Pemandu (2)
Ditulis oleh Epoch Times Kamis, 26 Agustus 2010

Berikut ini artikel sambungan dari tulisan berjudul 'Pemandu (1)' di edisi sebelumnya. 

III. Penderitaan terbesar dalam hidup adalah tidak mengetahui arah. Bagaikan mobil yang kondisinya sudah lengkap namun tidak tahu akan dibawa ke mana.

Pada usia tujuh tahun, saya pernah seorang diri berdiri di halaman rumah memandang jauh ke angkasa, sambil memikirkan makna kehidupan. Meski masih kecil juga sudah mulai dapat merasakan kesulitan hidup, dingin dan kehangatan duniawi. Saya dapat melihat bahwa orang jujur rentan terhadap perlakuan sewenang-wenang, dan dapat memahami perasaan orang yang sedang mengekang diri tanpa menangkis penghinaan orang, juga agak merasa bimbang akan menjadi seperti apa diri ini di kemudian hari.

Pada masa sekolah menengah meskipun sibuk tetapi sederhana, saya hanya memikirkan harus belajar dengan baik agar tidak mengecewakan harapan orang tua dan guru. Akhirnya tercapai juga keinginan untuk melanjutkan ke universitas. Saya baru menyadari bahwa ternyata terdapat banyak pilihan dalam hidup ini, juga mengerti bahwa pengetahuan tidak ada batasnya.

Keyakinan hidup tradisional dalam diri merasa diserang, sehingga di samping menyelesaikan studi, juga ikut-ikutan teman membaca sepintas dibidang lain dengan harapan setelah membaca banyak buku akan memperoleh jawaban makna hidup. Oleh karena itu saya mempelajari filsafat Barat sampai dengan pandangan Lao Zi Zuangzi, dari mitologi Yunani sampai ke peradaban Barat modern, dari cerita klasik Fengshen Yanyi sampai ke cerita fiksi Dinasti Ming dan Qing “San Yan Er Pai”.

Setelah melihat teman kuliah membaca sutra Buddha dan kitab suci Taoisme “Dao De Jing”, karena penasaran maka saya mendaftar untuk mempelajari mata kuliah Zhouyi tentang ramalan.

Namun keinginan tetaplah tinggal keinginan, setelah sibuk mondar-mandir mencari masih tetap tidak menemukan jawaban yang memuaskan, sehingga seperti banyak teman sekolah lain, saya lalu melanjutkan mencari impian sampai ke luar negeri.

Kemudian saya menemukan bahwa pada kenyataannya, baik di China maupun di luar negeri, anak muda yang masih studi ataupun orang penting dalam masyarakat adalah sama seperti dirinya, mereka masing-masing sedang mencari tujuan hidup mereka.

Teringat saat kuliah di perguruan tinggi, pada satu mata kuliah utama yang saya ambil, Profesornya sangat bereputasi, telah mendekati usia 60. Ketika memberi pelajaran beliau tidak membawa rencana pelajaran, juga tidak membawa bahan pelajaran, namun beliau mengajar seolah tanpa dipikir lagi, tanpa henti memberikan penjelasan.

Di sela-sela kelas, beliau hanya menghisap pipa rokoknya, sesekali mengobrol dengan kami. Pernah satu kali dia menyinggung bahwa pada saat tugas masuk desa, dia bersama kolega lain mendiskusikan mekanika kuantum di kandang kerbau. Mungkin sudah terlalu banyak yang dia alami, tidak terlihat jelas hati profesor tua tersebut sedang pedih, tak berdaya, ataukah mengeluh penasaran.

Demikian pula, selama studi di luar negeri juga terdapat mata kuliah mekanika kuantum yang sulit. Karena merupakan mata kuliah pilihan, banyak teman kuliah merasa takut memilihnya, sebab itu tidak banyak mahasiswa yang ikut dalam kelas. Profesor tua yang senior ini juga tidak membawa rencana pelajaran, tidak membawa materi pelajaran, namun dapat memberi penjelasan yang baik dan membantu kami mencerna dari berbagai sumber.

Profesor tua ini juga tidak banyak bicara, tapi berbeda dengan profesor di China tadi, profesor ini memiliki rasa humor. Suatu kali ketika sedang ujian, ketika kami sedang tegang menjawab soal ujian, beliau berjalan mondar-mandir di podium, dan kemudian menulis di papan tulis: Life without test is not worth it (jika tanpa ujian maka hidup ini menjadi tidak berarti).

Dalam menghadapi sesuatu yang lucu dan menjengkelkan ini kami dapat merasakan bahwa kata-kata ini sangat inspiratif.

IV. Memasuki zaman sekarang ini berbagai ajaran dan doktrin telah menjamur di mana-mana dan serba serbi teknologi telah sangat berkembang. Bila ingin mendalami suatu bidang keilmuan, akan dengan mudah menemukan mentor untuk membantu memecahkan labirin dan menyingkirkan awan kabut yang menyelimutinya.

Namun khusus untuk masalah jalan hidup manusia, topik yang seolah abadi dibahas sejak zaman dahulu, dengan samar-samar dan menghanyutkan itu, hanya baru dapat dipahami dengan cara menenangkan hati.

Dalam perjalanan hidup selama puluhan tahun, saya mengetahui arti kemiskinan, setelah melihat tetangga dengan tujuh anggota tinggal dalam gubuk kecil. Saya telah mengerti apa yang disebut sakit, setelah melihat orang tua menderita penyiksaannya selama  bertahun-tahun.

Saya telah mengetahui apa yang disebut perlakuan sewenang-wenang setelah mengalami menerima pembagian jatah seekor ikan kecil dari tim produksi namun ketika akan diambil kakak ternyata ditipu orang lain. Saya pun telah mengerti apa yang disebut tak berdaya setelah mengetahui ibu terpaksa harus bekerja keras sendirian sehingga menderita penyakit menahun se-panjang hidupnya setelah melahirkan saya karena ayah bertugas di luar daerah.

Saya menjadi paham apa yang disebut sikap manusia yang dingin terhadap sesamanya ketika untuk memperbaiki rumah, ayah ibu mencari pinjaman uang kemana-mana tanpa hasil. Saya melihat hilangnya moralitas sosial setelah mengetahui sang kakak yang ingin membukakan jendela atap bus umum untuk para penumpang karena teriknya cuaca justru mendapat perlakuan sinis.

Saya mengetahui hilangnya hati nurani setelah melihat kemarahan seseorang yang mengembalikan peralatan elektronik namun ditolak, malah sengaja dibuat rusak petugas toko dan kemudian dipungkiri. Saya mengetahui apa yang dinamakan perilaku pejabat setelah mengetahui seorang teman sekolah karena ketika perpindahan penduduk terdapat sedikit kesalahan penulisan dokumen sehingga mengalami kesulitan berangkat ke luar negeri, mengetahui apa yang dimaksud dengan suka memandang bulu dan tamak dari gosip para kerabat dekat dan tetangga. Saya mengerti apa yang disebut banyak perubahan dalam kehidupan dari rekan sekitar yang mengalami kenaikan dan penurunan jabatan serta pengangguran.

Anda ingin membiarkan diri terombang ambing mengikuti arus atau memelihara hati yang tulus? Atau ingin menempuh kehidupan seperti orang dungu atau dalam kejelasan? Atau ingin mengejar ketenaran selama hidup ini atau ingin “menempuh kehidupan sederhana tanpa mengejar nama besar untuk memelihara temperamen dan tujuan hidup yang anggun, memelihara kestabilan dan ketenangan hati agar dapat menghasilkan kinerja yang baik”? Atau akan tunduk pada realitas, atau mempraktekkan “mengultivasi diri, mengatur rumah tangga, mengelola negara dan memadamkan kerusuhan dunia”? Ataukah Anda ingin mencapai kehidupan diri yang bebas, atau ingin menolong makhluk hidup di dunia?

Pemikiran-pemikiran ini selalu mengganggu diri, seolah-olah telah lama meraba-raba dalam kegelapan dan sangat mendambakan melihat secercah cahaya.

V. Akhirnya suatu hari, dalam sebuah percakapan telepon dengan keluarga mendengar tentang Sejati, Baik dan Sabar. Dalam waktu tak lama telah membaca buku tentangnya. Disamping kegembiraan yang tak terkira, terpaksa harus diakui bahwa ternyata ajaran dan jalan kebenaran masih ada bahkan berada disekitar kita.

Bukan saja telah menjawab pertanyaan dan apa yang dicari-cari di dalam dan di luar negeri selama bertahun-tahun, bahkan buku-buku tersebut telah menyingkap mulai dari qigong sampai dengan kemampuan paranormal, mulai dari sembahyang dalam masyarakat sampai dengan dongeng Yunani, mulai dari yin yang dan lima elemen sampai dengan kehidupan dan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan.

Belasan tahun telah berlalu, saya juga telah mengalami kenyamanan tubuh yang bebas dari penyakit, suka-cita karena terjadinya peningkatan jiwa raga, mampu mengesampingkan sifat egois, kembali pada diri sejati nan indah. Bersamaan dengan itu juga telah menyaksikan “mempersalahkan seseorang tidak akan kekurangan alasan,” dari penganiayaan dengan memutar balik hitam dan putih serta putih dikatakan hitam dapat dimengerti bahwa jalan kebenaran dalam dunia adalah penuh pahit getir, dari orang-orang yang tidak gentar terhadap kesulitan dan bahaya, mempertahankan dengan gigih keyakinan yang benar dapat mengerti apa yang dikatakan oleh orang zaman dahulu tentang “ketika seseorang mengalami kesulitan dalam hidup hendaknya memperteguh hatinya, jangan mengendurkan aspirasi yang agung.”

Terlalu banyak kesengsaraan yang harus dialami manusia, sampai saat ini terdapat banyak kerabat, tetangga dan rekan-rekan sibuk mencari nafkah berjuang dalam penderitaan. Sesungguhnya yang paling menyakitkan dalam hidup bukanlah menanggung beban, melainkan tidak bisa melihat harapan, meraba-raba dalam keputus-asaan masa mendatang yang tak kunjung tiba.

Saya jadi teringat sebuah lagu yang melantunkan: melampaui beragam kesulitan, aku datang berulang-ulang untukmu ... benar-benar berharap engkau, aku dan dia tidak melewatkan kesempatan langka untuk memiliki masa depan yang bahagia. (Zhou Zheng/The Epoch Times/prm)

Berita/Artikel Terkait:

Pemandu (1)