| Teka Teki Planet Merah |
| Ditulis oleh Leonardo Vintini, The Epoch Times | Jumat, 02 Januari 2009 |
|
Carl Sagan, Di samping segala kekawatiran ini, ada banyak orang yang juga menuntut untuk menjadikan belahan-belahan bumi yang membeku sebagai suatu daerah perbatasan yang baru. Tetapi saat ide kolonisasi tersebut dikaji lebih mendalam lagi, malah menimbulkan banyak tanda tanya, Apakah kita sudah benar-benar siap untuk berpikir tentang Mars? Ketika sampai pada penentuan-penentuan terhadap kolonisasi masa mendatang, Mars adalah sebuah tempat yang menjanjikan. Secara perbandingan ia lebih dekat dan lebih mudah dijangkau dan secara keseluruhan lebih bisa diterima dibandingkan dengan apa yang mungkin kita temukan setelah menyelidiki lusinan sistem planet lain yang jaraknya lebih jauh. Seperti halnya pesaing yang lain, Mars adalah calon yang lebih baik dibandingkan dengan bulan kita. Menurut Robbert Zubrin, mantan ketua National Space Society. Barangkali dikarenakan umat manusia sudah sejak lama sebenarnya telah dapat melihat Mars pada langit malam, dimana sebagian orang percaya bahwa takdir telah memberkahi umat manusia dengan sebuah tempat tinggal yang ke dua. Meskipun jarak planet merah masih cukup jauh dari bumi kita, sepertinya teknologi modern masih harus menempatkan satu orang manusia di atas tanahnya. Hasilnya adalah ada semacam ketidak ramahan di dalamnya, planet yang nampaknya bagai teman dekat dan memikat kita ternyata tidak akan pernah menjadi planet yang bersahabat. Data yang kita miliki telah memberitahu kita bahwa permukaannya adalah beku dan pada saat ini, atmosfirnya terlalu jelek bagi kehidupan manusia, tetapi mungkin hal tersebut tidak selalu seperti itu. Eksperimen-eksperimen pada permukaan Martian, dan ribuan foto serta gambar resonansi yang dikirimkan dari satelit-satelit yang sedang mengorbit, telah menunjukkan kepada kita dan hampir dapat dipastikan bahwa pada suatu waktu sebelum hari ini, Mars pernah memiliki air yang mencair. Ada bukti-bukti akan adanya Martian yang pernah dilalui hujan, sungai-sungai, danau-danau, dan bahkan sebuah samudera yang tidak begitu luas. Mars juga kaya akan karbon, nitrogen, hidrogen dan oksigen yang merupakan sumber-sumber pokok untuk menopang kehidupan. Semua ini adalah karakteristik yang paling nyata dari Mars sebagai satu calon yang menentukan bagi kolonisasi mendatang. Bila atmosfir Martian telah menunjukkan beberapa hal yang menjanjikan, namun suhunya yang -32 °C dan radiasi sinar ultravioletnya akan membuat suatu hunian singkat pun terasa kurang nyaman. Sebagian orang telah menyarankan pencairan lapisan es pada Martian dan bendungan air yang tersembunyi di bawah permukaannya yang berdebu agar bisa menjadikan planet tersebut lebih layak dihuni. Tetapi meskipun demikian, air bukanlah satu-satunya misteri yang tersembunyi di dalam planet tersebut. Masih ada banyak hal yang harus kita ketahui tentang tetangga merah kita, meskipun jawabannya seringkali tidak bisa ditebak. Sejak 1996-an, di Mars pernah terlihat lusinan satelit-satelit yang mengorbit, pendarat-pendarat dan pengunjung-pengunjung lain dari bumi, tetapi sebagian besar telah berakhir dalam kegagalan dengan tingkat yang bervariasi. Sebagian orang dengan berkelakar menyalahkan “Galactic Ghoul” (setan galaksi), yang merupakan suatu monster fiksi ruang angkasa, yang dikatakan bermaksud menghentikan penyelidikan atas planet merah tersebut dikarenakan mahalnya biaya. Peradaban kuno? “Jauh lampau sebelum manusia memandang ke Mars dan bermimpi suatu hari akan pergi ke sana, sebelum fajar menyingsing di Martian seseorang yang ada di Mars mungkin telah memandang ke bumi dan memperhatikan terbitnya bumi, hijau dan berkilauan. Kami telah melihat buktinya, suatu koleksi artifak (benda peninggalan sejarah hasil kecerdasan manusia) yang menjadi teka teki, tergeletak di pasir Martian yang memerah - dan yang mengejutkan adalah: itu adalah kemungkinan dari runtuhnya sebuah kota yang telah menjadi hancur selama kurun waktu yang sangat panjang di masa lampau dan akhirnya menjadi hamburan yang disapu angin pada planet keempat dari matahari,” tulis Hoagland di halaman prakata dalam bukunya pada 2002, “The Monuments of Mars: A City on the Edge of Forever. (Karya Besar tentang Mars: Sebuah Kota yang Terbuang Selamanya)” Penyelidikan lebih lanjut Hingga akhir hidupnya, ahli astronomi Carl Sagan telah secara blak-blakan menganjurkan sebuah misi berawak ke Mars. Ia tidak gentar oleh besarnya biaya, dengan beragumen, ia menunjuk pada pejabat-pejabat yang terlibat dalam skandal uang tabungan dan pinjaman telah menghabiskan uang dalam jumlah yang sebanding. Meskipun begitu Sagan tetap pada prakteknya sehubungan dengan tujuan-tujuannya yang agung. “Sejauh ini bumi adalah satu-satunya dunia yang diketahui sebagai tempat berlabuhnya kehidupan. Paling tidak, pada masa-masa dekat sekarang ini tidak ada tempat yang lain lagi ke mana spesies kita dapat bermigrasi. Untuk dikunjungi boleh saja, tetapi belum dapat untuk menetap/ tinggal. Suka atau tidak, senang atau tidak, untuk sementara di bumi inilah tempat di mana kita bisa berpijak,” tulis Sagan dalam bukunya 2004, “Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space.” (Titik Biru Muda: Suatu Visi Masa Depan Umat Manusia di Luar Angkasa.) Suatu hari nanti mungkin kolonisasi Mars akan menjadi sebuah kenyataan - sebuah solusi bagi dilema ledakan populasi. Tetapi untuk sekarang ini, masih terlalu sedikit yang sudah diketahui tentang ketidak-ramahan planet merah untuk dapat merubahnya menjadi sebuah hunian yang dapat diharapkan. Terlepas dari apa sebenarnya yang dapat diperoleh di sana, masalah pokok untuk mendapatkan makanan dan sumber-sumber energi juga akan menjadi rintangan penting untuk diatasi. Bahkan di dalam tempat huni-an kita yang biru kecil yang disebut bumi ini pun, secara terus-menerus kita masih harus bergelut dengan semua masalah-masalah ini. (epochtimes/pls)
|
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Pendekatan Penelitian Reinkarnasi
- Apakah Telepati Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan Modern?
- KontraS : 14 Tahun Reformasi HAM Hanya Menjadi Trend
- Kisah Bocah 8 Tahun Nasehati Koruptor
- Pemimpin Oposisi Malaysia Hadapi Dakwaan Pidana
- Aset Duta Besar AS Dipublikasikan di Internet China
- Mengungkap Misteri Rahasia Kalender Maya
- Kampak Si Penebang Pohon
- Belenggu Hati
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Apakah Manusia Memiliki Kemampuan Paranormal?
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Semur Kuping Babi Palsu Ditemukan di China
- Lukisan Paling Tenang
- Kisah Kaisar Liang Wu
- Pecahkan Kasus Pembunuhan Melalui Serangga

"Saya ingat sewaktu terpaku melihat gambar pendaratan pertama yang menunjukkan cakrawala Mars. Saya pikir ini bukanlah sebuah dunia yang asing. Saya mengetahui tempat-tempat seperti ini di Colorado, Arizona dan Nevada. Di sana ada batu-batu dan pasir yang beterbangan dan sebuah bukit yang tinggi, sepertinya alami dan tidak asing, layaknya seperti pemandangan-pemandangan manapun yang ada di Bumi. Mars adalah sebuah tempat."


Mozilla Firefox