| Suka Duka Masa Sekolah |
| Ditulis oleh Epochtimes | Kamis, 11 Maret 2010 |
|
Percakapan dengan Benny, tidak terasa membuat saya teringat pada tempaan hidup di masa SMA selama tiga tahun. Pada kenaikan kelas dua, dibagi menjadi jurusan IPS dan IPA. Teman sekelas yang masih bisa mempertahankan hubungan juga sudah sangat sedikit. Kalau dipikir kembali masa kehidupan sebelum terbagi jurusan menjadi IPS dan IPA, masih tetap patut dikenang. Di dalam kelas jumlah murid laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan dengan murid perempuan. Saat belajar sendiri di malam hari sering teringat senda gurau teman-teman sekelas. Benny duduk di belakang bangku saya, perawakannya tidak tinggi, tubuhnya putih bersih dan selalu sumringah, tidak peduli terjadi peristiwa apa saja dia selalu sumringah. Setelah dibagi jurusan, saya langsung bergabung dalam kelompok belajar murid perempuan. Di dalam kelas hanya beberapa gelintir murid laki-laki. Anak perempuan jika sudah berkumpul, tekanan belajar besar sekali, persaingan juga sangat sengit. Saat itu tidak luput telah terjadi peristiwa kecil tetapi "menyakitkan hati", hingga sekarang masih tetap tidak bisa terurai dengan tuntas. Karena dari awal hingga akhir tidak jelas mengapa bisa terjadi sakit hati itu. Tiba-tiba saja seseorang merasa tidak senang hati dan dipermalukan, lalu mengucapkan perkataan yang sangat sinis. Setelah lulus beberapa tahun lamanya, tanpa sengaja ketika sedang bercakap-cakap dengan seorang teman SMA lama, saya baru mengetahui bahwa mereka mengira saya telah berbuat curang untuk mendapatkan nilai bagus. Sebenarnya mana mungkin demikian? Seiring perjalanan waktu, saya sudah melupakan dan memaafkan mereka, bukan hanya di mulut tetapi benar-benar sudah mengikhlaskannya. Tetapi ada sebagian orang, hingga sekarang masih tidak bisa melepaskan sakit hati itu. Menjalani hidup seperti ini, mana bisa dikatakan bahagia? Jika meminta saya memilih ulang, maka saya bersedia masuk ke jurusan IPS saja, dimana perselisihannya agak sedikit, sehingga kekesalan hati juga akan berkurang. Sebelum mengikuti ujian kelas, pembelajaran ulang satu babak demi satu babak sering kali diadakan, sehingga membuat saya hampir mati rasa. Nilai saya walaupun selalu memuaskan, tetapi daya tahan tubuh sudah terkuras habis. Rumah saya jauh dari sekolah, sehingga harus tinggal di asrama sekolah. Konsumsi sekolah juga tidak terlalu berselera, sehingga saat itu sering kali di kantin hanya melihat-lihat saja lalu pergi karena tak berselera makan. Selesai ujian, kakak tetangga saya berkata bahwa muka saya pucat pasi karena belajar terlalu lelah. Masa sebelum dan sesudah ujian, persaingan diantara sesama teman sekelas tidak pernah berhenti, semua orang berpikir ingin menggunakan waktu yang lebih banyak untuk belajar, ingin mendapatkan nilai ujian lebih tinggi dari pada orang lain. Karena itu, banyak sekali orang yang bangun jam 5 pagi untuk belajar, kalau malam menyalakan lilin belajar hingga dini hari, kalau siang hari tidak pernah beristirahat. Saat itu saya benar-benar membutuhkan refresing dan bersantai. Banyak dari teman-teman seharusnya seperti keadaan saya, setiap hari belajar tidak peduli siang dan malam, sudah sedikit demi sedikit menguras habis energi yang ada. Pemikiran ini mungkin yang paling disukai oleh para guru pengajar: mempergunakan segenap energi dan waktu yang ada untuk mengulang pelajaran. Karena sebelumnya belajar di sekolah sangat lancar, saat kuliah, belajar bagi saya sudah menjadi semacam kenikmatan, bisa mengatur waktu sesuai dengan kehendak hati, juga selama ini tidak pernah merasa lelah karena belajar. Jika dibuat perbandingan, ujian masuk sekolah sebelumnya benar-benar telah mencelakakan saya. Jika tidak ada ujian sekolah, jika tidak ada persaingan yang begitu ketat, jika hasil ujian saya lebih rendah dari orang lain maka tidak perlu mengundang iri hati orang lain, mungkin saat sekarang ini bisa mempunyai banyak sahabat karib di waktu itu. Usia diantara 17 - 18 tahun, seharusnya masa ini adalah masa-masa yang paling indah dan murni, tetapi persaingan telah membuat persahabatan diantara manusia dan manusia berubah kualitasnya. Pengaruh dari jiwa yang tidak stabil, kebanyakan orang melihat permasalahan dengan ekstrim, tidak disangka ada teman sekelas yang mengira hasil bagus nilai saya itu didapatkan dari cara yang tidak benar. Sebenarnya di belakang setiap keberhasilan pasti ada pengorbanan yang susah payah. Mengandalkan kecerdikan hanya agar menang untuk sesaat, tidak akan menang untuk selamanya. Saat itu termasuk para guru juga tidak semuanya adil. Teringat ada seorang guru yang mengajarkan kepada kami bagaimana melakukan kecurangan ketika ujian sekolah. Saat itu saya sempat bertengkar dengan guru tersebut. Belakangan saya mendapatkan kritikan dari ayah, mengatakan bahwa tidak peduli guru melakukan kesalahan apa saja, menjadi seorang murid tidak boleh menentang guru tersebut secara langsung. Mungkin benar hal itu adalah kesalahan saya. Pada dasarnya saya tidak suka dengan politik, ditambah lagi guru itu mengajar politik, maka dari itu hasil nilai pelajaran politik saya selamanya tidak pernah bagus. Teringat akan hal-hal kecil ini, juga mengenang manis dan pahit getir sekolah dulu. Semoga orang-orang yang pernah mengalami tempaan serupa, bisa merenungkan kembali masa itu, mencari apa tujuan dari hidup ini. Kehidupan, sudah tentu tidak seharusnya datang demi ujian atau demi belajar. Bagi seseorang bisa dikatakan yang paling penting adalah sikap dan tingkatan atau taraf yang dia capai. Jika bisa menemukan kebenaran, maka harus dipertahankan terus. Jika menutup diri karena pengetahuan yang didapatkan saat kita belajar di sekolah, tidak bisa menentukan sendiri, berpikir dan membedakan secara rasional, maka hal tersebut adalah hal yang paling menyedihkan. (Qing Song/The Epoch Times/lin)
|
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Lontong Jumbo Semarakkan Cap Go Meh
- Seorang Gamer Tewas Tergeletak di Kafe Internet
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Tahun Naga, Tahun Perubahan
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Pesawat Tanpa Awak Generasi II Siap Diluncurkan
- Cerita Tentang Einstein
- Philcoxia Tanaman Karnivora Pemakan Cacing
- Apa yang Akan Terjadi 2012? (2)
- Para Pendukung Gaddafi Alami Siksaan dan Perkosaan di Penjara
- Cuaca Ekstrim Akibat Tekanan Rendah di Selatan Jawa
- Tragedi 6 Piring Lunturnya Hati Nurani
- Jangan Diperbudak Nafsu Pikiran
- Cerita Tentang Einstein
- Pemecah Batu yang Sombong
- Bagaimana Menghilangkan Kebiasaan Buruk?

Kemarin melalui browsing jejaring internet, saya bertemu dengan teman masa SMA yang sudah lama tidak pernah berhubungan lagi. Kami bercanda mengenang masa sekolah dulu. Benny adalah teman sekelas saya ketika duduk di kelas IPA, meski bertahun-tahun lamanya kita tidak berjumpa, tetapi persahabatan diantara kami berdua masih tetap terjaga.





Mozilla Firefox