Era Baru News >> Featured News >> Keluarga >> Keajaiban dari Es Krim
Keajaiban dari Es Krim Array Cetak Array  Surel
Ditulis oleh Era Baru   
Jumat, 17 Agustus 2012 00:35

alt

Anak saya Bob berusia 11 tahun, pada suatu hari pulang dari sekolah sambil menangis, karena dipukul oleh beberapa murid yang lebih besar dari dia di terminal bus.

Bob sekarang tidak berani pergi ke sekolah, saya telepon ke sekolah, penanggung jawab sekolah menyuruh saya melaporkan hal ini kepada polisi, tetapi istri saya tidak setuju.

Keesokkan harinya adalah hari sabtu, Bob sedang memandang keluar dari jendela, tiba-tiba dengan panik dia berteriak, “Orang yang memukul saya sedang berada di luar.”

Kami semua melihat ke arah luar, dua orang anak yang lebih besar dari Bob terlihat sedang berjalan di depan rumah kami. Saya memutuskan akan keluar memberi peringatan kepada mereka, tetapi istri saya Betty dengan tersenyum membuka pintu berkata kepada mereka, “Hai, silahkan masuk ke dalam rumah, makan es krim bagiamana?.”

Mendengar tawaran makan es krim, kedua anak itu saling memandang, kelihatannya bingung. Walau bagaimana mereka hanya anak belasan tahun, sambil mengangkat bahu mereka mengikuti istri saya masuk ke dalam rumah.

Setelah sampai di ruang tamu, Betty dengan sederhana memperkenalkan diri, adik Bob, serta saya. Dia juga memperkenalkan anjing keluarga kami. “Saya rasa kalian sudah mengenal Bob,” ujar istri saya.  

Dia menunjuk ke arah Bob. Saya tahu maksud istri saya, ingin memberitahukan kepada mereka Bob adalah seorang manusia, bukan target. Dia mempunyai keluarga yang bahagia, bahkan mempunyai seekor anjing yang lucu.

Ketika mereka menikmati es krim, Betty kelihatan sudah sangat akrab mengobrol dengan mereka.  Setelah beberapa menit, dia sengaja menyinggung masalah Bob, “Saya tahu kejadian yang terjadi diterminal bus, saya rasa di dalamnya pasti ada salah paham."

Mereka mengangguk kepala mengiyakan, mereka menyatakan bahwa memang di terminal bus terjadi salah paham. Betty lalu berkata, “Bob ingin berteman dengan kalian, mungkin kita dapat membicarakan kesalahpahaman di antara kalian, sehingga kalian bisa menjadi teman.”

Setelah masalah ini berlalu seminggu, wakil kepala sekolah menelpon, menanyakan hal perkelahian tersebut. Saya mengatakan kepadanya, masalahnya telah diselesaikan, tetapi tidak melapor polisi, hanya dengan es krim menyelesaikan masalah tersebut.

Dari cerita di atas berarti bahwa “Berdamai” adalah sebuah perkataan yang memang sulit untuk dikeluarkan, bahkan lebih sulit dilakukan, tetapi kita harus belajar bagaimana menyelesaikannya. (Mingxin.net/hui)

 

Bagikan halaman ini ke :

|