Era Baru News >> Internasional >> Internasional >> Terkait Penculikan Perancis-Inggris Ingatkan Warganya di Kenya
Terkait Penculikan Perancis-Inggris Ingatkan Warganya di Kenya
Ditulis oleh Erabaru Senin, 03 Oktober 2011

alt

Inggris dan Prancis memperpanjang peringatan perjalanan kepada warganya yang akan menuju kawasan pantai utara Kenya, menyusul peristiwa penculikan terhadap seorang perempuan cacat asal Prancis di wilayah tersebut, Sabtu (30/9).

"Ini merupakan saran untuk tidak menetap di Kepulauan Lamu dan wilayah lain yang berdekatan dengan perbatasan Somalia," kata Kementerian Luar Negeri Prancis dalam situs resminya seperti dilansir BBC.

Perempuan tersebut diculik di kediamannya yang terletak di Pulau Manda dan belakangan diketahui para penculik membawanya ke wilayah Somalia.

Pulau Manda merupakan salah satu kawasan yang kerap dipromosikan oleh Kementerian Pariwisata Kenya.

Serangan kepada warga asing ini merupakan yang kedua dalam tiga minggu terakhir di kawasan tersebut.

Dalam aksi serangan sebelumnya kelompok bersenjata Somalia telah membunuh seorang pria asal Inggris dan menculik istrinya.

Pemerintah Kenya mengatakan para penculik dan pelaku serangan itu diduga merupakan bagian dari kelompok militan al-Shabab.

"Perempuan tua asal Prancis yang mengalami cacat ini tinggal di rumahnya di Pulau Manda saat 10 penculik bersenjata berat asal Somalia dan dicurigai adalah anggota al Shabab ini menculiknya. Para penculik berasal dari wilayah Ras Chiamboni di Somalia yang berbatasan dengan Kenya," bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kenya.

Menteri Pariwisata Kenya, Najib Balala kepada Reporter BBC mengatakan pemerintah telah menguasai keadaan dan terus mengawasi kawasan perbatasan dengan Somalia.

Balala juga menyerukan bantuan dunia internasional untuk membantu mengawasi kawasan perbatasan mereka dengan Somalia.

"Apapun yang kami lakukan, jika kami tidak mendapat dukungan dari masyarakat internasional untuk mengatasi kawasan perbatasan dengan Somalia maka akan menjadi sesuatu yang sulit bagi kami untuk menangani mereka yang berada di wilayah itu," ujar Najib Balala. (Erabaru/BBC.Co.Uk/sua)