Pemandu (1)
Ditulis oleh Epochtimes Senin, 23 Agustus 2010

I.  Setelah berselang bertahun-tahun, tiba-tiba teringat pengalaman semasa kuliah. Itu terjadi pada suatu liburan musim dingin ketika pulang kampung di dataran China Utara.

Sepanjang hari berkumpul dengan orang tua, hidup sederhana merasakan kebahagiaan. Pada suatu hari, beberapa teman SMA datang berkunjung, ingin mengadakan reuni di rumah salah seorang teman, maka saya dengan senang hati berangkat naik sepeda. Sebelum berangkat ayah bertanya apakah saya dapat mengenali jalan pulang, tanpa ragu saya menjawab tidak ada masalah. Beberapa teman juga mengatakan demikian.

Jalan di pedesaan meskipun tidak luas namun cukup rata. Mengendarai sepeda sambil mengobrol, tak terasa setengah jam lebih sudah terlewatkan, tibalah di rumah teman itu. Karena sudah lama berpisah, teman-teman saling  bercerita pengalaman di bidang yang berlainan, sungguh sangat menyenangkan. Tak terasa matahari telah terbenam. Setelah melanjutkan ngobrol sebentar lalu berpamitan. Teman-teman bertanya apakah masih ingat jalan pulang, saya samar-samar masih ingat arahnya, maka dengan sombong mengatakan tidak ada masalah, lalu mengayuh sepeda.

Baru keluar dari halaman saya bertemu ayah. Saya terperanjat dan bertanya mengapa beliau datang. Ayah mengatakan, merasa khawatir karena matahari sudah terbenam masih tidak melihat saya kembali. Mungkin karena mengetahui di mana desa tempat teman SMA itu, jadi masih dapat menemukan saya. Saya tidak berkata apa-apa, mengayuh sepeda mengikuti ayah pulang.

Senja pada musim dingin sangatlah pendek. Segera sesudah meninggalkan kampung, hari jadi gelap-gulita. Saya mengikuti ayah, berbelok-belok, satu demi satu perkampungan kami lewati. Sambil bersepeda di dalam hati saya merasa sangat berterima kasih kepada ayah yang memandu. Jalan ketika perjalanan berangkat tadi tampaknya biasa saja, tapi sekarang nampak asing, jika tidak ada ayah, hampir dipastikan saya tidak akan menemukan jalan pulang.

Sejak SMP saya tinggal di asrama sekolah di kabupaten, dalam sekejap sudah enam tahun. Setelah tamat SMA saya kuliah di kota besar nun jauh yang perlu ditempuh dengan kereta api. Darah muda memang mudah menjadi sombong. Jika sekarang dikenang kembali, tanpa dipandu ayah benar-benar tak terbayangkan akibatnya.

II. Jauh terpisahkan samudera luas, telah lebih dari sepuluh tahun tinggal di luar negeri. Sekarang anak-anak juga sudah akan bersekolah. Menghadapi pendidikan mereka, terkenanglah jalan hidup yang sudah saya tempuh. Tak terasa dada sesak dipenuhi keluhan sendu: di persimpangan jalan kehidupan, pada labirin kehidupan yang tak bertepi, banyak orang telah mengulurkan tangan membantu, tanpa mereka tak akan tercapai keadaan seperti hari ini.

Teringat masa kecil, suatu saat sedang seru bermain saya menjadi sangat marah. Tak terasa mengumpat dengan kata-kata kotor. Kakak saya melihat adegan ini, dengan sedih berkata, “Aku tahu orang lain dapat mengucapkan kata-kata kotor, tapi tak pikirkan engkau akan juga begitu. Mendengar umpatanmu aku merasa pilu.”  Saya menjadi terguncang sehingga tidak pernah lagi mengucapkan kata-kata kotor.

Mengenang kembali pengalaman hidup yang telah saya alami, saya dapat merasakan bahwa manfaat terbesar yang diperoleh dari pengaruh keluarga adalah kesetiaan terhadap kewajiban.

Teringat sebuah ungkapan semasa kecil yang paling mengesankan, “Kejujuran dan kebajikan akan diwariskan ke anak-cucu dalam masa panjang, puisi dan buku tentang moral bermanfaat bagi masyarakat dalam waktu yang lama.”

Ini juga merupakan gambaran dari perilaku dan tutur kata orang tua. Ayah adalah seorang guru, telah berjerih payah sepanjang hidupnya di depan kelas. Ibu juga pernah bersekolah, pada waktu   senggang setelah bekerja seharian, beliau memupuk hati kecil anak-anaknya dengan siraman budaya tradisional.

Mulai dari loyalitas dan rasa bakti seorang Jie Zitui sampai dengan pertarungan naga hitam dan naga putih, pemisahan kebaikan dan kejahatan serta perwujudan kecerdasan dan keberanian. Mulai anjuran belajar dari cerita “karena anak tidak rajin belajar, sang ibu sampai merusak alat tenun”, hingga anjuran menghargai waktu tentang “sejengkal waktu adalah sejengkal emas”.Mulai dari bersujud pada Tuhan, sampai dengan rajin dan hemat pada kehidupan sehari-hari.

Pengaruh pendidikan dalam keluarga, seiring dengan inspirasi dari para guru yang dibincangkan setelah selesai pelajaran sekolah, membuat saya menyadari bahwa hidup hendaklah jujur dan rajin. (Zhou Zheng/The Epoch Times/prm)


(Bersambung)