Era Baru News >> Internasional >> Internasional >> Wikileaks: Komunis China Takut pada Tuntutan Hukum Falun Gong
Wikileaks: Komunis China Takut pada Tuntutan Hukum Falun Gong
Ditulis oleh Matthew Robertson Kamis, 12 Januari 2012

alt

Kabel diplomatik menunjukkan pejabat Amerika Serikat mengawasi penganiayaan yang hampir 13 tahun dari latihan spiritual Falun Gong di China. Kabel diplomatik dengan hati-hati mencatat tuntutan terhadap para pejabat China yang sering membuat panik Amerika Serikat untuk campur tangan dalam gugatan yang telah diajukan praktisi Falun Gong terhadap tokoh tingkat tinggi yang terlibat dalam penganiayaan.

Sebuah tinjauan kabel diplomatik yang dipublikasikan oleh WikiLeaks tahun 1999 - 2010 mengungkapkan beberapa rincian detail yang tidak banyak diketahui tentang penganiayaan terhadap latihan spiritual tersebut, tanggapan para praktisi Falun Gong, dan reaksi Partai Komunis China (PKC).

Hal ini juga menunjukkan bahwa Falun Gong adalah tema yang terulang di benak para pejabat China. Mereka tak henti-hentinya khawatir tentang tuntutan hukum dari para praktisi Falun Gong di luar negeri, dan sering mendekap keluhan mereka tentang hal itu dalam dialog terhadap isu-isu seperti kebijakan perdagangan dan ekonomi, Korea Utara, atau masalah signifikansi internasional lain.

Para diplomat AS berulang kali tunduk pada himbauan khusus dari rekan-rekan China mereka, yang meminta mereka untuk "melakukan sesuatu" untuk campur tangan atas nama para pejabat China, sering mencegah penilaian standar melawan mereka di pengadilan setelah mereka gagal untuk menanggapi peringatan pengadilan.

Kabel menunjukkan para diplomat AS memberikan respon ramah dan berdiri pada sisi mereka melawan kecaman marah pejabat China, meskipun dalam sejumlah kasus kemudian fakta menunjukkan bahwa PKC memang berhasil untuk memeras konsesi dari pemerintah Barat.

Sebuah contoh yang khas terjadi pada tahun 2003, dalam sebuah diskusi dengan Duta Besar China untuk AS, Yang Jiechi, di mana Yang mengangkat kekhawatiran tentang tindakan hukum Falun Gong terhadap Jiang Zemin di AS.

Jiang Zemin adalah pemimpin PKC pada tahun 1999 ketika ia meluncurkan sebuah penindasan habis-habisan terhadap Falun Gong, sebuah latihan spiritual yang menempa jiwa-raga dengan lima perangkat latihan dan ajaran-ajarannya berdasarkan prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar .

Dalam sebuah surat Jiang yang dikirim ke Komite Sentral PKC pada malam 25 April 1999, Jiang menyatakan kekhawatiran terhadap kelompok besar yang tidak berada di bawah kontrol langsung PKC dan tantangan terhadap idiologi materialisme dan ateisme PKC.

Setelah mendengar pihak China sampai selesai bicara, "Kami menanggapi dengan perhatian kami sendiri tentang perlakuan kasar rezim komunis terhadap pengikut Falun Gong di China," kata kabel.

Dalam pertemuan itu Yang mengatakan bahwa PKC "sangat prihatin" tentang bagaimana kasus itu dapat "merusak hubungan AS-China."

Bahkan, Departemen Luar Negeri melakukan langkah kedalam bagi para pejabat China yang sedang digugat, dengan meminta "pengadilan mengabaikan tuntutan hukum yang diajukan terhadap para pemimpin China yang mengunjungi AS pada perjalanan dinas," menurut sebuah kabel.

Para pejabat China menanggapi kegagalan sikap AS untuk campur tangan atas nama mereka terhadap praktisi Falun Gong pada tuntutan hukum sebagai "hambatan" dalam hubungan AS-China.

Itu adalah yang wakil Menteri Luar Negeri He Yafei katakan kepada David S. Sedney pada Pebruari 2007. Ia melakukan pemanasan dengan menjelaskan bahwa Amerika Serikat dan China "telah membangun momentum positif" melalui konsensus pada Korea Utara, Sudan, dan masalah lainnya. Dia melanjutkan bahwa tahun 2007 adalah tahun yang "penting" untuk hubungan AS-China, dan "kita seharusnya tidak membiarkan 'penghalang' seperti Falun Gong untuk menghambat kemajuan kita."

Dalam kabel itu He Yafei dilaporkan juga menunjukkan hal itu, seperti dalam wacana resmi China, ia melihat sedikit perbedaan antara proses politik dan hukum. Kegagalan dalam upaya untuk mencegah pengadilan dari menyidangkan kasus ini, satu terhadap CCTV, corong resmi negara - akan sama saja dengan mendukung Falun Gong, ia berpendapat.

David S. Sedney berusaha untuk menjelaskan gagasan bahwa di Amerika Serikat, pengadilan adalah independen. He Yafei hanya "mengulang poin sebelumnya dan menekankan risiko terhadap hubungan bilateral."

Kabel menunjukkan bahwa Amerika Serikat diam-diam memperluas dukungan setidaknya dalam satu kasus pengungsi Falun Gong, dan melakukan wawancara dengan para praktisi Falun Gong dalam upaya untuk memahami bagaimana keputusan dibuat terhadap komunitas Falun Gong.

Xi Jinping calon pemimpin PKC yang baru menunjukkan bagaimana seriusnya para pejabat PKC menanggapi gugatan para praktisi Falun Gong ketika menanggapi pertanyaan dari Duta Besar AS Clark T. Randt pada tahun 2007. Di antara hal pertama yang Xi catat seperti yang dikatakan tentang perjalanannya pada Mei 2006 ke AS adalah kelegaannya karena tidak menemui gugatan hukum dari praktisi Falun Gong.

"Xi mengatakan dia dan para pejabat China lainnya tidak khawatir atau terganggu oleh kebisingan atau protes selama kunjungan mereka, tetapi khawatir tentang konsekuensi hukum dan beban jika disodori dokumen sebagai bagian dari tindakan hukum," kata kabel.

Kabel juga menunjukkan bagaimana PKC memperluas kampanyenya di sekitar Asia Tenggara. Thailand, Indonesia, dan Singapura semuanya bertindak sebagai wakil dalam perang rezim komunis China terhadap Falun Gong, menurut kabel. Keprihatinan ini muncul pada beberapa kabel seperti awal tahun 2003, menandai lebih banyak contoh tingkat tinggi dari gangguan dan tekanan yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir terhadap Falun Gong di Vietnam, Thailand, Singapura, dan Indonesia.

Partai ini juga tampaknya berhasil memasukkan unsur-unsur dari kampanyenya melawan Falun Gong. Dorongan dari dukungan negara bagi Opera China - seperti figur, Yu Dan, yang mendukung bentuk Konfusianisme patuh pada program televisi populer, didukung oleh gagasan bahwa semakin banyak orang yang membeli ide-ide Konfusian, semakin sedikit kemungkinan mereka akan memihak Falun Gong.

Di berbagai daerah lain PKC juga melancarkan kampanye menyita satelit yang memungkinkan orang-orang menyaksikan siaran terkait Falun Gong, kabel katakan.

Wen Jiabao berhasil mendepak Bo Xilai yang bersaing untuk posisi wakil perdana menteri, yang ditempati Wen, dengan menunjukkan bahwa praktisi Falun Gong telah mengepung Bo dengan tuntutan hukum. (Bo Xilai adalah orang yang antusias dalam penganiayaan Falun Gong ketika dia menjabat sebagai sekretaris Partai Provinsi Liaoning, memimpin kamp kerja paksa Masanjia, yang dikenal kebrutalannya penyiksaan para praktisi Falun Gong, dalam satu contoh, praktisi wanita Falun Gong dilemparkan ke dalam sel laki-laki sehingga mereka diperkosa beramai-ramai, menurut Pusat Informasi Falun Dafa)

Ian Johnson, reporter Wall Street Journal berulang kali ditolak visa jurnalisnya karena melaporkan berita tentang Falun Gong pada tahun 2000 dan 2001, segera setelah penganiayaan terhadap latihan itu dimulai, kabel menunjukkan.
Dia akhirnya mendapatkan visa setelah serangkaian pertemuan antara manajemen koran dan para pejabat China dan AS pada tahun 2007. Dalam pertemuan ini, Falun Gong berulang kali diidentifikasi sebagai "musuh."

Kabel juga menunjukkan bahwa partai telah secara maksimal mempertahankan momentum untuk penganiayaan yang sekarang sudah berlangsung selama 13 tahun, meskipun menurunnya minat bahkan dari organ keamanan partai dalam menekan kepercayaan damai ini.

Dan itu telah memperpanjang peran kantor 610, badan ekstralegal yang awalnya dibentuk secara khusus untuk menganiaya Falun Gong. Satu kabel mengutip dokumen pemerintah China bahwa pejabat AS ditemukan online, mendokumentasikan strategi partai untuk menegakkan perintah keamanan pada tingkat lingkungan di Beijing.

“Bahasa dokumen militeristik dan membagi tugas dalam persiapan ulang tahun pada sebelum perang dan saat perang," kata kabel, mengacu pada ulang tahun ke 60 PKC. Tindakan keamanan termasuk " pemantauan kelompok kunci " dan "menindas Falun Gong." (EpochTimes/dia)