| Kepunahan Ancam Biota Laut Bohai Tiongkok |
| Ditulis oleh Era Baru News | Kamis, 15 September 2011 |
|
Kaum intelektual berpendapat, mengeluarkan uang untuk mengatasi pencemaran bukan hal terpenting saat ini. Pihak penguasa harus memiliki tekad untuk mengubah pola pertumbuhan ekonomi, dan mengorbankan kecepatan perkembangan ekonomi untuk melindungi lingkungan hidup. Jika tidak, maka hasilnya ibarat dokter yang tidak becus meracik obat. Satu resep tidak manjur, ganti lagi dengan resep yang lain. Tangkapan Ikan Semakin BerkurangPria bermarga Wang yang menetap di Teluk Laizhou Provinsi Shandong mengatakan pada reporter The Epoch Times, pada 1 Juni hingga 31 Agustus setiap tahunnya adalah musim di mana ikan-ikan akan bermigrasi kembali ke Teluk Bohai untuk menetaskan telurnya, dan setelah bertelur ikan-ikan itu akan berenang kembali ke Laut Kuning. Jadi periode 3 bulan tersebut adalah larangan penangkapan ikan. Ia mengatakan, eksploitasi yang tidak dibatasi di lahan kosong di Teluk Laizhou juga dapat berdampak pada kapasitas penetasan telur ikan. Begitu periode larangan penangkapan ikan berakhir, pada 1 September semua nelayan tidak sabar untuk segera mengemudikan kapalnya ke laut untuk menangkap ikan. Pada Kamis (8/9) lalu, reporter The Epoch Times mewawancarai sebuah perkumpulan nelayan di Kecamatan Yangkou yang merupakan inisiatif masyarakat, yang diketuai oleh Sun Xiaobao. Ia mengatakan bahwa perkumpulan tersebut beranggotakan 368 unit kapal, yang memiliki tempuh pelayaran laut jarak pendek dengan menghabiskan waktu sekitar 4 – 6 hari setiap kali melaut, menempuh jarak sekitar 100 mil laut. Setiap kali berlayar menangkap ikan, ia selalu membuat catatan harian, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah penangkapan tahun ini hanya sepertiganya saja. Akhir bulan Mei hingga Juni merupakan periode di mana ikan berenang kembali ke laut lepas. Saat itu bertepatan dengan tragedi tumpahnya minyak oleh Perusahaan Kangfei. Ia mengatakan, karena areal tumpahan minyak terlalu luas, kejadian itu tidak hanya berdampak pada produksi bibit ikan, namun juga berdampak pada jumlah penangkapan ikan setempat. Sebenarnya sejak bulan Juli lalu ia sudah mengetahui jumlah ikan akan merosot drastis, sebab sebagian nelayan ada yang diam-diam melaut pada bulan Juli yang seharusnya masih merupakan periode larangan penangkapan ikan. Mereka mendapati keadaan pencemaran sangat parah, sehingga kali ini dirinya sudah memperkirakan akan merugi bila berlayar. Namun ia tetap melaut, dengan tujuan untuk membuat catatan pembuktian bahwa jumlah ikan memang telah berkurang drastis. Sun mengatakan bahwa mereka telah melaporkan catatan akan fakta yang terjadi di lapangan ini ke pemerintah setahap demi setahap hingga tingkat atas, dan berharap agar Dinas Perikanan bersedia untuk menuntut ganti rugi dari Perusahaan Kangfei. Para nelayan mengemukakan kepada reporter bahwa setiap gaji telah naik satu kali lipat, maka setiap ton minyak diesel ikut naik sebanyak 2.000 RMB, semua biaya pun ikut naik, sementara jumlah penangkapan telah berkurang begitu banyak, sehingga mereka mengalami kerugian yang besar. Jika mencoba satu dua kali melaut lagi, hasil penangkapan masih tetap seperti itu, para nelayan telah bersiap-siap untuk melupakan rencana penangkapan ikan semester kedua tahun ini. Mengenai tuntutan ganti rugi dari Perusahaan Kangfei, pengacara lingkungan hidup Xia Jun berpendapat, jika perkumpulan tersebut dapat membuktikan bahwa mereka menangkap ikan secara legal di Laut Bohai, serta dapat membuktikan bahwa jumlah penangkapan ikan mereka berkurang drastis sebagai akibat dari tumpahan minyak tersebut, maka mereka berhak untuk menuntut ganti rugi. Kuncinya terletak pada bukti yang harus dapat diungkapkan oleh para nelayan. Tahun Terakhir Pencemaran Laut Bohai ParahSejak 4 Juni tahun ini, di bagian tengah dan selatan Laut Bohai terjadi serentetan kecelakaan tumpahnya minyak di sumur minyak 19-3 di Fenglai. Kantor Berita Xinhua pada 8 September lalu memberitakan bahwa hingga 6 September lalu, tumpahan minyak telah mencemari wilayah laut seluas lebih dari 5.500 kilometer persegi. Saat ini dampak akibat tumpahan minyak itu sama sekali belum dapat diatasi. Dalam analisa dari Rapat Eksekutif Dewan Negara pada 7 September lalu disebutkan bahwa Laut
Sun Xiaobao juga menyatakan, di Teluk Bohai terdapat banyak industri kimia berat, selama 5 – 6 tahun terakhir pencemaran di daerah tersebut jauh lebih memprihatinkan, penambahan kapal nelayan pun sangat cepat. Penangkapan ikan secara berlebihan oleh nelayan juga salah satu penyebab rusaknya biota laut, selain itu penimbunan laut juga merusak keseimbangan ekosistem. Beberapa jenis benih ikan bertelur di wilayah laut tertentu. Penimbunan laut menyebabkan jenis ikan tersebut tidak dapat ditetaskan, sehingga memengaruhi populasi ikan. Penanggung jawab lingkungan hidup Provinsi Shandong pernah mengungkapkan kepada media massa setempat, sulitnya mengatasi pencemaran pada sungai terutama adalah karena pembuang limbah adalah “perusahaan bonafit”, dan tidak sedikit di antaranya adalah perusahaan yang telah terdaftar di bursa saham. Para tokoh lingkungan hidup menyebutkan bahwa Laut Bohai telah menjadi tempat pembuangan sampah, lebih dari seperlima air lautnya telah tercemar. Korbankan Pertumbuhan Ekonomi untuk Lindungi Lingkungan HidupAda yang mengatakan, Laut Bohai akan segera berubah menjadi laut mati beberapa puluh tahun kemudian. Sun mengatakan kepada reporter bahwa tidak perlu menunggu puluhan tahun, bahkan hanya dalam 3 – 5 tahun kemudian Laut Bohai sudah tidak dapat bertahan lagi. Menurut analisa Sun, saat ini di dekat Laut Bohai ada sumur minyak Shengli, sumur minyak Dagang, serta tambang minyak laut. Mereka menambang minyak dengan sangat intensif. Pabrik di sekitar Laut Bohai pun kian hari kian banyak, dan terus membuang limbah cair ke laut, belum lagi limbah cair dari kota terdekat, dan pembuangan sampah, telah membuat pencemaran menjadi sangat parah. Ia mengatakan bahwa pemerintah hanya tahu menggarap perekonomian saja, tetapi sama sekali tidak peduli pada pencemaran lingkungan yang terjadi. (Qiao Qi / Epochtimes/lie) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Pendekatan Penelitian Reinkarnasi
- Apakah Telepati Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan Modern?
- KontraS : 14 Tahun Reformasi HAM Hanya Menjadi Trend
- Kisah Bocah 8 Tahun Nasehati Koruptor
- Pemimpin Oposisi Malaysia Hadapi Dakwaan Pidana
- Aset Duta Besar AS Dipublikasikan di Internet China
- Mengungkap Misteri Rahasia Kalender Maya
- Kampak Si Penebang Pohon
- Belenggu Hati
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Apakah Manusia Memiliki Kemampuan Paranormal?
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Semur Kuping Babi Palsu Ditemukan di China
- Lukisan Paling Tenang
- Kisah Kaisar Liang Wu
- Pecahkan Kasus Pembunuhan Melalui Serangga

Laut daratan terbesar RRT, yakni Laut Bohai, mengalami pencemaran serius. Pakar menjelaskan, beberapa puluh tahun lagi laut ini akan menjadi laut mati, karena biota laut di dalamnya terancam punah. Sementara perkumpulan nelayan setempat menyatakan bahwa jumlah penangkapan ikan tahun ini hanya sepertiga dari hasil tahun lalu, juga dikemukakan bahwa karena perkembangan ekonomi, dalam 3 hingga 5 tahun ke depan tidak ada lagi ikan di Laut Bohai yang bisa ditangkap.
Bohai adalah laut daratan yang setengah tertutup, karena di sekitarnya terkonsentrasi industri kimia berat dalam jumlah besar, menyebabkan sejumlah aliran sungai membawa pencemaran dalam jumlah besar dan dialirkan ke laut, ditambah lagi dengan penimbunan laut yang berlebihan sehingga mengakibatkan hilangnya lahan basah pantai, pencemaran di Teluk Bohai dan Teluk Liaodong pun menjadi sangat parah. Menurut penuturan, di sepanjang pesisir Laut Bohai berdiri banyak wilayah industri, dan sebagian besar merupakan industri dengan tingkat pencemaran tinggi.


Mozilla Firefox