Era Baru News >> Kehidupan >> Keluarga >> Bima Sakti dan Karma Perbuatan IV
Bima Sakti dan Karma Perbuatan IV
Ditulis oleh Wayan Adi Rabu, 06 Januari 2010

surgaabadi“Hi.hi.hi.......hi.hi.hi......Aummmmmm.........”

Aneka suara pun menyertai pemandangan yang aneh itu, namun kali ini Bima mencoba menenangkan diri. Ditahannya rasa takut yang begitu mendalam.

Namun, sesungguhnya memang tidak ada yang perlu ditakutkan, pemandangan itu hanya dilihatnya di sebuah layar, layaknya televisi 21 inchi, didepannya. Namun layar itu baru terlihat ketika mata-nya dipejamkan, dan pikirannya di-konsentrasikan.   

Semakin lama bermeditasi, pemandangan itu semakin beragam munculnya. Kali ini, tampak ratusan pocong melayang kearahnya, namun memang benar, pocong-pocong menghilang satu per satu setelah menabrak layar televisi di depannya dan tak sampai ketempat Bima Sakti.

Beberapa menit berlalu, suasana angker pun berubah, entah semakin seram atau tidak, kali ini puluhan Vampire sedang berpesta, ribuan manusia di ikat dan di bariskan di jalanan sepi. Kemudian, Vampire-vampire itu kemudian menggigit leher manusia dan menghisap darahnya.

Teriakan histeris pun bersahutan, dan hampir mengganggu keheningan Bima Sakti. Setelah berlalu beberap menit, Bima Sakti mencoba meningkatkan konsentrasinya, sehingga akhirnya, tiba-tiba layar di depan-nya menghilang entah kemana. Dia pun akhirnya dapat bermeditasi dengan tenang. Walaupun hanya beberapa menit, karena mereka akhirnya mengakhiri meditasinya.

“Celanamu basah ya Bim?,”

Betapa kagetnya Bima mendengar pertanyaan Virgo itu, sebab ternyata celananya memang basah. Dibasahi oleh ompol-nya, saking ketakutan melihat pemandangan-pemandangan seram.

Bima pun berlari, menuju kamarnya dan mengambil celana ganti. Setelah mengganti celana, Bima pun kembali ke ruang belakang menemui Virgo.

“Sory Vir, aku  ketakutan. Ini pengalaman pertamaku melihat pemandangan seram-seram itu,” ujar Bima mencari alasan.

“Ya, aku dulu juga gitu. Namun setelah aku pahami, mereka hanya mencoba menakuti-nakuti kita agar, agar tidak hening dalam bermeditasi,” jawab Virgo.

“Coba kamu jangan akui itu, jangan dihiraukan. Pasti lama-lama hilang sendiri,” tambahnya.

Bima pun mengangguk, tak terasa lama juga mereka ber-diskusi. Hingga matahari hampir tenggelam, Virgo kemudian meninggalkan Bima sendirian, pulang ke rumahnya.

Malam harinya, Bima semakin penasaran dengan aliran meditasi yang dipelajarinya ini. Dia pun mem-baca-baca kembali buku-buku yang dia dapatkan dari Virgo. Hingga akhirnya, belasan buku-buku itu menemaninya tidur.

Bersambung.............

 

(NB : Cerita ini diambil dari sebuah eNovel 'Petualangan Menuju Surga Abadi' karya Wayan Adi. Dipublish bersambung Senin s/d Jum'at. Artikel sebelumnya bisa dibaca di Rubrik Kehidupan (Keluarga))