Era Baru News >> Kehidupan >> Keluarga >> Anak Mewarisi Efek Stres yang Dialami Orangtua
Anak Mewarisi Efek Stres yang Dialami Orangtua
Ditulis oleh Evelyn So Minggu, 11 September 2011

altApakah hal yang dialami orang tua mempengaruhi kepribadian anak-anak mereka? Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychobiology, mengarah ke sana.

Empat puluh tikus betina ditempatkan dalam empat kelompok yang berbeda setelah menyusui. Satu kelompok keturunan dipelihara secara normal sebagai acuan, kelompok kedua dikenai stres, kelompok ketiga mendapat pengayaan, dan kelompok keempat mengalami baik stres maupun pengayaan.

Keturunan tikus betina ditempatkan dalam dua kelompok untuk melihat efek "terapi" pengayaan: satu kelompok dibesarkan secara normal, sedangkan  kelompok lainnya mendapat pengayaan.

Keturunannya diukur dalam hal yang berkaitan dengan tingkat kecemasan interaksi sosial, kemampuan untuk belajar, dan daya tahan dalam mengatasi ketakutan.

Penelitian ini menemukan bahwa ibu tikus yang dikenai stres menghasilkan keturunan dengan tingkat interaksi sosial yang lebih rendah, tetapi dengan kemampuan lebih tinggi untuk belajar menghindari kesulitan. Beberapa, tetapi tidak semua keturunan ibu tikus yang terkena stres dan juga mengalami pengayaan, menunjukkan efek-efek negatif yang sama.

Keturunan yang mengalami pengayaan mampu mengimbangi efek negatif yang diwarisi dari ibu mereka.

"Studi kami menunjukkan bahwa warisan efek kesulitan dapat dimodifikasi dengan intervensi berkala, ini mungkin memiliki implikasi pendidikan dan terapi yang penting," kata Dr. Micah Leshem dari Universitas Israel Haifa dalam siaran persnya.

Penelitian ini menggunakan tikus karena mereka bisa dibilang menyerupai manusia, dan mereka memiliki perkembangan dan tingkat reproduksi yang pesat, yang membantu dalam penelitian lintas generasi.

"Kesamaan antara tikus dan manusia memunculkan pertanyaan apakah efek yang sama mungkin terjadi pada manusia, misalnya, trauma perang atau bencana alam mungkin memiliki efek yang diwariskan," jelas Leshem.

"Hal ini penting untuk menyelidiki apakah stres pada usia muda dapat berpengaruh pada generasi berikutnya, dan apakah pengalaman terapi juga dapat meminimalkan efek-efek lintas generasi pada manusia." (Erabaru/ana)