Era Baru News >> Iptek >> Iptek >> CT Scan Ungkap Moa Purba Sergap Mangsa
CT Scan Ungkap Moa Purba Sergap Mangsa
Ditulis oleh Epochtimes Selasa, 31 Agustus 2010

Sebuah penelitian berskala internasional yang memanfaatkan teknologi komputer merekayasa ulang teknik menangkap mangsa burung Moa, spesies burung purba yang hidup di masa prasejarah.

Detail pertama mengungkap cara berburu burung tersebut dan menampilkan gambar patukan paruh dan langkah (foot work) yang lincah nan gesit mirip gaya mantan raja kelas berat tinju dunia Muhammad Ali. Laporan dari penelitian ini dimuat di situs  Public Library of Science.

Sebutan Moa berasal dari ukuran tubuhnya yang luar biasa besar dan bagian kepalanya yang menakutkan. Burung setinggi 1,37 meter ini bobotnya bisa mencapai 41 kg dan tidak bisa terbang. Paruh Andalgalornis melengkung, mirip dengan jenis elang, cara berburunya mirip strategi Muhammad Ali, kadang mundur kadang maju, targetnya jelas dan serangannya mantap.

Burung Moa purba hidup pada 60 juta tahun silam di benua Amerika Selatan. Pada periode tersebut hingga periode 3 juta tahun lalu, Amerika Selatan masih berupa kontinen berbentuk pulau. Tak lama kemudian, spesies burung Moa purba lenyap secara misterius dari muka bumi, kebiasaan hidup mereka kemudian menjadi rahasia yang tak diketahui orang.

Stefen Wroe selaku penanggung jawab kelompok penelitian perhitungan biomekanis Universitas New South Wales, Australia menjelaskan bahwa saat burung Moa purba berada di puncak kejayaannya, di Amerika Selatan muncul serangkaian makhluk hidup unik berbentuk aneh dan mengherankan, misalnya kukang raksasa dan Liptoterns yang menyerupai kuda tapi bentuknya aneh.

Hingga kini, belum pernah dilakukan analisa berskala besar terhadap burung Moa Purba. Lawrence Witmer, Profesor jurusan paleontologi dan anatomi bagian medis Universitas Ohio, AS memanfaatkan teknologi CT men-scan batok kepala sang burung.

Dari hasil pengamatan disimpulkan, bagian atas dan bawah batok kepala burung jenis ini sangat kokoh dan keras, namun sebaliknya kedua sisinya terkesan rapuh.

“Kedua sisinya yang agak rapuh menandakan burung jenis ini sulit mengalahkan mangsa yang mempunyai gaya bertarung ala Joe Frazier (mantan petinju kelas berat yang terkenal dengan pukulan hook-nya), apabila bertarung dengan mangsa seperti itu akan mengalami risiko patah rahang. Namun karena kepala bagian atas dan bawah agak keras, ditambah dengan kelincahan dan kecepatannya yang mengagumkan, burung ini bagaikan Muhammad Ali saat menghadapi mangsa buruannya,” ujar Witmer.

Witmer memperkirakan, kemungkinan jenis burung karnivora semacam ini terbiasa dengan penggunaan “strategi maju-mundur.” Paruh yang mirip kampak bergagang pendek beruntun menghujam ke arah bawah ketika lokasi luka semakin membesar dan si burung dengan cermat melakukan serangan bergaya operasi bedah.

“Sendi batok kepala burung jenis ini biasanya lentur, sehingga bagian kepala mereka agak ringan tapi kokoh. Namun kami menemukan sendi lentur pada tubuh burung Moa bisa berubah menjadi tulang tetap. Jadi meskipun paruh burung Moa purba berongga kosong tetapi tulang batok kepalanya sangat kokoh.” Para ilmuwan memprediksi bahwa hal ini mungkin ada hubungan dengan hilangnya kemampuan terbang kaum burung Moa purba dan kemungkinan berkaitan dengan bentuk tubuh raksasa mereka," tambah Witmer.

Penulis utama laporan studi, Federico Degrange dari Universitas Nasional La Plata, Argentina mengatakan, “Melalui Analisis Integrasi Informasi, kami menemukan bahwa daya hujam gigitan burung Moa purba lebih rendah dari yang kami prediksi, sebaliknya kebanyakan hewan mamalia karnivora dengan bentuk tubuh yang mirip, daya gigitnya juga agak rendah.

Burung Moa purba kemungkinan besar menggunakan otot bagian leher yang besar dan kuat menghujamkan bagian kepalanya yang keras menusuk ke dalam tubuh mangsanya, fungsinya bagaikan kapak yang dibutuhkan untuk menutupi kekurangan daya hujam yang agak lemah.”

Para peneliti berharap kelak bisa lebih jauh lagi memperdalam ekosistem burung Moa hingga ke puncak mata rantai makanan. Dikarenakan tidak eksisnya posisi di dalam mata rantai makanan, sehingga pada akhirnya mengakibatkan mereka punah. (The Epoch Times/whs)