| Ditemukan Kerangka Orang Barat Pada Makam Kuno Mongolia |
| Ditulis oleh Erabaru News | Selasa, 11 May 2010 |
|
Orang meninggal memang dapat menyingkap rahasia, namun mereka berbicara dalam bisikan berbelit. Kerangka pria tua pada salah satu diantara 200 makam, baru-baru ini digali dari makam 2.000 tahun di Timur Mongolia, dekat pebatasan dengan China. Uji DNA yang dilakukan dari tualang belulang pria ini menunjukkan bahwa ia sebagai keturunan Eropa atau Asia Barat. Namun ia masih mengasumsikan posisi penting dalam Kekaisaran Xiongnu, Mongolia kuno, ujar pakar genetika, Kyung-Yong Kim dari Universitas Chung-Ang, Soul, Korea Selatan serta sejumlah rekannya. Berdasarkan penggalian dan deskripsi sebelumnya dalam catatan Tiongkok kuno, sejumlah ilmuwan mencurigai itu adalah kekaisaran Xiongnu-yang menguasai daerah yang sangat luas di dalam dan sekitar Mongolia dari 209 SM hingga 93 M-termasuk berbagai etnis dan suku nomaden. Kekaisaran Xiongnu pernah menguasai rute perdagangan utama yang dikenal sebagai Sutera Asia telah membuka pengaruh Barat dan Tiongkok. Para peneliti masih meneliti bahasa yang digunakan oleh penguasa dan elit politik Xiongnu, ujar arkeolog David Anthony dari Hartwick College, Oneonta, New York. Namun bukti genetik baru itu menunjukkan bahwa orang kuno - 2.000 tahun tersebut "multi etnis, seperti pemerintahan sendiri Xiongnu," lanjut Anthony. Orang yang sudah lama meninggal memiliki satu set mutasi genetik pada kromosom Y, yang merupakan warisan dari nenek moyang ayah, yang sering muncul saat ini antara penutur laki-laki dari bahasa Indo-Eropa di Eropa Timur, Asia Tengah dan India utara, laporan tim Kim pada American Journal of Physical Anthropology. Orang yang sama menampilkan pola mutasi DNA mitokondria, yang diwarisi dari nenek moyang ibu, karakteristik penutur bahasa Indo-Eropa modern di Asia Tengah, kata para peneliti. "Kami tidak mengetahui, apakah orang tua yang usianya 60-70 tahun ini mencapai Mongolia sendiri atau bersama keluarganya yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi," ujar Charles Brenner, analis DNA Oakland, California. Menurut kelompok Kim, dua kerangka lain dari pemakaman Xiongnu di Duurlig Nars, menunjukkan adanya kaitan genetik dengan orang-orang yang tinggal di timur laut Asia. Beberapa anggota tim lain terdiri dari Kijeong Kim of Chung-Universitas Ang, Eregzen Gelegorj dari Museum Nasional Mongolia di Ulaanbaatar dan Eun-Jeong Chang dari Museum Nasional Korea di Seoul. Tanda genetik pria Duurlig Nars tersebut mendukung pemikiran bahwa Indo-Eropa migrasi ke timur laut Asia sebelum 2.000 tahun lalu. Pemikiran ini cukup masuk akal, namun tidak di konfirmasi, ujar pakar genetika, Peter Underhill dari Universitas Stanford. Menurut prediksi Underhill, penelitian lebih lanjut frekwensi mutasi kromosom Y dalam populasi modern, akan memungkinkan melacak secara tepat akar geografis pria Duurlig Nars tersebut. Sejumlah ilmuwan telah berupaya menelusuri asal-usul dan penyebaran beberapa bahasa terkait dengan yang kini ditemukan di Eropa, India dan bagian lain Asia. Satu hipotesis menyatakan bahwa bahasa Indo-Eropa berkembang melalui beberapa gelombang ekspansi dan penakhlukan oleh para pengembara yang dikenal sebagai Kurgans dengan tunggangan kuda jinak, melakukan perjalanan panjang. Dalam rencana tersebut, Kurgans meninggalkan tanah airnya di utara Laut Hitam, 6.400 tahun lalu, yang kini menjadi Rusia. Pendapat lain menyatakan bahwa, petani Turki kuno yang menyebarkan bahasa Indo-Eropa, sejak mereka membuka lahan dari satu tempat ke tempat yang lain, sekitar 9.000 tahun lalu. Sejak 1978, ditemukan mumi 2.400 - 4.000 tahun dengan fitur Eropa di barat laut China, tidak jauh dari Mongolia, yang telah memicu hipotesis (SN:2/25/95, p.120). Ditemukannya sejumlah roda besar memicu pula adanya kemungkinan bahwa orang asing telah memperkenalkan gerobak dan kereta ke China. Ditambah pula adanya beberapa laporan penemuan dalam Human Genetics, September 2009. Pakar genetika Christine Keyser dari Universitas Strasbourg, Perancis, menemukan bahwa sembilan dari 26 kerangka yang sebelumnya digali pada situs Kurgan di utara Rusia memiliki pola mutasi kromosom Y, menandai awal perluasan Indo-Eropa. Genetik yang sama dengan karakteristik orang Duurlig Nars. Sejak 2.000 tahun lalu, beberapa bahasa Indo-Eropa paling timur kemungkinan digunakan dalam percakapan di barat laut China, ujar Anthony. Sehingga seorang pembicara Indo-Eropa dapat mensejajarkan dirinya dengan politisi Xiongnu, imbuhnya. Makam pria Duurlig Nars ini terletak dekat makam petinggi Xiuongnu, yang kemungkinan telah memperoleh kehormatan. Kelompok Kim berencana mengekstrak dan mempelajari DNA dari penemuan tambahan kerangka Duurlig Nars. Untuk saat ini, Anthony mengatakan, "Penelitian baru dari Mongolia ini cukup penting, karena menambah satu lagi titik terang kegelapan langit prasejarah." (Erabaru/DiscoveryNews/sua) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Video Kekerasan ABG di Bali Banjir Kecaman
- Misteri Piramida di Gunung Sadahurip
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Hanya Sebulan 50 Bencana Menimpa Indonesia
- Astronom Temukan Planet Layak Huni
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Udumbara Bunga Surgawi
- Tahun Naga, Tahun Perubahan

Kerangka peninggalan 2.000 tahun yang ditemukan di Mongolia Timur mengungkap warisan manusia multi-etnis.





Mozilla Firefox