Era Baru News >> Kesehatan >> Kesehatan >> Uji Klinis yang Berdampak Kerunyaman Besar
Uji Klinis yang Berdampak Kerunyaman Besar
Ditulis oleh Epochtimes Selasa, 31 Agustus 2010

Telah dikatakan, semua akan baik-baik saja jika tidak ada “tetapi”. Di abad-20 ini obat-obatan telah memberikan banyak manfaat positif bagi manusia. Namun, dia juga memberikan beberapa “tetapi” minor dan major.

Baru-baru ini, dua laporan berbeda menunjukkan mengapa sangat sulit bagi konsumen medis dan dokter untuk mengambil keputusan yang tepat berkaitan dengan bukti yang bertentangan.

British Medical Journal memuat berita yang mengejutkan. Dr. Richard Ablin menyatakan sebaiknya dokter-dokter berhenti menggunakan tes antigen spesifik prostat (PSA, prostate-specific antigen) untuk mendiagnosa kanker prostat di awal stadium.

Sungguh beralasan jika ingin menanyakan apa hak Dr. Ablin membuat pernyataan dramatis di sebuah jurnal medis bergengsi semacam itu. Jawabannya? Dia menemukan sesuatu atas tes PSA!

Dr. Ablin mengatakan bahwa tes tersebut tidak cukup spesifik untuk mendiagnosa kanker. Nilai maksimum yang memisahkan antara pertumbuhan sel jinak dan berbahaya umumnya adalah 4 ng/ml. Namun diketahui 80 persen pria yang memiliki nilai 4-10 ng/ml pada tes PSA tidak ada pertumbuhan sel yang bersifat kanker.

Kemungkinan pria ini memiliki prostat jinak yang membesar atau infeksi prostat, mengonsumsi obat semacam ibuprofen, atau telah melakukan hubungan seksual sebelum tes. Tes PSA menunjukkan kenaikan nilai selama 48 jam setelah ejakulasi.

Dia juga menyebutkan alasan lain atas pendapat kontroversialnya. Saat tes menunjukkan adanya peningkatan sel yang dianggap sebagai kanker, ini memperlihatkan masalah utama lain. Tes tidak dapat menentukan apakah pertumbuhan sel berbahaya tersebut bersifat lambat, tidak membahayakan hidup, agak berbahaya, atau ganas.

Hampir sama pentingnya, Dr. Ablin mengatakan bahwa untuk satu nyawa yang selamat berkat tes PSA, 48 orang harus diobati. Itu artinya, 47 orang harus menjalani perawatan yang menyebabkannya menggunakan popok (pampers) seumur hidup akibat inkontinensia urin (mengompol), menderita impotensi, atau keduanya.

Apa pemicu munculnya kejutan Dr. Ablin? Dia yakin motivasinya adalah masalah finansial, khususnya di AS, yang mendorong adanya tsunami tes. Dia melanjutkan bahwa, komunitas medis harus menghadapi kenyataan dan berhenti melakukan pengujian tak tepat yang akan menghemat triliun rupiah dan menyelamatkan jutaan pria dari penanganan yang tidak perlu dan mengerikan.

Kritikus akan mengatakan dokter seharusnya tetap menggunakan tes yang ada, hingga tersedianya tes yang lebih baik. Namun pernyataan Dr. Albin menggambarkan bagaimana tes berada di luar kendali, khususnya jika berkaitan dengan uang.

British Medical Journal juga memiliki berita yang membingungkan perempuan. Salah satu hal yang juga ditekankan oleh jurnalis medis ini, bahwa program pengujian payudara nampaknya tidak memiliki dampak yang penting pada kematian akibat kanker payudara.

Studi lanjutan di British Medical Journal menyatakan bahwa meskipun pengujian tidak sempurna, namun dia berhasil menyelamatkan kehidupan. Masyarakat Kanker dan kelompok perempuan lainnya juga mendukung teori ini. Jadi mana yang harus dipercaya?

Dr. Cornelia Baines, Profesor Emeritus Universitas Toronto, Kanada selalu meragukan manfaat keseluruhan mammografi. Misalnya, jika 2.000 perempuan melakukan pengujian rutin selama 10 tahun, ini hanya akan menyelamatkan seorang perempuan dari kematian akibat kanker payudara.

Namun 10 perempuan akan menjalani perawatan tak perlu berkaitan dengan hasil positif yang keliru. Lalu jika mempertimbangkan timbulnya gangguan emosional, pembedahan tak perlu, dan pemborosan dana, yang menyebabkan bukan sekedar masalah minor.

Saat ini, diagnosa awal telah melekat kuat dalam hati kita, bahwa mencela mammografi berarti seperti mengutuk masalah kewanitaan. Terlebih lagi, tidak seorang pun yang menekankan bahwa tidak mungkin dapat mendiagnosa kanker payudara secara dini melalui mammografi.

Bagaimana bisa mendeteksi jika mammografi membutuhkan sebuah gumpalan diagnosa? Karena memerlukan beberapa tahun untuk membentuk gumpalan yang cukup besar untuk dapat dideteksi melalui mammografi, ini menyediakan waktu bagi sel kanker untuk menyebar. Ini tidak seperti tes Pap yang dapat melihat sel-sel secara individu. Ada perbedaan diagnosis yang besar di sini.

Sayangnya perlu kebijakan tinggi untuk menjawab pertanyaan ini. Namun paling tidak, semua orang perlu mengetahui dampak negatif dari diagnosa awal ini, tidak hanya manfaat positifnya saja.

Juga perlu disadari minat pribadi dan politik juga memegang peranan penting. Misalnya, jika pemerintah mengeluarkan perintah untuk membatasi mammografi, ribuan perempuan yang gusar dan juga industri mammogram, akan menurunkan pamor politisinya. Tidak ada politisi yang berani mengambil risiko tersebut. (W. Gifford Jones, MD/The Epoch Times/feb)

Dr. Gifford-Jones adalah seorang jurnalis medis dengan praktek medis di Toronto. Situsnya adalah Mydoctor.ca/gifford-jones.