| Pemecah Batu yang Sombong |
| Ditulis oleh Era Baru | Selasa, 31 Januari 2012 |
|
Suatu hari, dia melewati rumah seorang pedagang kaya dan melalui pintunya yang terbuka dia melihat banyak harta dan para tamu penting. "Betapa berkuasanya menjadi pedagang seperti dia!" pikir pemecah batu itu. Dia menjadi sangat iri, dan berharap bahwa dia bisa menjadi seperti pedagang itu, dengan demikian dia tidak lagi harus hidup menjadi seorang pemecah batu. Tiba-tiba, sangat mengejutkan, sang pemecah batu berubah menjadi seorang pedagang, menikmati kemewahan berlebihan dan kekuasaan seperti yang dia pernah impikan, namun juga dibenci oleh mereka yang kurang kaya dibandingkan dirinya. Hingga kemudian seorang pejabat tinggi lewat, dibawa dalam sebuah tandu, didampingi oleh petugas, dan dikawal oleh tentara pemukul gong. Semua orang, tak peduli betapa kaya, harus membungkuk rendah sebelum pejabat tinggi itu lewat. "Betapa berkuasanya pejabat tinggi tersebut, saya berharap bahwa saya bisa menjadi pejabat tinggi!" pikirnya. Kemudian dia menjadi pejabat tinggi, dibawa kemana-mana di kursi tandu yang bersulam, ditakuti dan dibenci oleh orang-orang di sekitar, yang harus sujud saat dia lewat. Saat itu adalah hari musim panas, dan pejabat tinggi itu merasa sangat tidak nyaman di kursi tandu yang menjadi lengket karena keringatnya. Dia menatap matahari yang bersinar bangga di langit, tidak terpengaruh oleh kehadirannya. "Betapa berkuasanya matahari itu, saya berharap bisa menjadi matahari!" pikirnya. Lalu dia berubah menjadi matahari, bersinar keras di atas semua orang, membuat kering kerontang semua ladang, dikutuk oleh para petani dan buruh. Tapi kemudian awan hitam besar bergerak diantara dirinya dan bumi, sehingga sinar matahari itu tidak bisa lagi menyinari segala sesuatu di bawah. "Betapa berkuasanya awan hitam ini bisa mengalahkanku, saya berharap bisa menjadi awan!" pikirnya. Lalu dia menjadi awan, membuat hujan dan membanjiri ladang serta desa-desa, dia dimaki oleh semua orang. Namun segera dia menyadari bahwa awanpun akhirnya didorong pergi oleh kekuatan besar, dan menyadari bahwa itu adalah angin. "Betapa berkuasanya angin itu, saya berharap bisa menjadi angin!" pikirnya. Kemudian diapun menjadi angin, bertiup menghancurkan rumah, mencabut pohon, dibenci dan ditakuti oleh semua yang berada di bawahnya. Namun setelah beberapa saat, dia berlari melawan sesuatu yang tidak bergerak sama sekali, tidak peduli seberapa kuat dia meniupnya untuk menerbangkannya, gunung batu besar itu tetap tak bergerak.
"Betapa berkuasanya gunung batu itu, saya berharap bisa menjadi batu!" pikirnya. "Apa yang bisa lebih kuat daripada gunung batu?" pikirnya.
Dia lalu menunduk dan melihat jauh di bawah dia seorang pembelah batu sedang mengikis badan gunung batunya. |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Pendekatan Penelitian Reinkarnasi
- Apakah Telepati Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan Modern?
- KontraS : 14 Tahun Reformasi HAM Hanya Menjadi Trend
- Kisah Bocah 8 Tahun Nasehati Koruptor
- Pemimpin Oposisi Malaysia Hadapi Dakwaan Pidana
- Aset Duta Besar AS Dipublikasikan di Internet China
- Mengungkap Misteri Rahasia Kalender Maya
- Kampak Si Penebang Pohon
- Belenggu Hati
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Apakah Manusia Memiliki Kemampuan Paranormal?
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Lukisan Paling Tenang
- Semur Kuping Babi Palsu Ditemukan di China
- Kisah Kaisar Liang Wu
- Pecahkan Kasus Pembunuhan Melalui Serangga

Ada seorang pemecah batu yang tidak puas dengan dirinya sendiri dan posisinya dalam kehidupan.


Mozilla Firefox