Era Baru News >> Kehidupan >> Keluarga >> Mayjend Saurip Kadi: Cinta Kasih Atasi Kemelut Bangsa
Mayjend Saurip Kadi: Cinta Kasih Atasi Kemelut Bangsa
Ditulis oleh Era Baru Rabu, 09 November 2011

altMayjend Saurip Kadi di masanya dikenal sebagai seorang perwira yang cakap, kritis, dan pemberani. Setidaknya, bersama Letjen Agus Wirahadikusumah (alm), memelopori reformasi di tubuh TNI menyongsong jaman baru. Perwira kelahiran Brebes 18 Januari 1951 ini, terakhir menjabat Asisten Teritorial Kepala Staf TNI AD.

Saurip tidak pernah berhenti berjuang, dalam bentuk apapun, sebisanya, setidaknya dalam bentuk buku dan tulisan. "Mengingatkan untuk kebajikan dengan tanganmu, bila tidak mampu dengan mulutmu, terakhir dengan doa, namun itu adalah selemah-lemahnya iman", demikian selalu diyakininya.

Banyak kalangan menilai bagi ukuran seorang militer, Saurip dikenal sebagai penulis produktif dan jernih dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. “Tantangan TNI Dan Indonesia Baru", "Menata Ulang Sistem Kenegaraan dan TNI menuju Peradaban Baru", "Mengutamakan Rakyat" adalah contoh-contoh buku yang ditulisnya.

Untuk mengenal lebih jauh pandangan-pandangannya, Susy Prastiwi, wartawan erabaru.net berkesempatan mewawancarainya.

Siang itu, Kamis 27 Oktober 2011, ditemui di ruang kantornya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Mayor Jendral TNI (Purnawirawan) Saurip Kadi masih terlihat segar, semangat dan seperti biasa berpenampilan sederhana. Guratan wajah ‘militernya’ masih kental terlihat di usia senjanya 60 tahun.

Di ruangan itu Saurip tidak sendiri, ia ditemani tandem perjuangannya untuk mewujudkan cita-cita rakyat Indonesia kedepan yang jauh lebih baik. Liem Siok Lan atau Justiani namanya, seorang perempuan nasionalis yang cerdas dan kritis alumni ITB (Institut Teknologi Bandung).

Justiani, akrab dipanggil Bu Ani, tampak sibuk menerima telpon dari seseorang. Sekilas memperbincangkan tentang rencana bedah buku “Pilpres Presiden (dicoret) Abal-abal Republik Amburadul”. Buku yang baru ‘launching’ 25 Oktober 2011 di Press Room DPD di kawasan DPR RI. Buku berupa bunga rampai itu ditulis oleh Saurip Kadi, dan beberapa tokoh nasional dan aktivis yang peduli nasib bangsa dan Republik Indonesia yang kini kian terpuruk.alt

Sama sekali tidak menduga, ternyata obrolan kami tidak hanya soal buku yang baru diluncurkan tersebut. Saurip pribadi yang amat unik. Setidaknya seorang militer yang mendalami spritualitas yang menurut pandangan awam sering disebut dengan hakikat. Pantasan Gus Dur begitu sayang kepadanya, julukan Jenderalnya Gus Dur sempat menempel dalam dirinya.

Setidaknya saya bisa melihat benang merah dari pemahaman spiritualitas kedua sosok tersebut. Karena belum pernah ditulis sebelumnya, saya memutuskan untuk menulis soal spiritualitas sang jenderal, berbelok dari rencana semula mewawancara soal buku yang baru launching.

Ada dua hal yang perlu dibenahi untuk mengentaskan keterpurukan dan kemorosatan moral di negeri ini. Demikian Saurip memulai obrolan.

“Syiar agama dan sistem ketatanegaraan yang salah yang berangkat dari sejarah yang penuh kebohongan,” tutur Saurip yang menjalani vegetarian hampir 10 tahun.

Bagi Saurip Kadi agama harus dimaknai dengan benar. Agama bukan dilafadzkan bahkan bukan untuk diperdebatkan, tapi ‘laku’ atau perilaku yang menjadi tolok ukur.

“Interpretasi terhadap ayat2 Allah dalam kitab suci, dari berbagai agama yang berkambang di masyarakat, sudah jauh menyimpang karena terseret oleh arus peradaban yang sedang dominan dan lantas mendikte sehingga mengaburkan kesadaran hakiki. Dan penyesatan itu tidak dirasakan, malahan dijustifikasi sebagai kebenaran milik Allah SWT,” ujar Saurip yang pernah mengenyam bangku pesantren Lumpur, Losari dan juga di Buntet serta Juaringin, Cirebon, Jawa Barat.

Tuhan menurunkan kebenaran di alam semesta yang maknanya tunggal. Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwo. Keberagaman namun Satu dan Tidak ada Kebenaran Mendua. Agama itu sesungguhnya adalah ajaran (din), bukan kelompok, bukan simbol, bukan ritual. Maka kebenaran harus tunggal yang bisa diterima dengan makna sama oleh seluruh umat manusia di muka bumi.

“Akal sehat itu kini telah hilang, dan mengakibatkan perpecahan dalam kelompok-kelompok, terkotak kotak bahkan berdebat kebenaran masing-masing, akhirnya malah timbul permusuhan,” tuturnya.

Bahkan yang lebih memiriskan hati adalah timbul peperangan, dendam dan saling benci berujung pada pembunuhan massal, hanya karena berbeda “label” agamanya. Sehingga jika ditarik garis keatas sangat melenceng jauh dari tujuan awal agama diturunkan untuk damai, dan penuh welas asih antar manusia di bumi ini.

alt”Dewasa ini, pemahaman agama yang berkembang, lebih menitikberatkan arti agama sebagai kelompok dan simbol, bukan agama dalam artian ajaran “way of life,” paparnya dengan mimik serius.

Tugas manusia di dunia sebagai khalifah (wakil Tuhan). Ini menunjukkan kedekatan manusia dengan Tuhan. Tidak ada yang lebih tinggi dari manusia, karena diatasnya ”wakil” ya Tuhan itu sendiri. Dalam agama Kristen Katholik, kedekatan ini diistilahkan dengan sebutan ”Anak Tuhan”. Dalam paham Jawa disebut “Manunggaling Kawulo Gusti” (yang merupakan sintesis dari paham Hindu, Budha dan Islam walau sering disebut aliran Kejawen).

Seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat, hendaknya tidak sewenang-wenang dan malah berkuasa terhadap rakyat Ini bukan pemimpin. Kalau pemimpin itu tercetus dari jiwa nuraninya sendiri, otomatis sudah bisa mempimpin dirinya. Upahnya hanya apa? Upahnya melihat kebahagiaan siapapun dan apapun yang dipimpinnya maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dirinya. Ini kodrat yang sesungguhnya sebagai khalifah Allah.

”Dalam Al Quran Surat 8 Al Anfaal 7-21 yang menyebutkan manusia sebagai khalifah Allah bisa minta apa saja, bahkan bisa mendapat kekuatan seribu malaikat bila dikehendaki, tetapi semua dengan tanggung-jawab sesuai dengan derajat yang dimintanya,” kisah Saurip.

Menurutnya ini berarti semakin tinggi derajat yang diminta maka tanggung-jawab dan kewajiban untuk melaksanakan sesuai dengan derajatnya tadi merupakan suatu keharusan. Apabila tanggung-jawab tersebut tidak dilakukan maka akan bertentangan dengan rumus-rumus alam semesta, maka akan terjadi benturan-benturan antara energi positif dan negatif, dan terjadilah berbagai macam kejadian alam yang mengejutkan.

Ia menyebutkan dalam paham agama Hindu itu ada Dewa Syiwa yang bertugas menghancurkan karena cinta semata, dengan landasan cinta kasih untuk menyelamatkan dari keterjerumusan yang lebih dalam lagi, maka perlu peringatan berupa kehancuran. Termasuk tanda-tanda alam.

Jelas, tugas khalifah di muka bumi ini adalah membumikan ajaran Allah. Ajaran Allah harus nyata. Harus bisa dirasakan di dunia ini, bukan hanya nanti di akhirat.

“Jangan terbalik. Kalau di dunia ini baik, maka akhirat tentu baik. Bukan sebaliknya, di dunia kacau kok melarikan diri dengan iming-iming seolah nanti di akhirat baik,” katanya.

Keterpurukan kita bangsa Indonesia terutama karena dari kaum agamis, karena hanya mempelajari ajaran-ajaran agama tidak menggunakan hati yang global (cinta) tadi. Jalan keluar satu-satunya adalah ajaran-ajaran agama harus ditingkatkan sehingga menemukan mutiara-mutiara ajaran secara global.

”Apakah itu agama yang dianut oleh orang-orang terdahulu, siapapun aliran kepercayaan, aliran Yahudi Nasrani atau Muslim harus digali benar-benar agar menemukan roh dari ajaran, initisari ajaran,” ujarnya.

Ia mengaku terkesan dengan pernyataan Bunda Theresa waktu diwawancara pada 1974 yang mengatakan “I see God in every Human being. When I wash the leper’s wounds, I fee like I am nursing God Thyself. Isn’t a very sweet experiences?” (Saya melihat Tuhan dalam diri setiap manusia. Ketika saya memandikan penderita lepra, saya merasa saya sedang merawat Tuhan itu sendiri. Bukankah itu pengalaman yang indah?)

Cinta itu global, universal. Cinta Ibarat ”Gong”, yakni nama perangkat dari gamelan. Kalau “gong” sudah berbunyi maka dia bisa menyerap semua nada. Baik nada sumbang sekalipun akan terserap oleh bunyi “Gong.” Sifat cinta kasih ini yang harus dimiliki oleh pemimpin. Semua nada-nada dunia baik yang sumbang maupun yang merdu akan bersatu terserap oleh energi ’Gong’ tadi. Maka, yang terjadi adalah pancaran kesejukan cinta kasih yang mengayomi kehidupan.

Menurut Saurip, dengan cinta kasih inilah kemelut bangsa ini bisa diselesaikan. Karena cinta kasih itu nyata, riil, bukan lagi di bibir saja. Bukan lagi ilusi. Cinta itu perwujudan, dapat dirasakan rakyat. Fungsi “Gong” juga adalah mengarahkan keseluruhan orkestra gamelan sehingga menjadi suatu karya yang harmonis, enak didengar, dan memberikan nuansa keterpaduan, keserempakan, arahnya jelas.

”Bangsa ini juga demikian perlu “Gong” yang jelas mau dibawa kemana bangsa ini agar tercipta suatu tatanan yang harmonis. Akankah ”Gong” tersebut muncul di 2011 ini?” pungkas Saurip Kadi bernada bertanya. (sus/rhb)


Daftar Riwayat Hidup Saurip Kadi:

Nama : Saurip Kadi.
Pangkat Terakhir: Mayor Jendral TNI.
Tempat, Tanggal Lahir : Brebes 18 Jan 1951
Pendidikan:Umum : S -1/Ekonomi, S -2/MBA.
Militer. : - Akabri Darat, Seskoad, Seko ABRI.

Jabatan :

- Anggota DPR RI Periode 1995 - 1997.
- Inspektur Khusus ITJEN Dephankam.
- Assisten Teritorial KASAD.

Karya Ilmiah:

- TNI AD Dahulu, Sekarang Dan Mendatang.
- Tantangan TNI Dan Indonesia Baru (Bunga Rampai).
- Menata Ulang Sistem Kenegaraan dan TNI menuju Peradaban Baru.
- Mengutamakan Rakyat.
- Menembus Batas (Bunga Rampai).
- Presiden (Coret) Pemilu Abal Abal, Negeri Amburadul (Bunga Rampai).
- Sejumlah Buku Bunga Rampai SESKOAD.
- Tulisan lepas di sejumlah Koran dan Majalah.