Era Baru News >> Internasional >> Internasional >> Calon Polisi Afghanistan Tembak Pelatih Spanyol
Calon Polisi Afghanistan Tembak Pelatih Spanyol
Ditulis oleh Oleh: Hoen Marco't Jumat, 27 Agustus 2010

Afganistan - Dua perwira polisi Spanyol dan penerjemah tewas ditembak oleh calon polisi Afghanistan. Peristiwa itu terjadi pada saat sesi pelatihan di pangkalan militer Spanyol yang beroperasi di Qalay-i-Naw, Afganistan barat laut,  Rabu (25/8).

Kedua petugas penjaga sipil Spanyol itu adalah bagian dari Pasukan Bantuan Keamanan Internasional NATO (ISAF) yang bertugas di Afghanistan.

Mereka sedang mengadakan kelas pelatihan kepada polisi setempat. Hal ini dilakukan karena polisi setempat akan mengambil alih tanggung jawab ISAF di Afganistan.

Peserta pelatihan, Ghulam Sakhi, menembak para pelatihnya dan sang penerjemah. Ghulam akhirnya tewas oleh tembakan balasan pasukan keamanan, demikian menurut sebuah pernyataan ISAF.

Pihak berwenang masih menyelidiki motif dibalik penembakan itu.

"Yang jelas peristiwa itu adalah sebuah serangan terencana. ... Itu adalah serangan teroris," kata Menteri Dalam Negeri Spanyol Alfredo Perez Rubalcaba, saat berbicara pada sebuah konferensi pers, menurut AFP.

Kelompok intelijen SITE terus memantau aktivitas Taliban. SITE melaporkan bahwa Taliban mengklaim Sakhi memiliki hubungan "khusus" dengan mereka.

Ketika berita mengenai kejadian itu keluar, ratusan penduduk lokal marah. Mereka mencoba menyerang pangkalan militer Spanyol untuk memprotes kematian Sakhi, demikian menurut keterangan seorang juru bicara polisi kepada AFP.

Kerumunan orang berteriak dan melemparkan batu. Mereka mencoba masuk pangkalan. Polisi, tentara Afghanistan,  dan pasukan Barat dikerahkan untuk membantu mengakhiri protes itu. Sedikitnya 25 orang terluka parah akibat insiden protes ini.

Spanyol memiliki 1.555 pasukan di Afghanistan. Jumlah ini hanya sebesar 1 persen lebih dari jumlah total seluruh pasukan ISAF yaitu 141.000 tentara.

ISAF telah memerangi Taliban di Afghanistan selama sembilan tahun terakhir.  (EpochTimes/sri)