Era Baru News >> Kehidupan >> Cermin Kehidupan >> Menyekop Salju
Menyekop Salju
Ditulis oleh Epochtimes Selasa, 23 November 2010

Jika setiap orang membersihkan salju yang berada di depan pintu rumah sendiri, maka juga tidak ada istilah embun beku yang berada di atas atap orang lain. (CLIPART)Hai, coba lihatlah!”  Saya menarik suami saya untuk mendekati jendela ruang tamu kami. Di luar jendela masih turun sedikit bunga salju, langit dan bumi terlihat putih, atas dan bawah satu warna. Tampak tetangga sebelah rumah sedang melemaskan otot lengan kemudian mengayunkan sekop saljunya yang besar bagaikan mesin pengeruk tanah, mengayun ke kanan dan ke kiri, mahir sekali.

Beberapa menit kemudian sudah terlihat sebuah jalan kecil di tengah-tengah tumpukan salju. Setelah menetap di Kanada, saya menemukan bahwa pria di sini semua mempunyai kekuatan dan keberanian yang luar biasa.

Suami saya menggosok-gosokkan tangannya dan berkata, “Saya akan melakukannya juga!”

Dia mengenakan mantel dan meraih sekop salju kecil yang diletakkan di depan pintu. Menyekop jalan setapak di depan rumah terlebih dahulu, setelah itu menyekop trotoar jalanan agar memudahkan para pejalan kaki melintas, menyekop hingga perbatasan rumah tetangga sebelah kanan dan kiri.

Mengamati bayangan punggung suami, saya teringat saat kali pertama menyekop salju. Waktu itu malam satu hari sebelum Natal, turun hujan salju setebal puluhan cm. Setelah hari menjadi gelap, sinar lampu berwarna-warni terlihat dimana-mana. Usai makan malam kami pergi berjalan kaki, menemukan bahwa tetangga kanan dan kiri rumah kami sudah membersihkan salju di halaman rumah dan jalanan trotoar, satu-satunya yang belum dibersihkan adalah bagian depan rumah kami.

Tampak gundukan salju yang tinggi, dan di kedua sisi gundukan itu terlihat irisan yang rapi sekali bagaikan diiris dengan pisau.  Saya bergumam lirih pada suami, “Coba lihat orang-orang Kanada ini sungguh menarik, mereka hanya mengurus bagian mereka sendiri, sama sekali tidak melampaui batas. Boleh dikatakan hanya membersihkan salju yang ada di depan rumah saja, tidak mempedulikan embun beku di atas atap rumah orang lain.”

Sepanjang jalan, kami menemukan kebanyakan orang sudah membersihkan pedestrian untuk para pejalan kaki. Ketika kami melewati beberapa rumah yang belum sempat membersihkan salju, begitu menginjak salju, kaki langsung masuk hingga sebatas lutut, ketika mengangkat kaki, dinginnya hingga menusuk tulang. Saat itu kami mulai memahami jika tidak membersihkan salju yang ada di depan rumah, maka akan memberikan ketidak leluasaan kepada orang lain. Karena itu kami segera pergi ke toko peralatan di dekat rumah kami, untuk membeli sekop salju pertama dalam sepanjang hidup kami.

Dalam kegelapan malam kami menengok jalan aspal di depan rumah yang sudah bersih dari salju, dengan tulus kami mengungkapkan perasaan hati, “Jika setiap orang membersihkan salju di depan rumahnya, maka tidak ada istilah embun beku di atas atap orang lain.”

Bukankah dalam masyarakat juga demikian? Oleh karena semua orang ingin mengatur orang lain, maka perselisihan dan pertengkaran terus-menerus terjadi. Lantas dibutuhkan perjanjian atau hukum untuk mengekang orang lain, namun kekuatan yang berasal dari luar selamanya tidak akan bisa mengubah hati manusia.

Jika setiap orang bisa mempertahankan kemurnian diri sendiri tidak terkena pengaruh jahat dan bisa mengatur diri sendiri dengan baik, meningkatkan moralitas diri sendiri, maka seluruh masyarakat juga akan berubah menjadi baik, tidak membutuhkan kekuatan hukum dan peraturan dari luar lagi untuk mengekang perilaku manusia.  (Bai Sheng/The Epoch Times/lin)