| 7 Sen |
| Ditulis oleh Zhe Sien | Senin, 08 Maret 2010 |
|
“Sudahlah, jangan menagih hutang kepadanya, dia kan ibumu.” “Tidak bisa, hutang tetap hutang, dia berhutang kepada saya, tentu harus bayar lunas, tidak boleh kurang.” “Sebenarnya, berapa sih hutangnya kepadamu?” “7 Sen.” “Bagaimana caranya engkau akan menagih kembali?” “Saya punya cara sendiri, lihat saja nanti.” Kakek saya terbangun dari tidurnya, percakapan kedua anak kecil ini sangat nyata, dia memandang ke sekelilingnya disana tidak ada perumahan dan tempat tinggal penduduk, dari manakah suara kedua anak kecil itu? Dia sangat kebingungan, dia memandang sekali lagi disekelilingi, rupanya dia duduk ditengah kuburan, tidak jauh dari tempat itu terlihat sebuah kuburan yang masih baru, bekas galian tanah dikuburan itu masih basah. Dia merasa ketakutan, pada saat itu dia melihat seorang perempuan muda yang sedang berjalan mendekatinya, dia memakai selendang bunga-bunga dikepalanya, memakai rok indah berwarna biru. Ditangannya memegang sebuah keranjang. Setelah berada didekatinya, wajahnya kelihatan sangat sedih. Dia berjalan medekati kuburan baru itu, kemudian memasang dupa dan lilin didepan kuburan itu, lalu mengeluarkan nasi dan beberapa piring kecil lauk, sambil menangis dia berkata :”Anakku… uh…uh.., masih begitu kecil engkau telah meninggal, Anakku.. uh…uh…uh, tidak tahukah engkau ketika saya melihat anak tetangga saya langsung teringat kepadamu, saya merindukanmu uh..uh… anakku, jawablah jika engkau mendengar panggilan saya….. Mendengar tatapan sedih dari ibu muda yang kehilangan anak ini, kakek saya hatinya sangat terharu. Tiba-tiba rok ibu muda ini tersambar oleh api lilin, dengan segera ia menepuk mati api diroknya, terlihat bekas bakaran dipinggiran roknya yang cantik itu. Sambil menangis dia berkata :” aduh…Ini adalah rok yang kemarin saya beli dengan harga 7 Sen.” Melihat kejadian ini kakek saya menjadi terbengong, Rupanya anak kecil itu telah menagih hutangnya. (Erabaru/hui) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Pendekatan Penelitian Reinkarnasi
- Apakah Telepati Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan Modern?
- KontraS : 14 Tahun Reformasi HAM Hanya Menjadi Trend
- Kisah Bocah 8 Tahun Nasehati Koruptor
- Pemimpin Oposisi Malaysia Hadapi Dakwaan Pidana
- Aset Duta Besar AS Dipublikasikan di Internet China
- Mengungkap Misteri Rahasia Kalender Maya
- Kampak Si Penebang Pohon
- Belenggu Hati
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Apakah Manusia Memiliki Kemampuan Paranormal?
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Lukisan Paling Tenang
- Semur Kuping Babi Palsu Ditemukan di China
- Kisah Kaisar Liang Wu
- Pecahkan Kasus Pembunuhan Melalui Serangga

Cerita ini adalah cerita yang dialami kakek saya. Kakek saya adalah seorang dokter terkenal didaerahnya. Pada suatu malam dia mendapat panggilan untuk mengobati orang di kampung, dia berangkat dengan menaiki kapal ferry. Ketika dia sampai pada keesokan harinya, fajar belum menyingsing, dia tidak ingin merepotkan keluarga pasiennya, dia memutuskan akan mengetuk pintu setelah fajar. Di subuh yang gelap, dia duduk ditepi sungai untuk beristirahat. Tidak berapa lama kemudian, terdengar percakapan 2 anak kecil.


Mozilla Firefox