|

Kata Pengantar: Mr. Ping adalah manusia aneh yang berkultivasi Tao bawaan yang pernah saya kenal dengan usia lebih dari 500 tahun. Semua artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan kenangan, bahkan mengintegrasikan kenangan beberapa orang, serta percakapan saya dengan Mr. Ping selama bertahun-tahun. Saya merangkumnya menjadi satu, ada tambahan beberapa tulisan di antaranya, agar artikel lebih logis dan nyambung, namun tidak menyimpang dari fakta. Karena pengalaman ini, saya menemukan di dalam dunia ini ada banyak hal yang sama sekali tidak terbayangkan oleh orang, setelah membaca, kebanyakan dari mereka akan mengubah pola berpikirnya.
13. Setan Rubah (2)
Saya bertanya, apakah memohon petir untuk menyambar setan-setan ini? Mr. Ping mengangguk. Dia mengatakan bahwa jika masalah itu sesuai kehendak langit, petir pada malam ini akan menyambar setan-setan itu hingga mati, jika tidak sesuai dengan kehendak langit, maka harus mencari metode lain.
Pada malam hari Mr. Ping mengatakan agar kami tidur di rumah penduduk desa, sementara dia akan ke gunung mengundang petir.
Sekitar jam sepuluh malam, tiba-tiba di langit mulai muncul petir, dan semakin lama semakin kencang, semakin lama semakin dekat dan beberapa hari ini langit sangat cerah. Saya tahu pasti Mr. Ping sudah berhasil mengundang petir, tampaknya ini adalah sesuai dengan kehendak langit, pasti akan sukses!
Warga desa menjadi panik, mereka teringat ucapan nenek tua itu pada pagi hari, sekarang benar-benar petir telah datang dan suaranya begitu menggelegar, mereka jadi takut, beberapa penduduk desa datang ke rumah tempat kami menginap.
Shinse Ajaib menarik tangan saya, berdiri di depan pintu, sembari tersenyum memandang penduduk desa. Penduduk desa juga tidak berani berbicara, mereka telah memperolah banyak pertolongan dari Shinse Ajaib. Akhirnya dua nenek tua maju berbicara, mereka menunjuk ke arah kami dan mengatakan, agar kami kali ini mau berbuat baik dan segera meninggalkan desa mereka, bila tidak mereka akan kena sial disambar petir. Beberapa orang memimpin, warga desa lain juga mengikutinya. Shinse Ajaib mengangguk, tidak berkata apa-apa, dia lantas menarik tangan saya, menarik saya ke luar desa, ada beberapa warga desa secara diam-diam mengikuti, ingin melihat apakah kami benar-benar telah pergi.
Shinse Ajaib membawa saya ke gunung, sepanjang jalan kami berjalan perlahan-lahan, hari sudah gelap tak kelihatan apapun, namun guntur dan petir menerangi jalan kami. Kami berjalan selama satu jam, menemukan sebuah pohon dan istirahat di bawahnya.
Saya khawatir dan berkata pada Shinse, kita sudah pergi, bagaimana kalau Mr. Ping tidak dapat menemukan kita? Shinse Ajaib tersenyum dan berkata, “mungkin kita tidak bisa menemukannya, tapi dia bisa menemukan kita,” ujarnya sambil mengelus kepala saya.
Gemuruh guntur sampai tengah malam baru berhenti. Kami berdua bersama-sama tidur dengan bersandar di pohon. Keesokan harinya, saya terbangun, begitu membuka mata rupanya Shinse Ajaib pagi-pagi sudah bangun, karena saya bersandar pada badannya, dia tidak bergerak takut membangunkan saya.
Setelah kami bangun, saya dengan cemas bertanya pada Shinse Ajaib, “dimana Mr. Ping? Mengapa dia tidak datang mencari kita? apakah dia pergi ke desa? Saat saya sedang bertanya, saya mendengar suara langkah kaki dan menemukan tidak jauh ada seorang pria dari balik pohon menuju kearah kami. “Itu Mr. Ping!” Teriak saya sangat senang. Mr. Ping mengatakan telah melihat kami pada tengah malam, tapi kami sedang tidur, dia tidak membangunkan kami.
Saya bertanya pada Mr.Ping, “apa yang terjadi dengan setan-setan rubah itu?” Mr. Ping mengatakan setan-setan itu semua telah mati disambar petir, juga ada segerombolan ular dan samur kuning juga telah mati disambar petir, ini adalah kehendak langit dan dia telah berkunjung ke kuil di tengah malam mengambil Chen Xiangxie itu.
Kami sangat senang, namun juga khawatir. Shinse Ajaib mengatakan penduduk desa percaya kata-kata nenek Dewi pada siang hari itu, mereka menganggap kita sebagai monster dan diusir, sekarang kita pasti tidak diizinkan masuk ke desa, ini sesuatu yang sulit.
Mr. Ping mengatakan kalau begitu kita tunggu saja, kita tidak bisa mengganggu orang lagi. Nanti kalau mereka sudah mengerti baru kita pergi, ini juga adalah kehendak langit.
Satu hari satu malam kami dengan cemas menunggu di gunung, terlihat ada beberapa penduduk desa ke gunung untuk melihat kami, kami tidak tahu apakah mereka merasa tidak enak, atau takut pada kami, secara diam-diam menghindar. Pada hari ketiga, sekelompok penduduk desa datang menemui kami. Sampai di hadapan kami, mereka berlutut dan kemudian bersujud, mereka mengatakan pada malam itu mereka telah salah paham, sembarang mendengar perkataan nenek Dewi itu, budi dibalas dengan dendam, meminta maaf kepada kami. Sekarang mereka naik gunung menemui kami untuk menebus dosa, dan mau mengotong kami kembali ke desa, berharap kami bisa memaafkan mereka.
Shinse Ajaib mengusap jenggot dan tersenyum, dia menarik mereka yang bersujud agar berdiri dan menepuk-nepuk bahu mereka, mengatakan kesalahpahaman dapat diselesaikan itu sangat baik, tidak perlu sembah sujud seperti ini, kami juga bukan orang yang tidak paham. Penduduk desa semakin malu jadinya.
Kemudian mereka menarik kami untuk duduk di "kursi kereta" mereka, agar bersama-sama kembali ke desa. Kami menolak dan mengatakan berjalan bersama-sama lebih baik, sambil berjalan sambil berbincang-bincang, tidak perlu seperti itu. Lalu mereka menyetujuinya dan kami kemudian kembali ke desa.
Di dalam perjalanan, Shinse Ajaib bertanya pada penduduk desa mengenai apa yang terjadi pada beberapa hari ini. Penduduk desa mulai bercerita, mereka mengatakan, pada malam petir itu, nenek Dewi tiba-tiba mulutnya berbuih, dia mengatakan nasibnya sudah tamat, masih juga membungkukkan badan memohon ke langit agar jangan menyambar dia, kemudian bola matanya memutar ke atas langsung berbaring di lantai, keluarganya membawa dia bergegas ke rumah sakit.
Hari berikutnya, beberapa mil di luar desa ada berita lain, mereka mengatakan di luar desa ada sebatang pohon tua yang tidak tahu sudah berapa tahun usianya, malam itu tumbang disambar petir. Batang pohon itu tengahnya berlubang, di dalam pohon ada seekor ular sebesar lengan, juga mati disambar petir. Dan pagi ini, penduduk desa tetangga pergi ke gunung untuk berburu, tidak sampai siang sudah berlari kembali pulang, mereka mengatakan di gunung mencium bau gosong, mereka kemudian menelusurinya dengan mengikuti bau gosong itu. Akhirnya mereka menemukan sebuah sarang rubah yang sudah hangus terbakar. Mereka mengeluarkan setumpuk rubah, semua sudah mati, beberapa terbakar jadi hitam seperti arang. Di gunung ini mereka dulu tidak pernah melihat rubah sebelumnya, ini benar-benar aneh.
Mereka juga mengatakan bahwa nenek Dewi itu setelah dibawa ke rumah sakit menjadi ediot dan lumpuh, tergeletak di atas tempat tidur, sebentar tertawa sebentar menangis, air liur keluar dari mulutnya, sembarangan berkata, siapa pun tidak tahu apa yang dibicarakannya.
Malam itu mereka bersama-sama berdiskusi, merasa sudah bersalah berprasangka buruk dan mengusir kami. Mereka melihat kami baik-baik saja, tidak disambar petir, dan mereka ini telah disambar petir dan mengatakan pasti kami ini adalah manusia Dewa. Kemudian bertanya panjang lebar tentang kami, Shinse Ajaib hanya tertawa tidak menjawab. (Dajiyuan/lim)
(Bersambung)
Menguak Kehidupan Nyata Orang Aneh di Luar Duniawi (15)
|
Comments
sungguh menarik untuk disimak
RSS feed for comments to this post.