Sentimentil
Ditulis oleh Epochtimes Sabtu, 22 May 2010

“Bunga-bunga aprikot baru layu, menyisakan putik-putik kecil buah yang hijau. Burung walet beterbangan di sebuah rumah yang dikitari air menghijau. Bunga di cabang-cabang sudah berkurang, di seluruh penjuru dunia selalu terdapat rerumputan hijau! Di balik dinding si jelita bermain ayunan, di luar dinding terdapat jalanan. Tawa ceria si jelita yang sedang bermain menggoda perjaka yang sedang berjalan kaki. Suara tawa semakin tak terdengar suasana semakin senyap, rasa penuh sentimentil perjaka dirisaukan oleh si jelita yang tanpa perasaan.”

Puisi karya Su Shi (sastrawan China kuno, 1037-1101) yang berjudul “Kupu-kupu menggandrungi bunga” ini berbicara tentang rasa penuh sentimentil terhadap “perempuan cantik”, secara harafiah pada permukaannya, kelihatan hanya rasa sentimentil pada “perempuan cantik”, namun jika disimak lebih lanjut terkandung makna yang lebih mendalam. Sesungguhnya rasa sentimentil bukanlah hanya terhadap “perempuan cantik”.

Sejak kecil saya adalah orang yang sentimentil. Pengalaman masa kanak-kanak yang dapat saya ingat, hati ini selalu penuh dengan kemurungan perpisahan. Setiap kali mengunjungi tempat asing dan tinggal beberapa waktu selalu akan merasa berat hati untuk meninggalkannya, terpikir apakah dapat mengunjunginya lagi.

Setiap bepergian, hati selalu berpikir tentang mainan yang kusayangi berada sendirian di sudut rumah, tidak tahu apakah akan merasa kesepian. Dalam hati kanak-kanak saya merasa yakin bahwa di dunia ini langit dan bumi serta segala isinya, bunga maupun rumput, semuanya merupakan kehidupan yang berperasaan.

Usia semakin bertambah, saat memasuki dunia nyata orang dewasa, perasaan saya penuh kemurungan akan perpisahan dan sentimentil, bukan saja tidak berkurang malah makin mendalam. Beraneka ragam manusia muncul dalam kehidupan saya dan kemudian bergegas pergi hanya menyisakan kenangan.

Setiap kali berkumpul dengan teman atau kerabat, menikmati kegembiraan singkat bersama mereka, ketika mengobrol sambil berkelakar, hati saya dipenuhi dengan kemurungan dan melankolis. Saya tahu, sama seperti saya tidak dapat selamanya menahan kepergian musim semi, demikian pula saya tidak akan bisa menahan kepergian waktu yang akan lewat dalam sekejap. Dalam hati saya merenung: “Tak tahu kita mengobrol dan berkumpul seperti ini masih bisa dilakukan beberapa kali dalam kehidupan ini?”

Yang lebih banyak muncul dalam kehidupan saya adalah orang asing yang berjodoh hanya dalam satu kali perjumpaan, meskipun wajah-wajah orang asing tersebut kebanyakan sudah terlupakan dalam waktu beberapa hari, tapi pada sekilas waktu ketika saya bertemu dengan orang asing tersebut saya selalu dengan serius berbagi dengannya karena saya tahu di dalam kehidupan ini mungkin kita sulit untuk bertemu lagi.

Usia yang sudah melampaui 40 tahun, mengenang tahun-tahun kehidupan yang telah kulalui, seolah-olah semuanya baru kemarin terjadi. Hari-hari penuh derita yang tak tertahankan, hari-hari penuh kehangatan yang membahagiakan. Hari ini seolah sudah tak tampak perbedaannya, semuanya merupakan kenangan nostalgia, semuanya merupakan pengalaman hidup yang tak terelakkan.

Membuka jendela, terlihat seekor burung kecil bertengger di bawah lampu jalan di kejauhan, tertiup dinginnya angin musim dingin yang berudara segar, tidak terasa hati pun merisaukannya. Dia akan berteduh di mana, dan bagaimana akan melewati musim dingin? Pada musim dingin ini, bagaimana pula keadaan teman-teman baik saya yang sudah lama tidak berjumpa?

Menengadah memandang langit luas, dalam hati samar-samar mengetahui, kehidupan saya terjalin suatu hubungan dengan alam semesta serta segala isinya, rasa penuh sentimental saya mungkin merupakan suatu penghargaan terhadap jodoh dalam kehidupan.

Mungkin kita masing-masing juga mengalami banyak waktu penuh sentimentil, pertalian emosional ini mungkin pernah menyertai kita dalam sejarah yang lebih panjang, sehingga sampai saat ini masih saling mengkhawatirkan. Jodoh semacam ini juga untuk mengingatkan kita agar menghargai segala sesuatu yang kita jumpai, dengan  lebih berlapang dada dan penuh ketulusan serta pikiran yang belas kasih menghadapi semua orang di sekitar kita, baik yang sudah akrab maupun yang masih asing, yang dekat ataupun yang jauh.  (Xia Xiaoqiang/The Epoch Times/lin)