| Kedelai Iradiasi Super Besar Diluncurkan |
| Ditulis oleh Era Baru News | Rabu, 01 September 2010 |
|
"Dengan ukuran yang jauh lebih besar dari kedelai lokal lainnya dan tampilan yang menarik itu diharapkan para produsen dan konsumen kedelai selama ini yang lebih menyukai kedelai impor akan beralih untuk menanam kedelai nasional ini," kata Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Batan Dr. Taswanda Taryo, kepada pers di Jakarta, Selasa (31/8). Pada 22 Juli 2010 Menteri Pertanian melalui Surat Keputusan Nomor 2602/Kpts/SR.120/7/ 2010 merilis varietas baru tersebut dan telah dipanen di NTB pada 29 Juli 2010 dengan hasil hingga 2,8 ton per hektare (ha). "Mutiara 1 merupakan kedelai hasil penggunaan teknik iradiasi yang penelitiannya dilakukan oleh Pusat Aplikasi Teknologi Isotop Radiasi (Patir) Batan," katanya. Varietas kedelai baru ini menambah lima varietas kedelai unggul milik Batan sebelumnya yang juga didapat dengan menggunakan teknik iradiasi yakni Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa dan Mitani. Sementara itu, pemulia kedelai Batan Harry Is Mulyana mengatakan, Varietas Mutiara 1 bisa dipanen dalam 82 hari, yang berproduksi tinggi di lahan sawah dengan rata-rata hasil 2,4 ton per ha serta potensi hasil 4,1 ton per ha. Kedelai Mutiara 1, urainya, tahan terhadap penyakit karat daun yang bisa menurunkan produksi kedelai sampai 80 persen, juga tahan terhadap penyakit bercak/hawar daun coklat serta tahan hama penggerek pucuk. Dia mengatakan, untuk mendapatkan kedelai super besar mutiara 1 ini, pihaknya melakukan iradiasi sinar gamma 150 Gy pada varietas Muria, varietas kedelai Batan sebelumnya. Menurut dia, radiasi sinar gamma dapat memperbanyak keragaman genetik dan memecahkan gen linkage sehingga bisa memperbaiki beberapa sifat tanaman. "Pengaruh radiasi terhadap generasi M1 biasanya terjadi kerusakan fisik, namun pada M2 terjadi segregasi atau keragaman genetik seleksi yang diarahkan pada sifat yang diinginkan, dilanjutkan generasi M3 ditanam kembali dalam satu galur satu baris, sehingga pada generasi M4 tanaman sudah mulai stabil," kata Taswanda. Galur-galur yang terpilih kemudian diuji pendahuluan, dilanjutkan dengan uji daya hasil lanjut. Lalu untuk melihat daya adaptasinya dan stabilitasnya dilakukan uji adaptasi multi lokasi dimana untuk kedelai disyaratkan diuji di 16 lokasi untuk mendapatkan galur harapan unggul. "Hasilnya dapat diajukan untuk dinilai oleh Kementerian Pertanian. Jika lulus maka akan dikeluarkan SK Pelepasan," sambung Taswanda. Menurut Taswanda, kedelai ini sesuai untuk bahan baku tahu dan tempe.(ant/waa) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Penampakan UFO di Thames Estuary
- Tahanan Falun Gong Diambang Kematian
- Berlian Dibalik Kabut Percandian Muarajambi
- Rudal AS Tewaskan Tokoh al-Qaeda Pakistan
- Tentara Suriah Lancarkan Serangan Besar-besaran
- Kisah Sebatang Gandum
- Risiko Lahirkan Bayi Cacat Bagi Ibu Diabetes
- Mengatasi Polusi Timbal dengan Jamur
- Video Kekerasan ABG di Bali Banjir Kecaman
- Misteri Piramida di Gunung Sadahurip
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Hanya Sebulan 50 Bencana Menimpa Indonesia
- Cerita Tentang Einstein
- Astronom Temukan Planet Layak Huni
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Udumbara Bunga Surgawi

Jakarta - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) meluncurkan varietas baru kedelai unggul dengan ukuran biji super besar dengan berat 23,4 gram per 100 butir yang diberi nama Mutiara 1.





Mozilla Firefox