| Seni Kuliner Zaman China Kuno | Array Cetak Array | Surel |
| Ditulis oleh Tony Dai |
| Sabtu, 12 May 2012 22:44 |
|
Metode kuliner masyarakat China Kuno sangat berkaitan erat dengan kebudayaan mereka Pada saat periode awal dari Musim Semi dan Musim Gugur dari kebudayaan China, kira-kira berkisar antara abad ke-8 dan ke-5 SM, kebiasaan makan masyarakat China sangat dipengaruhi oleh “tata krama” ajaran Konfusius. Dalam buku klasik dari ajaran Konfusius, “Tata Krama”, dikatakan, pada saat makan, anggur dan sup harus diletakkan di sebelah kanan dari para tamu, dan makanan utama diletakkan di sebelah kiri. Makanan tidak boleh ditelan secara kasar, tetapi harus dikonsumsi dalam suapan kecil dan dikunyah dengan baik sebelum ditelan. Disebutkan juga apakah anda sedang makan sup ataupun makanan lainnya, tidak seharusnya membuat suara cecapan yang keras. Tata krama ini diberlakukan 2000 tahun yang lalu di China sebelum dunia Barat mulai memberlakukannya.
Sedangkan untuk metode memasaknya, berkembang sejalan dengan waktu, masyarakat mulai memperhatikan rasa masakan. Para terpelajar mulai mendefinisikan ulang mengenai cara memasak menjadi dua kategori yakni keahlian mengendalikan api dan kemampuan untuk mencampurkan rasa yang berbeda. Mereka bahkan mulai berpartisipasi secara langsung dalam memasak dan juga menciptakan banyak masakan yang nikmat. Suatu hari, Sun Simiao tiba di Chang An, sebuah kota pada masa China kuno yang sekarang dikenal sebagai Xi An. Dia memutuskan untuk makan di restoran yang khusus memasak usus babi. Ketika masakan tersebut disajikan, bau dari usus tersebut terlalu menyengat, sehingga tidak dapat dimakan. Sun Simiao berpikir sejenak. Beliau kemudian mengambil beberapa bumbu rempah-rempah seperti lada China, adas dan kayu manis dari labu yang dibawanya dan menyuruh pemilik restoran tersebut untuk memasak usus tersebut dengan rempah-rempah tersebut. Setelah itu, usus tersebut tidak lagi memiliki bau yang menyengat dan juga tidak berminyak, dan sangat lezat sekali. Pemilik restoran tersebut sangatlah gembira dan tidak ingin dibayar untuk masakan yang dimakan oleh Sun Simiao. Sebagai balasannya Sun Simiao memberikan rempah rempahnya kepada pemilik tersebut sebagai hadiah. Dari sanalah, restoran tersebut menjadi sangat sukses dan masakannya dipuji terutama masakan ususnya. Ketika ditanya apa nama dari masakan tersebut, pemilik restoran tersebut terpaku, dia kemudian melihat labu yang diberikan kepadanya dan menjawab,”kepala labu.” Kemudian dia menggantung labu tersebut di atas pintu masuk restorannya. Sejalan dengan waktu, “kepala labu” menjadi sangat terkenal dan sekarang menjadi masakan terkenal dari Xi An. Perdana Menteri Wei Zheng dari Dinasti Tang terkenal karena sering memberikan nasehat rahasia kepada kaisar. Suatu hari Kaisar Tang Taizong mendengar bahwa Wei Zheng sangat menyukai acar seledri. Dalam masakan yang diberikan kepada Wei Zheng, beliau secara spesifik memesan masakan tersebut untuknya. Wei Zheng menghabiskannya dalam waktu singkat segera setelah dia melihatnya. Kaisar tersenyum dan berkata,”Anda berkata bahwa anda tidak memiliki keterikatan, dan bukankah saya telah melihatnya saat ini?.” Wei Zheng dengan cepat berterima kasih kepada Kaisar,”Jika kaisar tidak memiliki sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan daripada bersentuhan dengan hal remeh temeh seperti itu, maka sebagai seorang pengikut, kita hanya dapat berkata bahwa kita menyukai hal hal yang umum seperti makan acar seledri.”
Perilaku Wei Zheng sangatlah rendah hati, tetapi berkata tajam. Kata-katanya adalah sebuah jawaban, akan tetapi juga berfungsi sebagai bantahan. Dia berharap Kaisar dapat melakukan hal-hal yang lebih besar seperti mendesak bawahannya untuk melakukan hal yang baik baik negara. Sebuah bendungan dibangun, yang bukan hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menambah keindahan panorama di danau. Untuk menunjukkan penghargaan mereka, masyarakat local mengirimkannya daging babi sehingga beliau dapat memasak makanan kesukaannya, daging babi rebus. Setelah menerima daging babi yang sedemikian banyak, Dongpo ingin membaginya dengan para pekerja yang membantunya menyelesaikan proyek itu. Beliau meminta kepada keluarganya untuk memotong daging tersebut dalam bentuk kotak-kotak, dan memasaknya dengan metode yang dia temukan yakni sedikit air, api yang kecil, dan dimasak dalam waktu yang lama.
Dengan cara ini, daging tersebut menjadi wangi, gurih dan lembut, tetapi tidak berminyak. Pekerja-pekerjanya sangat menikmatinya dan menamakan masakan tersebut sebagai “Babi Dongpo.” Masyarakat kemudian menjadikan kebiasaan memasak daging babi Dongpo pada perayaan makan malam menjelang hari raya Imlek untuk menyatakan penghormatan dan penghargaanya kepada Su Dongpo. |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!
- Parade Akbar New York Mengungkap Perjalanan Sejarah Falun Dafa
- Kelompok Pengacara HAM China Ditangkap Setelah Mengunjungi Pusat Cuci Otak
- Beban Hutang Negara Diatas Rp. 2000 Triliun
- Tikus Yongzhou
- Rahasia Tidur Nyenyak
- Hidup Kembali Dengan Mesin CPR, Setelah Meninggal 40 Menit
- Tanaman Bisa Saling Mendengar
- Pisau diatas Hati





Mozilla Firefox