| Berlian Juina Ungkap Kedalaman Siklus Karbon di Mantel Bumi |
| Ditulis oleh Era Baru News | Selasa, 27 September 2011 |
|
Kerak bumi (lapisan bumi paling luar) terdiri dari banyak lempeng tektonik yang terus mengalami pergeseran antara satu dengan yang lain. Sampai sekarang, para ilmuwan masih tidak bisa menentukan apa yang menyebabkan pergeseran pada lempeng tektonik bumi ini. Sebuah tim peneliti internasional yang mempelajari partikel mineral yang terperangkap di dalam berlian dari Juina, Brasil, telah menemukan bukti bahwa ternyata lempeng tektonik dapat tenggelam lebih dari 640 km di bawah permukaan bumi, dan kemudian bergerak muncul lagi ke permukaan bumi. “Informasi yang terdapat dalam berlian sangat berguna untuk mempelajari bagian-bagian yang tidak dapat diakses dari bagian dalam Bumi,” kata ketua tim penulis studi, Michael Walter dari University of Bristol dalam siaran pers. “Ini sedikit terasa seperti mempelajari fosil nyamuk yang terdapat di dalam batu amber. Meskipun kita tidak dapat mengekstrak DNA dan menciptakan dinosaurus (seperti dalam film Jurassic Park), namun kita dapat mengekstrak komposisi kimiawi mereka dan mengetahui di mana mereka terbentuk berdasarkan pertumbuhan mineral yang terjadi di laboratorium pada kondisi ekstrim.” Tim menemukan bahwa komposisi mineral yang terkandung di dalam berlian menunjukkan permukaan batuan yang telah meleleh dan rekristalisasi di bawah kondisi ekstrim di dalam mantel bumi yang lebih dalam. Asal-usul bawah tanah dari spesimen Juina membuat mereka unik. Kebanyakan berlian ditambang dari permukaan bumi yang berasal dari kedalaman 200 km di bawah tanah. Sedangkan berlian Juina, berasal dari kedalaman hingga 640 km di bawah tanah. “Hal yang menakjubkan tentang berlian dari Juina adalah bahwa setiap butir berlian yang kita pelajari seakan selalu menyediakan sesuatu yang tidak terduga,” ujar tim penulis, Simon Cohn. ”Kami terus menyelidiki mereka secara lebih terperinci dengan berbagai teknik baru, dan mereka terus memberikan lebih banyak rahasia yang luar biasa.” Para ilmuwan juga menemukan bahwa beberapa spesimen mengandung jumlah yang sangat rendah dari bentuk karbon yang disebut 13C, dan yang mengandung kadar rendah dari karbon 13C ini biasanya merupakan kerak samudera (lempeng tektonik dasar laut). Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa siklus karbon meluas hingga ke mantel bumi bagian bawah dan bukan hanya pada mantel atas seperti yang sebelumnya diyakini. “Ini benar-benar menarik untuk dicermati, bahwa berlian Brasil berperan penting dalam hal terobosan ilmiah,” kata Debora Araujo, profesor di Universidade de Brasilia, dalam rilis. “Sampel dari daerah ini (Juina) telah diteliti selama beberapa tahun, dan kami seakan tidak pernah kehabisan penemuan-penemuan baru yang menarik.” Tim penulis berspekulasi bahwa berlian-berlian tersebut dibawa kembali ke kerak bumi bagian luar seiring dengan bergerak naiknya lempeng tektonik mantel-dalam pada sekitar 90 juta tahun yang lalu selama Periode Cretaceous. (Ginger Chan/Epochtimes/osc) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Pendekatan Penelitian Reinkarnasi
- Apakah Telepati Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan Modern?
- KontraS : 14 Tahun Reformasi HAM Hanya Menjadi Trend
- Kisah Bocah 8 Tahun Nasehati Koruptor
- Pemimpin Oposisi Malaysia Hadapi Dakwaan Pidana
- Aset Duta Besar AS Dipublikasikan di Internet China
- Mengungkap Misteri Rahasia Kalender Maya
- Kampak Si Penebang Pohon
- Belenggu Hati
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Apakah Manusia Memiliki Kemampuan Paranormal?
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Semur Kuping Babi Palsu Ditemukan di China
- Lukisan Paling Tenang
- Kisah Kaisar Liang Wu
- Pecahkan Kasus Pembunuhan Melalui Serangga

Apa yang terjadi pada lempeng tektonik samudera setelah mengalami pergeseran ke bawah lempeng tektonik yang lain? Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan di “Science” minggu ini, lempeng tektonik ternyata dapat menyelam jauh ke dalam mantel bumi yang lebih rendah dan muncul kembali kemudian, yang berarti bahwa siklus karbon bawah tanah ternyata jauh lebih luas daripada yang telah diperkirakan sebelumnya.


Mozilla Firefox