kepala propaganda Partai Komunis China (PKC) Li Changchun, dan sekretaris PKC Beijing Liu Qi memobilisasi Beijing Daily dan surat kabar lainnya untuk me-label Chen sebagai alat yang digunakan oleh “kekuatan AS-anti China” untuk menfitnah China. 
 
Kemudian Menteri Pertahanan Liang Guanglie – yang dekat dengan Bo Xilai, kepala partai Chongqing yang terlengserkan dan sekutu Zhou – secara terbuka menantang sikap Hu atas Laut China Selatan dengan pidato-pidato yang menganjurkan penggunaan kekuatan bersenjata dalam konfrontasi yang sedang berlangsung dengan Filipina. 
 
Sementara Zhou Yongkang dan "geng hutang darah”-nya secara terbuka menantang Hu dan Wen, pemimpin dan perdana menteri itu tetap sepenuhnya diam. 
 
Sekarang tantangan tambahan bagi kepemimpinan pusat rezim China telah muncul dari daerah-daerah lain. 
 
Seorang dosen perempuan universitas di Beijing menggunakan internet untuk mengajak masyarakat untuk datang ke sebuah rapat umum di Lapangan Tiananmen untuk mendukung Bo Xilai. Kemudian para netizen berprofil tinggi China, termasuk seniman Ai Weiwei, memposting informasi di Weibo, micro-blog terbesar China, mengusulkan bahwa Wen Jiabao diharapkan untuk mengundurkan diri. Kemudian, ada desas-desus di Weibo bahwa para pemimpin dari berbagai provinsi melakukan pertemuan di Beijing, menunjukkan sesuatu yang besar sedang dikerjakan.
 
Dalam dua hari terakhir, telah muncul desas-desus bahwa Departemen Keamanan Publik ingin memutuskan koneksi warga China dari situs-situs di luar China. Akhirnya, sebuah gambar Jiang Zemin, mantan pemimpin dan pencipta “geng hutang darah” yang seharusnya memudar dalam pensiun dan pengaruh yang semakin berkurang, muncul dalam sebuah foto yang beredar online dengan CEO Starbucks. 
 
Peristiwa ini menandakan situasi tegang di Beijing, sebuah situasi yang menekan Hu dan Wen. Aksi diam dari kedua pemimpin mengartikan banyak hal, dan dari semua kemungkinan, Zhou hanyalah mempercepat kejatuhan dirinya sendiri. 
 
Selama enam bulan terakhir, Hu dan Wen telah mantap, tepat, dan kejam. Sementara secara lahiriah menyendiri, dan ketika mereka telah membuat sebuah tindakan, mereka pastilah berhasil.
 
Dalam insiden Chen Guangcheng, Zhou Yongkang mempermalukan Hu dan Wen di depan masyarakat internasional. 
 
Orang asing mungkin tidak tahu bahwa ada dua kekuatan yang berpusat di dalam Partai, mereka hanya tahu Hu dan Wen telah sepakat untuk melindungi Chen dan kemudian mereka tidak memegang janji. Menghadapi penghinaan seperti itu, jika Hu dan Wen tidak melawan kembali, mereka akan menderita jauh lebih buruk lagi.
 
Itu karena Zhou Yongkang saat ini berada dalam zona bahaya, terkekang oleh tindakan-tindakan yang dibuat Hu dan Wen untuknya. Jika Zhou mendapatkan kembali pijakan, ia pasti akan menyerang balik secara langsung, dan sangat mungkin dengan kekuatan yang mematikan. Bahkan sekarang, ketika Zhou menjadi lemah, ia terus mencari cara untuk melawan. 
 
Mengapa Hu dan Wen tidak melawan balik? Jangan percaya sejenak pun kalau itu dikarenakan mereka tidak memiliki kekuatan. Ada sedikit keraguan bahwa mereka hanya menunggu kesempatan yang tepat.
 
Tapi juga mungkin karena Hu dan Wen khawatir tentang stabilitas keseluruhan rezim dan ingin menjaga serangan-serangan mereka pada Zhou Yongkang secara tenang untuk memastikan PKC tidak runtuh. Bahwa ancaman sangatlah nyata mengingat fakta bahwa kader-kader paling senior rezim terpecah berat dan China diserang oleh kerusuhan meluas, gelembung perumahan, dan endemik korupsi.
 
Melihat tindakan Zhou Yongkang, sangat jelas jika Hu dan Wen mengambil langkah mundur, Zhou akan berani untuk mengambil tindakan lebih agresif. Hu dan Wen yang kehilangan muka hari ini, tapi mereka pasti tahu kalau mereka bisa kehilangan jiwa mereka besok – ini adalah kenyataan bagaimana PKC telah dioperasikan (tanpa proses atau transparansi) selama lebih dari 60 tahun berkuasa. 
 
Melalui kejadian Chen Guangchen, Zhou Yongkang kembali mempertunjukan metode-metode jahat dari “geng hutang darah” kepada dunia, dan kepada berbagai tingkat pejabat PKC yang dipimpin oleh Hu dan Wen. Bahkan jika Hu dan Wen tidak mengatakan apa-apa, para pejabat di PKC akan tiba pada kesimpulan bahwa Zhou Yongkang perlu diturunkan, jika tidak maka tidak akan ada masa-masa damai saat dia mengejar-ngejar sekutu lama Hu dan Wen dan melakukan segala upaya untuk memperkuat kekuasaannya sendiri. Mengingat sejarahnya sebagai kepala keamanan China yang brutal, tidaklah mungkin dia akan merenggangkan cengkeraman berdarah PCK terhadap rakyat China. 
 
Sudah pasti pendukung Hu dan Wen membangun kekuatan mereka sendiri. Daerah Militer Lanzhou menyatakan dukungannya terhadap Hu dan Wen dan seorang pendukung Hu-Wen baru saja memperoleh kendali atas Provinsi Jilin di timur laut China. Dalam waktu singkat, diharapkan Hu dan Wen mengambil tindakan, sementara itu tetap berdiam diri sampai mereka melakukannya. 
 
Tentu saja, Hu dan Wen mungkin khawatir tentang kelangsungan hidup PKC. Tapi dibandingkan dengan resiko kehilangan jiwanya, disintegrasi PKC seharusnya tampaklah sepele.
 
Pada kenyataannya, pada hari Hu dan Wen mengeluarkan Bo Xilai dari kantor, mereka mulai berjalan menyusuri jalan yang tidak bisa kembali lagi. Bo adalah penerus Zhou sebagai kepala keamanan, sekutu Zhou tahu dan tidak akan menyerang Bo atas daftar panjang kejahatannya, karena dia sendiri adalah seorang kaki tangan. 
 
Zhou Yongkang dan "geng hutang darah” akan berjuang sampai mati untuk kejahatan-kejahatan mereka, yang meliputi genosida, yang sedemikian rupa sehingga kejatuhan kekuasaan apapun juga akan menjamin eksekusi mereka. Mereka memiliki terlalu banyak untuk dijawab, dan China adalah penuh dengan kerusuhan dari warga-warga yang marah. Seseorang haruslah membayar, dan dalam hal ini tidak ada yang lebih bertanggung jawab daripada Zhou dan sekutu-sekutunya. 
 
Inilah sebabnya mengapa Hu dan Wen telah menahan diri dalam pertempuran dengan “geng hutang darah.” Nasib Zhou telah disegel oleh tindakannya sendiri, dan bahkan jika PKC jatuh dan partai baru didirikan, dukungan publik dan otoritas masih akan ada di sisi Hu dan Wen.
 
Tidak diragukan lagi, kedua pemimpin menghadapi tekanan yang luar biasa dan tidaknyaman, tetapi jika mereka tidak menyelesaikan jalan mereka, situasi mereka dan China bisa menjadi sangat berbahaya. (EpochTimes/khl)
 
Lin Zixu adalah komentator politik yang menulis secara teratur untuk The Epoch Times.
Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 16 May 2012 10:43
 

Cerita Budi Pekerti

Belajar dengan Tekun dan Tanpa Lelah

article thumbnail Selama Periode Negara Berperang sejarah Tiongkok, ada strategi politik yang disebut Su Qin (380-284BC). Meskipun keluarganya sangat miskin, ia bermimpi menjadi sukses bahkan ketika masih...