Era Baru News >> Internasional >> Eropa >> Kelompok Teroris Neo-Nazi Jerman Terungkap
Kelompok Teroris Neo-Nazi Jerman Terungkap
Ditulis oleh Aron Lamm Jumat, 18 November 2011

alt

Di Jerman, pihak berwenang sedang berusaha untuk mengungkap kasus dari kelompok bawah tanah teroris neo-Nazi yang merampok bank dan membunuh imigran selama lebih dari satu dekade, dan tanpa sengaja ditemukan pada 4 November.

Kritik keras telah diarahkan terhadap polisi karena gagal untuk menemukan dan menghentikan kelompok tersebut, yang terdiri dari dua pria dan seorang wanita. Informasi baru juga menunjukkan bahwa anggota dinas intelijen dalam negeri bahkan mungkin telah membantu atau mendukung mereka.

Pada 4 November dua perampok bank di kota Eisenach, Jerman bagian timur, membakar mobil van mereka dan menembak diri mereka ketika polisi mengurung mereka. Di Zwickau, 180 mil jauhnya, sebuah apartemen kemudian diungkap menjadi tempat persembunyian mereka, juga dibakar oleh kaki tangan mereka yaitu seorang perempuan. Ternyata ini adalah hembusan napas terakhir dari kelompok teroris neo-Nazi yang tidak diketahui yang diduga telah melakukan serangkaian perampokan dan pembunuhan dan pemboman selama dekade terakhir.

Dua pria yang sudah tewas,Uwe Mundlos dan Uwe Bohnhardt serta Beate Zschape (wanita yang kini telah menyerahkan diri ke polisi, tetapi masih bungkam), semua berusia paro baya dan dalam pelarian mereka mematikan radar sejak akhir tahun 90-an, ketika mereka diketahui sebagai anggota kelompok neo-Nazi yang membuat ancaman bom.

Mereka menyebut diri mereka Sosialis Nasional Bawah Tanah tetapi sudah dijuluki Fraksi Tentara Coklat dalam sebuah artikel majalah berita Jerman, Der Spiegel, mengacu pada sayap kiri kelompok teror Fraksi Tentara Merah tahun 1970. Orang keempat yang diduga membantu kelompok tersebut juga telah ditangkap.

Senjata dan bukti lain, seperti DVD propaganda, ditemukan di apartemen yang terbakar menunjukkan bahwa kelompok itu bertanggung jawab atas serangkaian kejahatan yang belum terselesaikan: pembunuhan sembilan orang asal Turki dan Yunani antara tahun 2000 dan 2006, pembunuhan seorang polisi perempuan muda pada tahun 2007, sebuah bom yang melukai 22  orang tahun 2004, sebagian besar orang Turki, dan serangkaian perampokan bank untuk mendukung hidup mereka di pelarian.

Apa yang baru dan tidak biasa tentang kasus ini adalah bahwa kelompok tersebut tidak pernah membuat pernyataan politik atau berhasil diketahui bahwa pembunuhan sembilan imigran bersifat politis. Bahkan, polisi mencurigai pembunuhan itu terkait dengan aktivitas mafia. Tampaknya, bagaimanapun, bahwa kelompok itu mungkin telah mempersiapkan untuk ingin terkenal dengan perbuatan mereka, karena propaganda DVD dimana mereka tampaknya membanggakan kejahatan mereka ditemukan di tempat persembunyian mereka.

Bagaimana mereka berhasil luput dari perhatian polisi juga merupakan topik hangat untuk diperdebatkan di Jerman saat ini, dan beberapa politisi telah mengkritik polisi dan badan-badan intelijen karena mengabaikan kelompok itu. Kanselir Angela Merkel telah menyebut kasus itu "sebuah aib nasional" dan partai Uni Demokrat Kristen juga menyerukan larangan pada Partai sayap kanan Demokratik Nasional, yang diduga menyembunyikan kekerasan neo-Nazi. Hal ini juga memicu perdebatan tentang apakah ini adalah cara yang tepat atau tidak untuk menangani masalah tersebut.

Kasus ini masih terus berkembang. Sekarang telah mengungkapkan bahwa seorang petugas dari dinas intelijen dalam negeri, BfV, yang dikenal memiliki kecenderungan pada Nazi, hadir di tempat salah satu pembunuhan pada tahun 2006, menurut Der Spiegel. Majalah tersebut juga melaporkan bahwa daftar 88 nama, di antaranya dua politisi, telah ditemukan, menimbulkan kecurigaan bahwa kelompok tersebut mungkin merencanakan pembunuhan lagi. Hal ini juga tidak diketahui apakah mereka memiliki kaki tangan lain, selain dari orang keempat yang ditangkap pada 13 November.

Beate Zschape yang sekarang dianggap sebagai satu-satunya yang dapat menjelaskan lebih lanjut tentang kasus yang unik dan mengejutkan ini, dan dia sejauh ini menolak untuk berbicara dengan polisi. (Epoch Times/dia)