Era Baru News >> Kehidupan >> Cermin Kehidupan >> Cincin Keenam
Cincin Keenam
Ditulis oleh Epochtimes Senin, 08 Maret 2010

Semasa Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang sangat serius, seorang gadis benama Maria yang berusia 18 tahun dengan susah payah mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai seorang karyawan di sebuah toko permata berkelas tinggi.

Pada suatu hari menjelang Natal, ada seorang pria yang berusia 30-an tahun mendatangi toko tempatnya bekerja. Meski dia berpenampilan rapi dan bersih, serta terlihat sangat intelek, tetapi sangat jelas dia juga termasuk salah seorang yang kurang beruntung mengalami pukulan krisis ekonomi.

Pada saat itu di dalam toko hanya tinggal Maria, beberapa karyawan yang lainnya baru saja keluar toko untuk makan siang. Ketika Maria menyapa pengunjung tersebut, pria ini tersenyum dengan terpaksa, sinar pandangan matanya buru-buru menghindar dari wajah Maria, seolah-olah dia sedang berkata: "Saya hanya datang untuk melihat-lihat saja, Anda tidak perlu menghiraukan saya."

Saat itu telepon berdering. Sewaktu Maria hendak menerima telepon, tidak sengaja dia telah menjatuhkan wadah yang diletakkan di atas estalase. Di dalam wadah itu berisi enam cincin emas yang indah dan sekarang berhamburan di atas lantai.

Maria bergegas memunguti cincin tersebut, tetapi setelah dia memungut cincin yang kelima, dia tetap tidak dapat menemukan cincin yang keenam. Ketika dia mengangkat kepala melihat sekeliling, dia melihat pria itu sedang berjalan menuju pintu keluar, seketika itu Maria mengerti keberadaan cincin yang keenam itu.

Saat tangan pria tersebut hampir menyentuh pegangan pintu, terdengar suara Maria dengan lembut memanggil: "Maaf, Tuan."

Pria itu membalikkan tubuhnya, dan dua insan ini saling memandang selama satu menit penuh tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hati Maria berdebar-debar, dia berpikir di dalam hati  "Bagaimana jika pria tersebut bermain kasar? Bisakah dia ..."

"Ada masalah apa?" Dia pada akhirnya membuka mulut untuk bertanya.

Maria berusaha sekuat tenaga untuk menahan degupan jantungnya yang kencang, sambil memberanikan diri untuk bertanya: "Tuan, ini adalah kali pertama saya bekerja, bukankah saat ini tidak mudah untuk mencari suatu pekerjaan?"

Pria tersebut mengamati dan memandang Maria dalam waktu yang cukup lama, kemudian sebersit senyuman tampak di wajah pria itu, dan akhirnya hati Maria juga menjadi tenang. Dua insan ini seperti teman lama yang baru saja berjumpa, mesra dan alami.

"Ya, sebenarnya memang begitu." Dia menjawab, "Akan tetapi saya bisa memastikan, Anda bekerja di sini akan bekerja dengan baik."

Dia diam sejenak dan kemudian dia melangkah maju menjulurkan tangannya kearah Maria: "Bolehkah saya memberikan selamat kepada Anda?"

Setelah bersalaman dengan erat, dia membalikkan badan melangkah dengan perlahan menuju pintu keluar.

Maria menghantar bayangan pria itu hingga hilang dari pandangan mata, kemudian dia membalikkan tubuh kembali ke meja etalase dan meletakkan cincin keenam itu ketempat semula. Sepasang mata Maria agak sembab, di dalam hati dia berpikir: "Tuhan! Biarlah hari-hari yang sulit ini cepat berlalu, biarkanlah kita semua bisa menjadi lebih baik."

Memahami, bermurah hati, dengan perasaan hati menggerakkan hati orang lain, gadis pandai dan baik hati ini telah menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. (Ming Xin/The Epoch Times/lin)