Era Baru News >> Iptek >> Iptek >> Bayi Belajar Bicara Lewat Gerakan Bibir
Bayi Belajar Bicara Lewat Gerakan Bibir
Ditulis oleh Erabaru Kamis, 19 Januari 2012

alt

Ketika bayi berusia sekitar enam bulan, bayi mengalihkan pandangan dari mata ke arah mulut sehingga mereka bisa mempelajari kata-kata yang mereka dengar.

Sebuah penelitian mengungkapkan bayi menggunakan gerak bibir sebagai alat untuk memahirkan kemampuan berbicara.

Selama ini banyak orang terbiasa melihat pandangan bayi yang serius ke mata pengasuhnya. Penelitian yang dilakukan Universitas Florida Atlantic ini menjelaskan hal yang terjadi di balik tatapan tersebut.

Profesor David Lewkowicz, ketua tim peneliti mengatakan jika tahapan enam bulan sudah lewat, maka bayi lebih banyak membaca gerak bibir.

"Bayi berkonsentrasi pada mulut orang yang berbicara dengan mereka selama beberapa bulan sampai ulang tahun pertama, sekitar 12 bulan, ketika mereka sudah memahirkan dasar suara dari bahasa mereka," jelasnya.

Setelah mengembangkan kemampuan suara, bayi kemudian kembali melakukan kontak mata.

"Pada saat ini mereka akan melihat lebih banyak ke arah mata karena di situlah banyak informasi sosial tersedia. Di situ bayi bisa mengetahui yang dipikirkan orang, apa yang akan mereka lakukan pada masa mendatang dan seterusnya," imbuh Profesor Lewkowicz seperti dilansir BBC.

Peralihan dari kontak mata ke gerak bibir dan kembali lagi ke mata membawa makna terjadinya komplikasi serius pada bayi-bayi yang tidak berhasil mengikuti tahapan tersebut, terlepas dari apapun penyebab kegagalan itu.

Salah satu konsekuensinya adalah masalah dalam melakukan komunikasi sosial.

"Jika bayi tidak melakukan peralihan kembali ke mata pada tahun pertamanya, mereka tidak akan mampu berinteraksi sosial secara tepat dengan rekan sosialnya. Dan kita tahu anak-anak yang didiagnosa dengan autisme tetap melihat pada mulut pada usia dua tahun," tambah Profesor Lewkowicz.  

Tim peneliti Universitas Florida Atlantic ini menggunakan sebuah alat 'pelacak mata' yang memungkinkan mereka memonitor secara tepat dan terus menerus atas eksperimen pandangan bayi. Mereka berharap temuan ini bisa membantu untuk menjelaskan penyebab autisme. (bbc/sua)