Era Baru News >> Kesehatan >> Kesehatan >> Dekonstruksi Teori Evolusi TanggungJawab Semua Orang
Dekonstruksi Teori Evolusi TanggungJawab Semua Orang
Ditulis oleh Epochtimes Selasa, 07 September 2010

Muncul dan berkembangnya teori evolusi, membuat taraf materialisasi sejak Revolusi Industri berlangsung lebih intensif, juga membuat para ateis memperoleh dukungan secara ilmiah.  Namun, apakah anatomi tubuh manusia yang benar-benar canggih ini merupakan hasil evolusi dari kera?  Jawabannya berada dalam kehidupan kita masing-masing.

Judul artikel ini bukan menghendaki semua orang menulis artikel tentang men-dekonstruksi teori evolusi, melainkan secara objektif menyatakan suatu hal yang setiap saat sedang berlangsung; karena keberadaan dan kehidupan setiap orang cukuplah untuk mendekonstruksi keajaiban teori evolusi.

Bagaimanakah memahami hal ini?  Sebenarnya seorang manusia utuh meliputi tubuh fisik dan kesadaran (mental) yang mengendalikan tubuh. Sedangkan tubuh fisik selain tubuh daging yang terlihat juga mencakup tubuh yang tidak terlihat, seperti sistem meridian. Baik tubuh fisik, tubuh yang tidak tampak, ataupun mental manusia, keberadaan dan operasinya tidak ada yang mampu dihasilkan oleh berlangsungnya teori evolusi.

Dengan demikian, selain kelemahan-kelemahan yang belum terbukti dari Origin of Species (Asal Usul Species) itu sendiri, keraguan-keraguan dari para ahli dan profesor yang tak terhitung banyaknya (http://www.dissentfromdarwin.org/), kritik dari buku-buku monografi (Darwin on Trial oleh Phillip Johnson, Darwin’s Black Box: The Biochemical Challenge to Evolution oleh Michael J. Behe, Mitos Evolusi karya Chen Guanxue), sebenarnya kita semua sedang mendekonstruksi teori evolusi!

Apakah struktur tubuh manusia merupakan sebuah keajaiban?  Ataukah berubah sesuai keadaan?

Berbicara mengenai tubuh, struktur dan mekanisme operasi tubuh manusia, masih tetap merupakan suatu keajaiban bahkan pada zaman yang teknologinya sudah canggih seperti sekarang ini.  Tubuh manusia dianggap sebagai mikro kosmos (alam semesta kecil), memiliki sistem organ dan jaringan yang kompleks.

Sekalipun sebuah sel hewan yang mencakup tiga bagian selaput sel, sitoplasma dan inti sel, strukturnya amat sangat kompleks, juga mencakup sebagian besar bidang penelitian peraih Penghargaan Nobel Kedokteran pada tahun-tahun belakangan ini.  Apalagi sebuah sistem yang terdiri dari banyak bagian, jika dilakukan perubahan pada bagian sistem sesuka hati, mungkin akan membuat keharmonisan koordinasi seluruh sistem menjadi bermasalah, sehingga sistem kehilangan fungsinya semula.

Diambil bola mata sebagai contoh, dibandingkan dengan anggota tubuh ini bahkan  kamera kelas atas masih tertinggal jauh, bila dalam bola mata terdapat sebuah bagian kecil yang berubah secara acak, bagaimana mungkin tidak mempengaruhi penglihatan normal seseorang?  Sebenarnya, mutasi gen tubuh manusia adalah membahayakan, biasanya dapat menyebabkan anomali fungsi sel atau kematian bahkan dapat menyebabkan kanker.

Karena kompleksitas struktur tubuh manusia, setiap perubahan acak dalam struktur sub-sistem, akan dengan mudah merusak keharmonisan total sistem sehingga memengaruhi fungsinya.  Apalagi jika mempertimbangkan sistem perhubungan, pemulihan dan operasi tubuh manusia, serta taraf kerumitan struktur dan mekanisme tubuh manusia, mustahil hal ini dapat dicapai secara evolusi sedikit demi sedikit melalui perubahan sel dalam teori evolusi dengan seleksi alamnya.

Tubuh manusia selain yang dapat dilihat dan dapat diraba, masih ada tubuh yang tidak dapat dilihat. Contoh yang paling mudah dimengerti adalah meridian tubuh.  Meridian ini tidak dapat dilihat melalui pembedahan, teori dan konsepnya telah diaplikasikan dalam praktek oleh pengobatan tradisional China selama ribuan tahun. Bukan saja telah terpadu dalam budaya China dan kehidupan orang Timur, bahkan setelah 1970-an dengan cepat menjadi populer di Barat.

Pada beberapa dekade belakangan ini, malah ditemukan hubungan dan aplikasi antara meridian dan kelistrikan faal sehingga meningkatkan wilayah cakupan aplikasi teori meridian.  Jika tubuh yang dapat dilihat dan disentuh saja sulit dihasilkan melalui mutasi acak dan seleksi alam apalagi tubuh yang tidak tampak dan tidak dapat disentuh?  Asal-usul dan perkembangannya, bagaimana mungkin tidak tergantung pada suatu desain yang cerdas?

Atheisme gempur moralitas

Manusia berbeda dengan hewan, karena manusia membutuhkan kemampuan mental.  Menurut teori evolusi, intelektual manusia dan hewan lainnya berevolusi secara kontinu, dan berubah secara bertahap, tetapi banyak bukti menunjukkan suatu fakta bahwa mental manusia dan hewan lain sangat besar perbedaannya.

Manusia dapat memanfaatkan simbol, dengan sesuka hati membentuk konsep dan berpikir abstrak, terlebih lagi mengalami perkembangan moral, kemampuan mental ini tidak tersedia pada hewan pada umumnya. Lebih lanjut bila melihat gen-gen manusia dan simpanse terdapat 99% kemiripan, tetapi prestasi simpanse tidak juga mencapai 1% dari  peradaban manusia.

Lebih penting lagi, perbedaan yang 1% antara manusia dan simpanse ini justru membuktikan bahwa materi tidak bisa menentukan keseluruhan kehidupan, masih dibutuhkan suatu kesadaran untuk dapat membentuk manusia selengkapnya. Namun, asal-usul dan perkembangan kesadaran, bukanlah yang dapat dijelaskan oleh teori evolusi.

Muncul dan berkembangnya teori evolusi, membuat taraf materialisasi sejak Revolusi Industri berlangsung lebih intensif, juga membuat para ateis menerima dukungan secara ilmiah.  Sedangkan perkembangan materialisasi dan ateisme telah menggempur nilai-nilai etika dan moral manusia, bahkan telah menggempur habis diri manusia.

Ketika manusia tanpa sadar telah menyimpang dari hukum alam semesta, moral manusia akan menurun dengan cepat, juga membuat manusia lebih berani berbuat kejahatan. Hasilnya tidak saja akan menyebabkan kerusakan lingkungan, manusia juga akan menerima akibat dari tindakan-tindakan kejahatan. Ketika sebagian orang memperingati Darwin dan teori evolusi secara besar-besaran, manusia hendaknya lebih mencermati isi dan dampak teori evolusi.

Jika Anda benar-benar dapat memahami keberadaan dan kehidupan setiap orang, sudah cukup untuk mendekonstruksi keajaiban teori evolusi. Kita akan memiliki kesempatan yang sangat baik untuk kembali ke lintasan alam semesta, untuk memulihkan nilai eksistensi manusia. (Xu Kaixiong/The Epoch Times/prm)