|

Persidangan tiga pemimpin Khmer Merah yang masih hidup yang dituduh ambil bagian dalam genosida Kamboja yang menewaskan hampir 2 juta orang pada tahun 1970 dimulai pada Senin (21/11).
Para terdakwa adalah Nuon Chea, yang dikenal sebagai ‘Saudara ke-Dua,’ orang kedua dalam kekuasan di bawah rezim Komunis Pol Pot, mantan kepala negara Khieu Samphan, dan mantan menteri luar negeri Ieng Sary. Para pria tersebut, semua dalam usia 80-an, telah membantah tuduhan terhadap mereka.
Istri Sary, mantan menteri urusan sosial Ieng Thirith, dianggap tidak layak untuk diadili karena kesehatan yang buruk. Dia menghadapi tuduhan serupa.
Ketiga orang itu dituduh melakukan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan penyiksaan untuk peran mereka dalam rezim tersebut. Karena genosida Kamboja dianggap salah satu yang terburuk dalam sejarah, kasus Senin itu dianggap salah satu yang paling signifikan karena beratnya dan besarnya kejahatan yang dituduhkan terhadap terdakwa.
Mengikuti jejak Partai Komunis China, Khmer Merah berusaha untuk meniru rezim Mao Zedong dengan membunuh intelektual, tokoh masyarakat, para bhikkhu, dan yang disebut musuh oleh negara, sementara memaksa warga kota untuk bekerja di pertanian masyarakat.
Antara 1,7 juta sampai 2,5 juta orang meninggal di bawah rezim tersebut, dari penduduk yang berjumlah 8 juta. Banyak orang Kamboja meninggal karena kelaparan, kelelahan, atau semata-mata dieksekusi dan dimakamkan di kuburan massal di lokasi yang dikenal sebagai ‘lading pembunuhan.’
Sekitar 1.000 orang muncul untuk menonton proses peradilan tersebut, di mana penuntutan merinci kejahatan yang dilakukan di bawah Khmer Merah, termasuk memaksa jutaan rakyat Kamboja untuk menahan penyiksaan dan berbagai kondisi yang tidak manusiawi sebelum mereka meninggal.
"Demokratis Kampuchea ... adalah salah satu rezim paling brutal dan mengerikan dalam sejarah modern," kata jaksa Chea Leang dalam kesimpulannya, menggambarkan bagaimana rezim Khmer mengeksekusi banyak Muslim Cham dan orang Vietnam dari tahun 1975 dan seterusnya.
"Kejahatan-kejahatan ini dipesan dan diatur oleh para tersangka diantara kengerian terburuk yang diderita bangsa manapun dalam sejarah modern," kata Leang, menurut Australia Broadcasting Corporation. Dia mendata contoh-contoh, termasuk rezim memaksa biksu Buddha untuk meninggalkan agama mereka dan menikah atau eksekusi wajah.
Leang juga mengatakan kepada pengadilan bahwa pasukan keamanan membenturkan seorang anak berusia dua tahun ke pohon sampai mati dan mengadakan kompetisi pemotongan tenggorokan, menurut Australia Broadcasting Corporation.
Setelah Khmer Merah runtuh pada tahun 1979, penuntutan bagi para pejabat senior telah membutuhkan waktu satu dekade. Pemerintah Kamboja saat ini, yang dipimpin oleh mantan pejabat Khmer Merah, baru-baru ini meminta PBB untuk memulai sebuah pengadilan yang diakui internasional untuk mengadili mantan pihak berwenang rezim.
Tahun lalu Operator kamp penyiksaan terkenal Kaing Guek Eav, yang dikenal sebagai "Duch," dihukum oleh PBB yang didukung Majelis Luar Biasa di Pengadilan Kamboja (ECCC), dan merupakan orang pertama yang dihukum di bawah pengadilan .
Meskipun terlambat mengadili mereka yang dinyatakan para penjahat perang, pimpinan hak asasi manusia PBB Navi Pillay, ketika berbicara di Jenewa, menyebut pengadilan itu " hari bersejarah lain bagi rakyat Kamboja, banyak di antaranya telah menunggu lama untuk melihat awal dari pengadilan ini , dan yang akhirnya dapat mulai mendengar bukti kekejaman yang dilakukan di seluruh negeri lebih dari 30 tahun yang lalu."
"Kesaksian para korban niscaya akan membantu generasi baru Kamboja untuk memahami sejarah mereka dan menambah dorongan masyarakat internasional untuk mencegah kejahatan massal di masa depan," tambahnya.
Pillay mencatat bahwa pengadilan yang didukung PBB telah menghadapi tantangan, terutama dalam melindungi sikap tidak memihak dan integritasnya selama persidangan, menyusul investigasi independen.
"Sangat penting bahwa kekhawatiran ini tepat ditujukan saat Pengadilan bergerak maju," kata Pillay menambahkan. (EpochTimes/dia) |