| Temperatur Kutub Utara Terhangat Dalam 2000 Tahun |
| Ditulis oleh Era Baru | Jumat, 23 Oktober 2009 |
|
Karbon dioksida serta gas-gas lain yang dihasilkan oleh aktivitas manusia mengacaukan siklus 21.000 tahun yang terhubung dengan perubahan berangsur-angsur orbit Bumi terhadap Matahari, menurut laporan tim internasional dalam jurnal Science. "Saya pikir ini benar-benar menegaskan betapa peka Kutub Utara terhadap perubahan iklim ... dan Kutub Utara adalah tempat di mana kali pertama Anda bisa menyaksikan apa yang terjadi pada sistem perikliman dan apa yang akan terjadi di bagian Bumi lainnya," kata Daud Schneider, seorang pengarang sekaligus ilmuwan di US. National Center for Atmospheric Research melalui wawancara telepon. Pendinginan besar dimulai sekitar 7.000 tahun yang lalu, dan temperatur Kutub Utara berada pada titik terendah selama Zaman Es Kecil yang berlangsung dari abad-16 hingga pertengahan abad-19, terus berlanjut hingga awal Revolusi Industri. Trend mendingin ini disebabkan oleh suatu goyangan karakteristik di dalam orbit Bumi yang secara berangsur-angsur mendorong Kutub Utara menjauhi Matahari selama musim panas di utara. Kini posisi Bumi berada sekitar 620.000 mil (1 juta km) lebih jauh dari Matahari pada musim panas Kutub Utara dibanding 2000 tahun yang lalu, kata Darrell Kaufmann dari Northern Arizona University. Pendinginan ini seharusnya berlanjut hingga abad-20 dan 21 dan sesudahnya seiring terjadinya siklus 21.000 tahun. Riset terakhir ini mengonfirmasikan bahwa hal itu tidak terjadi. AC Bumi"Jika bukan karena peningkatan jumlah produksi gas rumah kaca manusia, temperatur musim panas di Kutub Utara seharusnya sudah berangsur-angsur mendingin pada abad lalu," menurut pernyataan Bette Otto-Bliesner, seorang pengarang studi dari National Center for Atmospheric Research. Apa yang terjadi di Kutub Utara tidak hanya itu saja, karena Kutub Utara adalah pengontrol cuaca terbesar di dunia, terkadang juga disebut AC Bumi. Ketika es laut Kutub Utara meleleh di musim panas, maka air samudera akan menjadi lebih gelap, sehingga menyerap sinar matahari lebih banyak, mempercepat pengaruh penghangatan. Penghangatan Kutub Utara juga mempengaruhi gletser di daratan; jika ini meleleh, maka akan berperan pada meningkatnya permukaan laut global. Penghangatan di sini juga dapat mencairkan es abadi di daratan, mengirimkan metana, suatu gas rumah kaca yang hebat ke dalam atmosfer. Para ilmuwan iklim sudah tahu bahwa bumi terhuyung-huyung dalam garis orbitnya, yang mempengaruhi berapa banyak cahaya matahari menjangkau Kutub Utara selama musim panas. Ini adalah pertama kalinya studi skala besar telah mencatat perubahan dekade demi dekade temperatur musim panas di Kutub Utara yang pernah terjadi. Untuk mencari tahu hal ini, para peneliti memeriksa arsip temperatur alam, pada lingkaran pohon, inti es dan sedimen danau dengan model komputer, yang berhubungan lekat dengan catatan alam. Temperatur rata-rata musim panas di Kutub Utara sudah meningkat sekitar 1.66 derajat Celcius dibanding pada waktu trend pendinginan. (Reuters/Rob) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Pendekatan Penelitian Reinkarnasi
- Apakah Telepati Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan Modern?
- KontraS : 14 Tahun Reformasi HAM Hanya Menjadi Trend
- Kisah Bocah 8 Tahun Nasehati Koruptor
- Pemimpin Oposisi Malaysia Hadapi Dakwaan Pidana
- Aset Duta Besar AS Dipublikasikan di Internet China
- Mengungkap Misteri Rahasia Kalender Maya
- Kampak Si Penebang Pohon
- Belenggu Hati
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Apakah Manusia Memiliki Kemampuan Paranormal?
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Semur Kuping Babi Palsu Ditemukan di China
- Lukisan Paling Tenang
- Kisah Kaisar Liang Wu
- Pecahkan Kasus Pembunuhan Melalui Serangga





Mozilla Firefox