Era Baru News >> Internasional >> Internasional >> Potret ‘Serigala Tunggal’ Al-Qaeda
Potret ‘Serigala Tunggal’ Al-Qaeda
Ditulis oleh Aron Lamm Jumat, 09 September 2011

alt

Serangan dahsyat 9 September (9/11) membawa respon cepat dari para korban. Dalam hitungan hari, Presiden AS George W. Bush melancarkan perang melawan teroris, sebagai target serangan pertama adalah Al-Qaeda - sebuah organisasi teroris yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut.

"Perang kita melawan teror dimulai dengan al-Qaeda, tetapi bukan berakhir sampai disana. Ini tidak akan berakhir sampai setiap kelompok teroris dari lintas benua ditemukan, diberhenti, dan dikalahkan," kata presiden pada sesi Kongres gabungan 20 September 2001.
Satu dekade kemudian, al-Qaeda ternyata masih eksis, tetapi operasi berskala 9/11 tidak lagi dilaksanakan.

Dalam peringatan 10 tahun serangan 9/11, telah menimbulkan beberapa kekhawatiran bahwanya organisasi teroris bisa mengambil kesempatan melakukan penyerangan kembali, tetapi para ahli mengatakan skenarionya tidak memungkinkan.

Sarjana Inggris sekaligus penulis Alia Brahimi telah menulis beberapa buku tentang Al-Qaeda, terorisme, dan perang agama. Dia, seperti kebanyakan para ahli, berpendapat bahwa al-Qaida berada pada puncak kekuasaan pada saat melaksanakan operasi 9/11, ketika dana dan basisnya ada di Afghanistan, sehingga pada dekade berikutnya telah menjadi bencana bagi organisasi.

Melemahnya organisasi tersebut bukan dikarenakan intervensi Barat yang kuat,  tapi juga dikarenakan operasi Al-Qaeda telah membunuh begitu banyak warga sipil Muslim, sehingga mengucilkan orang di daerah yang dikendalikan kelompok. Akibatnya, penduduk setempat tidak lagi melihat mereka sebagai alternatif.

Pernyataan al-Qaeda untuk membela umat Islam terhadap agresi Barat tidak bisa dipertahankan lagi mengingat sebagian besar korbannya adalah warga sipil Muslim. Oleh karena itu secara moral organisasi tersebut bangkrut, kata Brahimi.

"[Al-Qaeda] tidak pernah lagi mendekat untuk membangun aspirasi dirinya sebagai gerakan utama. Dimana Al-Qaeda menduduki wilayah, seperti di Irak, tidak ada lagi tawaran bagi penduduk lokal selain kebrutalan," tulisnya dalam e-mail kepada The Epoch Times.

Dalam posting blog baru-baru ini, Brahimi secara rinci menggambarkan bagaimana penduduk di wilayah Irak yang jatuh di bawah kekuasaan Al-Qaeda menjadi sasaran pelarangan merokok dan musik, laki-laki dipaksa untuk berjenggot dan para wanita menutupi diri mereka. Hukuman termasuk pemerkosaan, mutilasi, dan pemenggalan kepala anak-anak. Mereka menikmati popularitas selama fase awal perang di Irak dengan cepat telah menyusut.

Memang, hari ini Al-Qaeda bahkan enggan untuk menggunakan namanya, dikarenakan reputasi buruk yang melekat padanya. Di Yaman, di mana salah satu cabang Al-Qaeda yang paling aktif, Al-Qaeda di Semenanjung Arab, atau AQAP - adalah melancarkan perang terhadap pemerintah, mereka malah sering menggunakan nama Ansar al-Syariah, seperti yang sebelumnya dilaporkan oleh Epoch Times. Hal ini karena penduduk setempat, bahkan di desa-desa terpencil, sekarang bereaksi negatif terhadap nama al-Qaeda.

Satu-satunya cara bagi al-Qaeda untuk meraih kembali legitimasinya di dunia Muslim adalah dengan penyerangan target Barat, papar Brahimi. Tapi seperti perkembangan dekade berikutnya, serangan mereka menjadi kurang dan kurang mematikan, sekarang hanya mengandalkan 'serigala tunggal' dari Barat untuk meradikalisasi diri di Internet dan merencanakan akan melakukan serangan ke jantung Barat, tanpa bantuan apapun," tulisnya.

Contoh terbaru adalah pelaku bom bunuh diri Taimour Abdulwahad pada Perayaan Natal di Stockholm, yang hanya berhasil membunuh dirinya sendiri dan melukai ringan dua orang, setelah salah satu dari bom rakitan dalam kemasannya meledak.

Prospek serangan pada peringatan 9/11 tahun ini diperiksa oleh analis intelijen di STRATFOR. Kesimpulannya adalah bahwa al-Qaeda hampir pasti ingin melakukan serangan besar pada hari peringatan, tetapi kemungkinan keberhasilannya sangat rendah.

Pertama-tama, penegak hukum dunia dan badan-badan intelijen semua bersiaga dan waspada sekitar tanggal tersebut, sehingga membuat perencanaan dan pelaksanaan serangan ekstra sulit. Kedua, tidak ada yang menunjukkan bahwa al-Qaida memiliki kapasitas untuk melakukan serangan besar-besaran terkoordinasi lagi.

Bukan hanya Osama bin Laden, namun beberapa pemimpin petinggi Al-Qaeda lainnya juga telah ditangkap atau dilikuidasi baru-baru ini. Selain itu, bersamaan dengan operasi, badan-badan intelijen Barat telah mengumpulkan banyak kecerdasan pada organisasi. STRATFOR menyimpulkan bahwa kelompok inti Al-Qaeda yang berbasis di Pakistan saat ini "tidak ada dana dan kurang peduli terhadap keamanan."

Setiap ancaman serangan pada 11 September 2011, kemungkinan besar berasal dari ‘Serigala Tunggal’ atau sebagai ‘operasi jihad akar rumput’, tapi serangan mereka akan jauh lebih sederhana, lebih mungkin untuk dideteksi dan digagalkan, dan kalaupun berhasil tidak begitu mematikan, menurut STRATFOR.

Brahimi setuju bahwa Al-Qaeda melemah mungkin tidak dalam posisinya untuk menghitung sejumlah kesuksesan besar serangan ‘Serigala Tunggal.’ Tapi, dia mengingatkan, ini tidak berarti tidak ada ancaman. "Ini bukan untuk mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan menderita lagi atas serangan skala besar - kemungkin tetap saja ada." (EpochTimes/suk)