Era Baru News >> Kehidupan >> Cermin Kehidupan >> Memandang Dunia Dengan Hati Toleran
Memandang Dunia Dengan Hati Toleran
Ditulis oleh Epochtimes Senin, 18 Oktober 2010

endongeng Aesop yang digambarkan dalam buku Neuremberg Chronicle karya Hartman Schedel, tahun 1493. (WIKIPEDIA)Dalam fabel Aesop (seorang pendongeng yang hidup zaman Yunani kuno, antara 620-560 SM, terkenal akan karya-karyanya yang penuh dengan pesan moralitas) terdapat sebuah cerita tentang “Keledai dan Katak”. Pada suatu hari seekor keledai yang membawa muatan kayu bakar berjalan menyeberangi sungai. Karena kurang hati-hati, dia terpeleset. Kemudian menjejak-jejakkan kakinya dan meronta-ronta sekuat tenaga, namun karena beban yang terlalu berat, bagaimanapun usahanya, tetap tidak dapat berdiri lagi. Keledai itu menjadi panik dan ketakutan berteriak minta tolong.

Katak yang melihat hal ini menertawakannya dengan nada menghina ia berkata, “Keledai bodoh! Baru terpeleset dalam air saja sudah meratapi langit dan membenturkan kepala ke bumi, meraung-raung sedih, entah bagaimana jadinya kalau seperti kami yang seharian berendam dalam air?!” katanya berdalih, tampaknya cukup masuk akal.

Disaat mengamati sekeliling kita bukankah hal ini sudah biasa terjadi. Sedikit saja kurang berhati-hati, secara sengaja atau tidak, kita dapat memaksakan pandangan-pandangan kita kepada orang lain. Hubungan antar manusia yang pa-ling berharga adalah rasa menghargai, benar-benar menempatkan diri dalam posisi orang lain dan bertoleransi.

Setiap keluarga memiliki masalahnya sendiri. Kita tidak punya alasan untuk memaksakan orang lain menerima ide-ide kita, juga tidak bisa menggunakan pendirian dan pandangan kita untuk mengomentari benar salahnya orang lain atau mengukur kebolehan seseorang.

Kalaupun kita memiliki kemampuan memahami diri sendiri secara mendalam, paling-paling hanya dapat mengetahui keadaan diri sendiri. Sebab itu, yang paling baik adalah sedikit bicara, banyak berkultivasi mulut (menjaga pembicaraan yang akan kita ucapkan), banyak memelihara moralitas, berpikir masak-masak sebelum melakukannya.

Hal ini dapat mengurangi konflik dan menyusahkan diri sendiri untuk hal-hal yang tidak berarti, karena berprasangka secara subyektif seolah melakukan ke-baikan, melakukan hal yang benar, namun akhirnya ternyata merupakan hal yang tidak baik dan sebuah kesalahan, sangat merugikan.

Acapkali hal-hal yang dianggap benar oleh banyak orang belum tentu benar. Tidak jarang malah merupakan suatu ke-salahan. “Pengetahuan adalah kekuasaan”, tetapi pengetahuan tidak sama dengan kebijaksanaan, bila dikatakan dengan cermat, kebijaksanaan yang sesungguhnya adalah kesadaran akan kebenaran yang memenuhi karakteristik alam semesta.

Doktor, pakar, ilmuwan hanyalah orang yang menekuni secara khusus bidang ilmu yang sangat terbatas, dan pengetahuannya terhadap bidang lain yang maha luas justru sangat terbatas bahkan mungkin menggelikan. Bukankah Anda dapat melihat banyak temuan tentang teorema atau hukum yang ditemukan para ilmuwan dan temuan para arkeolog tentang kebudayaan prasejarah yang bermunculan dan ditutup-tutupi, menjadikannya lelucon yang sirna hanya dalam sekejap. Hal ini menyatakan bahwa manusia dalam misteri alam semesta sangatlah kecil tidak berarti.

Dalam hubungan manusia yang kompleks di zaman modern ini, kita masing-masing sedikit banyak akan mengha-dapi saat-saat terjadinya konflik, dalam melakukan segala sesuatu hendaknya memperhatikan orang lain, hendaknya memeriksa dulu diri sendiri apakah telah melakukan sesuatu yang tidak benar atau terdapat kekurangan.

Cukup berusaha memahami dan bertoleransi pada pihak lain, dengan ketulus-an menghadapi orang lain. Bagi yang dapat beramal akan memberi, melengkapi, mengayomi dengan sikap pikiran lurus, memberi dan menerima, mengikuti tendensi alamiah tanpa paksaan. (Ya Qi/The Epoch Times/prm)

 



Related news items: