Era Baru News >> Iptek >> Bumi & Lingkungan >> Ilmuwan Ungkap Penyebab Tsunami Tonga
Ilmuwan Ungkap Penyebab Tsunami Tonga
Ditulis oleh Erabaru News Minggu, 29 Agustus 2010

Pasifik Selatan - Para ilmuwan mengklaim bahwa, gempa ganda yang dahsyat mengakibatkan bencana tsunami yang menghancurkan sebagian Pasifik Selatan, pada 2009 lalu.

Peristiwa langka ini, diawali gempa berkekuatan 8,1 SR yang kemudian disusul oleh guncangan 8,0 SR. 

Gempa ini mengakibatkan terjadinya tsunami yang telah memporak-porandakan Tonga dan Samoa di Pasifik Selatan.

Bencana ini diperkirakan telah menelan sekitar 192 korban jiwa. Empat kali gelombang dahsyat setinggi lima meter masuk hingga jauh ke daratan.

Tim internasional pimpinan Prof. Thorne Lay dari Universitas California, AS, yang telah meneliti penyebab tsunami tersebut. Hasilnya telah diterbitkan dalam Jurnal Nature.

Catatan Guncangan

Gempa dahsyat, bukan hanya diakibatkan guncangan ganda, namun juga karena lokasi pertama dimana tempat gempa itu terjadi.

Hampir semua gempa dahsyat yang berkekuatan lebih dari 8,0 SR - terjadi di lokasi di mana fragmen kerak bumi masih kaku atau dikenal sebagai lempeng tektonik yang saling bertumbukan satu sama lain.

Gempa Tonga pertama, berlangsung hingga 100 km (62 mil) dari batas lempeng tektonik terdekat. Gempa dahsyat jenis ini dilaporkan pernah terjadi lebih dari 100 tahun pemantauan.

Seperti dilansir BBC News, Prof. Lay mengatakan bahwa gempa Tonga berbeda dari gempa manapun yang pernah terjadi sebelumnya.

Ini tidak seperti biasanya, gempa ini dipicu akibat kerak bumi bergeser ke bawah kerak lain. Karena melengkung, hentakkan dekat pusatnya mengakibatkan terjadinya gelombang.

Gempa dan tsunami merupakan hal umum terjadi di wilayah Pasifik. Wilayah ini dikenal sebagai Ring of Fire karena banyaknya gunung berapi dan merupakan salah satu wilayah paling aktif secara geologis di dunia.

Pada 2004 silam, gempa berkekuatan 9,1 SR juga telah memicu tsunami raksasa yang terkenal dengan nama Boxing Day Tsunami. Bencana dahsyat ini telah menewaskan sekitar seperempat juta penduduk 14 negara di wilayah samudera Pasifik dan Hindia. (Erabaru/BBC/sua)