Era Baru News >> Featured News >> Cermin Kehidupan >> Kepatuhan Raja Kepada Peraturan Negara
Kepatuhan Raja Kepada Peraturan Negara Array Cetak Array  Surel
Ditulis oleh Kan Zhong Guo staff   
Rabu, 08 Agustus 2012 07:36

alt

Hak asasi manusia harus melampaui peraturan manusia

Pada abad ke-18 di Potsdam, Jerman, sebuah istana sedang dibangun untuk Kaisar Jerman William I. Setelah pindah ke tempat tinggalnya yang baru, kaisar melihat keluar jendelanya untuk memandang pemandangan kotanya. Akan tetapi, kaisar terkejut mendapati bahwa pandangannya terhalangi oleh sebuah kincir kayu tua, sehingga beliau merasa galau.

Merasa merusak pemandangannya ke Potsdam dikarenakan kincir itu, William mengirimkan seseorang untuk bernegosiasi membeli kincir tersebut dari pemiliknya yang kemudian akan dirobohkan. Akan tetapi, pemiliknya menolak untuk menjualnya.

“Kincir ini adalah warisan dari keluarga saya, yang telah diturunkan dari generasi ke generasi,” demikian pemilik kincir tersebut menjelaskan dengan sabar.”Saya tidak akan mengizinkannya untuk dirubuhkan, tidak perduli seberapa besar uang yang ditawarkan pada saya.”

Setelah mendengar bahwa pemiliknya menolak tawarannya untuk membeli kincir tersebut, kaisar menjadi marah besar. Kaisar mengirimkan tentara dan memerintahkan mereka untuk merobohkan kincir tersebut dengan paksa.

Setelah kincir tersebut dirobohkan, pemilik kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan terhadap Kaisar. Secara mengejutkan, Kaisar dinyatakan kalah. Pengadilan memutuskan bahwa kaisar harus membangun kembali kincir yang serupa di lokasi yang sama, dan memberikan ganti rugi kepada pemilik kincir tersebut. Kaisar dipaksa untuk patuh kepada keputusan pengadilan.

Bertahun- tahun kemudian, setelah William I dan pemilik kincir tersebut meninggal dunia, anak dari pemilik kincir tersebut berada dalam kondisi ekonomi yang bangkrut karena salah mengelola keuangan. Dia kemudian menulis surat kepada kaisar yang berkuasa, Wilhelm II, mengajukan permohonan untuk menjual kincir tersebut.

Setelah menerima surat tersebut, Wilhelm II penuh emosi. Beliau merasa bahwa cerita kincir tersebut adalah sebuah simbol pengadilan negeri tersebut yang tidak memihak, dan simbol keadilan yang harus tetap dipertahankan selamanya.

Beliau kemudian menulis surat kepada anak pemilik kincir tersebut dan memintanya untuk tetap mempertahankan kincir tersebut, sehingga dapat tetap diturunkan kepada generasi berikutnya. Sebagai tambahan, Kaisar mendonasikan uang untuk membantunya membayar utang-utangnya.

Setelah menerima balasan suratnya, anak pemilik kincir tersebut sangat tersentuh. Dia memutuskan untuk tidak menjual kincir tersebut sehingga tetap menjadi kenangan dan peringatan akan sejarah dari kincir tersebut.

William Pitt, Perdana Menteri Inggris pada pertengahan abad ke-18, pernah berkata bahwa bahkan penduduk paling miskin sekalipun memiliki hak untuk mempertanyakan kekuasaan kaisar yang berkuasa demi mempertahankan rumah miliknya.

Meskipun rumah miliknya mungkin sebuah gubuk, yang tidak mampu bertahan terhadap serangan angin dan hujan lebat, bahkan seorang kaisar yang berkuasa tidak boleh menggusurnya. Dari cerita atas dipahami bahwa hak milik seseorang, apakah itu rumahnya atau bisnisnya, haruslah dilindungi terhadap segala bentuk kekuasaan tirani dengan cara apapun. (Jo)

 

Bagikan halaman ini ke :

|