Iptek
Efek Musik Mozart Terhadap Kesehatan dan Kecerdasan
Ditulis oleh Era Baru    Kamis, 02 Februari 2012

altApa keistimewaan dari musik karya Mozart selain untuk hiburan? Para ilmuwan di seluruh dunia telah menyatakan bahwa musiknya dapat membuat orang lebih cerdas dan meningkatkan kesehatan. Bahkan hewan seperti sapi dan tanaman juga menyukai musikny.

 
Apa yang Akan Terjadi 2012? (1)
Ditulis oleh Era Baru    Sabtu, 28 Januari 2012

alt

Apa yang akan terjadi pada 2012? Forum perdebatan tentang masalah ini cukup banyak. Informasi psikis juga luar biasa, sehingga membuat orang bingung, tidak tahu siapa yang harus dipercayai. 
 
Fenomena Alam Menakjubkan dari Kamera
Ditulis oleh Era Baru    Jumat, 20 Januari 2012

Fenomena alam kadang terlihat sangat menakjubkan. Di balik dampak kengerian yang ditimbulkannya, namun juga ada keindahan di dalamnya. Berikut beberapa fenomena alam yang terekam kamera, dilansir dari nationalgeographic.com.

 
Tanggul yang Rusak
 
Air mengalir melewati tanggul yang rusak di sepanjang Inner Harbor Navigation Canal (IHNC) di New Orleans setelah hujan lebat dan gelombang badai dari badai Katrina. Badai Katrina memegang rekor gelombang badai di Amerika Serikat, mencapai ketinggian 27,8 kaki (8 meter) di atas permukaan laut di dekat Pass Christian, Mississippi. 
 
 alt 
 
 
Tiga Badai
 
Sebuah foto satelit yang diambil pada 28 Agustus 2008, menunjukkan tiga badai di Atlantik pada saat yang sama: Fay, Gustav, dan Hannah. Badai Tropis Fay menghambur di Amerika Serikat. Badai Tropis Gustav, yang akan berkembang menjadi hurricane antara Kuba dan Haiti. Badai Tropis Hanna, yang juga akan menjadi hurricane, masih berada di Atlantik. Perkembangan badai dari depresi tropis menjadi badai tropis dan kemudian menjadi hurricane, pembedaannya adalah berdasarkan kecepatan angin.  
 
     alt     
 
 
Terbang Melintasi Mata Badai 
 
Setelah membelah melintasi kerasnya angin, hujan, hujan es, dan gerakan udara vertikal, sebuah Pesawat  P-3 National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) terbang ke “mata” badai Caroline dengan ketinggian rendah untuk mengukur struktur dan intensitas badai. Yang lainnya secara khusus melengkapi pesawat NOAA dalam mengumpulkan data meteorologi dari lapisan atmosfer disekitar badai untuk tujuan peramalan/prakiraan. (nationalgeographic.com/ran)
 
        alt        
 
Air Tahu Jawabnya
Ditulis oleh Natashe Yang    Jumat, 20 Januari 2012

kristal saljuAnda tidak tahu banyak tentang air, tetapi air tahu apa yang Anda pikirkan. Baru-baru ini, sebuah video menjadi populer dan telah beredar di berbagai situs dunia maya. Video ini berjudul “Scientific experiments change the concepts of a lifetime,” atau percobaan ilmiah mengubah konsep seumur hidup. 

 
Bayi Belajar Bicara Lewat Gerakan Bibir
Ditulis oleh Erabaru    Kamis, 19 Januari 2012

alt

Ketika bayi berusia sekitar enam bulan, bayi mengalihkan pandangan dari mata ke arah mulut sehingga mereka bisa mempelajari kata-kata yang mereka dengar.

 
Maya Meksiko Hitung Mundur 21 Desember 2012
Ditulis oleh Erabaru    Selasa, 03 Januari 2012

alt

Masyarakat asli Maya di Meksiko Selatan telah memulai satu tahun hitung mundur menuju 21 Desember 2012, yang akan menandai berakhirnya siklus lima ribu tahunan kalender kuno Maya.

 
‘Spesies Baru’ Samudera Hindia
Ditulis oleh Erabaru    Kamis, 29 Desember 2011

alt

Para ilmuwan Inggris menemukan apa yang mereka yakini sebagai spesies-spesies baru di dekat ventilasi vulkanik di Samudera Hindia.

 
Pelopor Ilmu Perburungan Indonesia
Ditulis oleh Erabaru    Jumat, 09 Desember 2011

Prof Soekarja Somadikarta, Ahli Burung Indonesia, Walet, OrnotologiMenjadi peletak dasar ilmu perburungan di Indonesia bagaikan hidup yang berubah 180 derajat bagi Prof.Dr. Soekarja Somadikarta yang usianya kini tidak muda lagi, namun semangat muda masih melekat pada dirinya.

Sejak usia 15 tahun, dia sudah menjadi tentara  Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Pangkat Kopral dan Sersan sudah melekat pada bahunya. Berbagai pertempuran diikutinya diantaranya pertempuran yang sengit di Tasik Selatan.

Menghadang tentara Belanda yang melintasi jalur Tasikmalaya-Garut menjadi bagian tugasnya dan Sersan Soma muda sempat membentuk pasukan garuda putih.

Berprofesi sebagai tentara bagi Prof Soema bukan suratan takdir hidupnya, dia pun lantas berhenti dan menyerahkan senjatanya kepada juniornya Eddie Mardjuki Nalapraya yang pensiun dengan pangkat terakhir Mayjen, pernah menjabat mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta dan kini Presiden International Pencak Silat Federation.

“Bukan darah saya untuk menjadi tentara, karena saya tidak tega saling menembak dan mematikan orang lain, meskipun dikatakan membunuh dalam peperangan diampuni,” ujar suami mendiang pustakawati senior Lily Koeshartini saat ditemui di kediamannya di Bogor, Jawa Barat, Kamis (8/12).

Dia menceritakan waktu itu dia mengalami trauma dan sakit, karena terbayang-bayang telah menembak seseorang, kemudian dia merasa tidak tega karena tidak bisa berbuat terbaik untuk orang lain namun menembak orang lain.

“Saya trauma, sakit saya, saya ingat didikan orang tua saya untuk berbuat baik bagi orang lain,” cerita Profesor kelahiran Bandung, 21 April 1930 silam.
 
Berhenti dari dinas ketenteraan, kemudian dia menamatkan SMP dan SMA sampai menginjak jenjang bangku kuliah di Bandung. Belum selesai dibangku kuliah, Soema muda sudah diangkat menjadi asisten dosen Fakultas Kehewanan UI waktu itu masih di Bogor. Kemudian dari sana dia dikirim untuk studi keluar negeri.

Akhir tahun 1959 dia pulang ke Indonesia, setelah menyelesaikan studinya di Freie University, Berlin, Jerman dengan memperoleh Doktor Ilmu Pengetahuan Alam. Dia aktif mengajar di UI selama 49 tahun 6 bulan. Terakhir, sebagai guru besar bidang Biologi Fakultas MIPA Universitas Indonesia.

Pada masa-masa tahun 1962 hingga 1970 dia menjabat Kepala Museum Zoologicum Bogoriense, lembaga ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI). Pada waktu itu semua staf museum disekolahkan keluar negeri untuk memperdalam keahlian masing-masing. Semua bidangpun sudah dipilih, kecuali ilmu burung. Lantas karena tidak ada pilihan, Soema memilih studi tentang ilmu burung. Itu menjadi awal baginya menginjak dunia perburungan.
 
Moto Aristotles “Pleasure in the job puts perfection in the work” atau kesenangan dalam pekerjaan menempatkan kesempurnaan dalam pekerjaan, menopang dalam melaksanakan kesuksesan tugasnya. “Saya pilih ahli burung dan menekuni ilmu burung dan saya membaca terus,” kata mantan Dekan Fakultas MIPA-UI 1978-1981 dan 1981-1984.

Sejarah ornitologi Indonesia waktu 1960 silam, ayah dari Lini Berlinawati dan almarhum Dedi Achadiat ini masih menekuninya seorang diri. Padahal koleksi perburungan Indonesia cukup banyak. Dunia yang dia tekuni memang tidak menghasilkan banyak uang, namun bukan menjadi halangan bagi dia untuk terus mendalami dunia perburungan.

Karya seorang periset umumnya akan dihargai oleh berbagai lembaga universitas, khususnya dari luar negeri seperti diberikan kesempatan untuk melakukan riset di universitas tersebut.  "Jika menghasilkan karya yang baik dan diakui dunia internasional, maka akan diberikan grand sebagai bentuk penghargaan seperti melakukan riset di universitas tesebut," katanya.  Prof Soekarja Soemadikarta, ahli burung Indonesia, Taksonomi, Ornitologi, Habibie Award

Menurut Soema, penelitian tentang ilmu perburungan di Indonesia sebelumnya didominasi oleh peneliti asing. Mereka ke Indonesia sejak abad ke 16. Tercatat perkembangan perburungan Indonesia mencapai 1.534 spesies yang terbanyak ke empat di dunia setelah Kolombia, Peru, dan Brazil.

Sebagai ahli taksonomi, sudah banyak burung yang dideskripsikannya yang kebanyakan jenis walet, salah satunya yang diberi nama Collocalia linchi dedii. Burung ini ditemukan di Ubud, Bali.  Nama ini diambil dari putranya yang sudah meninggal.

“Saya berikan ke dia karena dia sejak kecil ikut dengan saya kelapangan, saya kehilangan dia,” kata peraih Habibie Award 201I dalam bidang ilmu dasar sambil merendahkan nada suaranya.

Penghargaan tingkat dunia pun diraihnya hingga 10 penghargaan prestisius, diantaranya dari National Academy of Sciences-National Research Council sebagai Visiting Research Associate di Departemen Ornithology, Smithsonian Institution, Washington, USA, Honorary President, XXV International Ornithological Congress, Campos do Jordão, SP, Brazil dan Goldene Promotion (Jubiläumsurkunde) 1959-2009, Freie Universität Berlin, Jerman.

Khazanah kekayaan burung Indonesia juga ditemukan dalam literatur kuno China. Seperti yang ditemukan pada selendang sutra dan digambar jenis burung. Lukisan ini berasal pada masa dinasti Song dibawah Kaisar Huizong (1082 – 1135). 

Dalam sejarahnya,  Huizhong memang  dikenal sosok kaisar yang dikenal sebagai penyair, pelukis, kaligrafi, dan musisi. Selendang ini sekarang ada di Museum of fine Arts Boston, Amerika serikat.alt

“Ini tentu ada ekspedisi dari China yang mendarat ke Sulawesi, mungkin dikasih burung ini,” ujar peraih Honorary Member, The British Ornithologists’ Union.

Sesudah dilakukan berbagai penelitian dan kajian sejarah oleh Prof Soema, burung itu ternyata sejenis burung kakak tua. Burung ini adalah burung endemik dari Sulawesi yang namanya Trichoglossus Ornatus. Dalam bahasa asing burung ini dikenal Five Colored Parkeet Pearch on Apricot Branch.

“Setelah lukisan burung itu diperbesar, diteliti, nyatanya burung itu endemik Sulawesi, burung inipun makannya mudah sekali sehingga gampang dibawa, berbeda dengan jenis burung lainnya,” kata ahli burung yang baginya bukan suatu yang harus untuk memelihara burung. Ini terlihat dari kediamannya yang tidak terdengar kicauan suara burung, tapi ada lukisan burung.

Temuan khazanah perburungan Indonesia juga ditemukan dalam buku Notes on the Malay Archipelago and Malacca compiled from Chinese sources yang ditulis Groeneveldt, W.P yang dipublikasikan 1880 silam. Buku ini menceritakan tentang sejarah kuno China khusus pada masa dinasti Tang. Dalam buku itu tercantum adanya burung dari Indonesia jenis pinka bird yang dibawa ke China.
 
“Sampai sekarang saya masih penasaran dengan dalam buku yang ditulis oleh seorang Belanda, disini tercatat ada burung pinka bird, yang dibawa dari kerajaan kaling di Indonesia ke China,“ kata Soema.

Kekayaan literatur perburungan dan ilmu pengetahuan lainnya, tidak terlepas dari pengarsipan. Berebeda dengan penghargaan tentang keilmuan dari negara-negara lain, mereka memperhatikan hal-hal demikian, seperti adanya museum kuno negara lain dan data-data kuno yang mereka simpan hingga saat ini.

“Diluar arsip banyak sekali, ini susahnya kita dengan arsip, tapi disini kalau cari arsip yang seminggu saja susah sekali,” kelakar Soema.

Perkembangan ilmu perburungan saat ini mulai berkembang, apalagi dikancah taksonomi modern. Saat ini telah lahir pengamat muda tentang perburungan. Meski demikian, Prof Soema berpesan kepada peneliti muda harus banyak baca, bertanya dan jujur dalam penelitiannya.

“Saya dulu masih konvensional karena hanya berdasarkan kasat mata atau morfologi, saat ini sudah menggunakan taksonomi modern, seperti mengidentifikasi burung dengan sonogram dengan hanya mengenali dari suaranya,” ujarnya yang kini sebagai anggota dewan Penasehat Perhimpunan Burung Indonesia dan Founding member International academy of science.

Menurut filsuf dan rohaniawan Prof.Dr.Franz Magnis Suseno menanggapi pemberian gelar Habibie Award mengenai ilmu perburungan kepada Prof Soema, ornitologi sebenarnya adalah ilmu yang mewujudkan hormat dan cinta manusia pada alam. Burung dinilai sebagai contoh kebebasan padahal sayang manusia mengurung mereka dalam kandang.

“Ornitologi adalah kesadaran bahwa ia sendiri termasuk alam dan tahu bahwa sifat alamiahnya tidak boleh hilang oleh cekikan dunia buatan yang semakin mengelilinginya,” ujar Magnis Suseno.

Berbanding dengan manusia modern, alam dipandang semata-mata sebagai tambang, lahan dan objek pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia rakus.

“Manusia tidak lagi tahu apa itu tahu diri, tidak tahu apa itu puas dengan seadanya, hidup hanya diciptakan oleh ekonomi kapitalistik untuk bisa meningkatkan laba mereka,” jelasnya.

Ada pertanyaan menggelitik setengah berkelakar dari Franz Magniz untuk Prof Soema, "mengapa peneliti burung mesti bersusah payah masuk hutan belantara, menyelusuri sungai apalagi akan kehujanan, mengapa melakukannya tidak ke pasar burung Pramuka di Jakarta saja yang banyak ditemukan burung dilindungi maupun tidak dilindungi?". (asr)

  << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL