Era Baru News >> Kesehatan >> Kesehatan >> Asupan Rendah Karbohidrat Vs Rendah Lemak + Obat
Asupan Rendah Karbohidrat Vs Rendah Lemak + Obat
Ditulis oleh Epochtimes Selasa, 02 Maret 2010

Saya perkirakan akan selalu ada perdebatan keras mengenai cara terbaik menurunkan berat badan. Dari perspektif peraturan makanan, sangat banyak pendekatan, namun dua saran yang paling populer adalah makanan rendah karbohidrat dan rendah lemak.

Kedua pendekatan ini memiliki pendukung masing-masing. Pada dasarnya saya termasuk pendukung makanan rendah karbohidrat. Mengapa? Salah satu alasan utamanya, ketika kedua makanan ini diadu satu sama lain, makanan rendah karbohidrat umumnya menunjukkan hasil yang lebih baik dalam hal penurunan berat badan. Juga, makanan rendah karbohidrat umumnya merupakan meningkatkan sinyal biokimia dan fisiologis bagi penyakit kardiovaskular bila dibanding dengan makanan rendah lemak.

Saya tertarik membaca studi yang dipublikasikan Arsip Medis Internal (25/1), dimana sekali lagi, membandingkan makanan rendah karbohidrat dan rendah lemak. Pertama makanan rendah karbohidrat dibatasi hingga kurang dari 20 gram karbohidrat sehari. Asupan kalori tidak dibatasi (artinya obyek studi dapat mengonsumsi makanan yang diizinkan — termasuk daging dan ikan — sebanyak yang mereka inginkan). archinte.amaassn.org/cgi/content/short/170/2/136?home

Sedangkan untuk makanan rendah lemak, seperti studi umumnya, membatasi asupan kalori (untuk mengurangi 500-1000 kalori sehari). Sebagai tambahan, mereka juga mengonsumsi obat penurun berat badan orlistat (Xenical, Alli) dengan dosis 120 mg, tiga kali sehari.

Orlistat bekerja dengan cara mengurangi penyerapan lemak dari pencernaan. Tinjauan bukti yang dipublikasikan pada Jurnal Medis Inggris edisi November 2007 menunjukkan mereka yang mengonsumsi obat ini mengalami penurunan berat badan rata-rata 3,25 kg.

Di akhir studi, (48 minggu) mereka yang mengonsumsi makanan rendah karbohidrat menunjukkan penurunan rata-rata 12,5 kg dibanding 10,5 kg pada kelompok yang mengonsumsi makanan rendah lemak plus obat.

Secara statistik perbedaan ini tidak penting. Sayangnya, studi ini tidak menilai perubahan komposisi tubuh. Ini memang suatu cacat, karena tujuan sebenarnya bukan penurunan berat badan, namun penurunan lemak.

Namun demikian, subjek studi diukur lingkar pinggangnya, yang berkaitan dengan tingkat obesitas perut, obesitas cenderung dikaitkan dengan penyakit kronis. Di sini, kelompok rendah karbohidrat mengalami pengurangan hampir satu inci (2,5 cm) dibanding kelompok rendah lemak plus obat, walaupun secara statistik perbedaan ini tidak penting.

Satu perbedaan penting antara dua kelompok ini terlihat pada tekanan darah: kelompok rendah karbohidrat memperlihatkan penurunan rata-rata 6 dan 4,5 poin berturut-turut pada tekanan darah sistolik (atas) dan diastolik (bawah). Sebagai perbandingan, kelompok rendah lemak memperlihatkan penurunan kecil walaupun secara non-statistik mengalami peningkatan penting dalam tekanan darah mereka.

Secara keseluruhan, hasil dari studi ini menunjukkan penurunan berat yang hampir sama, namun memperlihatkan peningkatan dampak pada tekanan darah kelompok rendah karbohidrat. Di atas semua ini. kelompok rendah karbohidrat tidak perlu membatasi kalori dan tidak mengonsumsi obat.

Obat yang dikonsumsi memberi manfaat sebanyak potensi efek sampingnya (misal, gas dalam perut dan "tirisan berminyak dari dubur"). Namun bagaimanapun juga pilihan saya tetap pada makanan rendah karbohidrat. (dr. John Briffa/The Epoch Times/feb)