Era Baru News >> Kesehatan >> Kesehatan >> Pemilik BMI Sehat Belum Tentu Sehat
Pemilik BMI Sehat Belum Tentu Sehat
Ditulis oleh Epochtimes Rabu, 08 September 2010

Indeks massa tubuh (Body Mass Index atau BMI) merupakan ukuran standar penanda kesehatan. BMI adalah berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi seseorang dalam meter.

Kita diberitahu bahwa besaran BMI 18,5 adalah ‘normal dan sehat’, sementara angka 25,0-29,9 diklasifikasikan sebagai ‘kelebihan berat badan’, dan di atas 30 diklasifiasikan sebagai ‘obesitas’. Ada beberapa masalah dengan BMI, dia tidak menyampaikan apapun tentang komposisi tubuh.

Ada kemungkinan Anda bugar, sehat, dan berotot namun memiliki BMI yang diklasifikasikan sebagai kelebihan berat badan atau bahkan obesitas. Juga, dapat saja Anda lemah, memiliki massa otot rendah, dan diklasifikasikan sebagai sehat. Menggunakan BMI untuk menilai standar kesehatan seseorang adalah omong kosong.

Masalah BMI lainnya, ia tidak menyampaikan distribusi berat (terutama lemak) dalam tubuh. Hal ini penting karena telah diketahui secara meluas tentang fakta bahwa berat badan sekitar tubuh bagian tengah (terutama berat di dalam dan di sekitar perut) memiliki hubungan yang kuat dengan penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes tipe-2. Di sisi lain, berat badan di bawah kulit, seperti pada kaki atau lengan, tampaknya tidak menjadi faktor risiko penyakit tertentu.

Pengetahuan bahwa lemak perut telah diidentifikasi sebagai penanda kesehatan yang buruk telah menyebabkan meningkatnya popularitas ukuran lemak perut seperti lingkar pinggang dan rasio pinggang-panggul.

Namun, makalah yang diterbitkan pada akhir Juli di Deutsches Ärzteblatt International menunjukkan bahwa pengukuran tersebut umumnya hanya digunakan pada orang yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas berdasarkan BMI.

Para penulis mencoba menemukan nilai lingkar pinggang dalam memprediksi risiko menderita diabetes pada orang yang memiliki BMI normal. Mereka juga membandingkan risiko nyata pada mereka yang dianggap kelebihan berat badan dan obesitas, namun ukuran lingkar pinggang tidak tinggi. Para peneliti mengikuti lebih dari 25.000 pria dan perempuan usia 35-65 rata-rata selama delapan tahun.

Pada pria, lingkar pinggang rata-rata 94 cm. Pada perempuan, 79 cm. Baik pria dan perempuan, risiko terendah diabetes ditandai dengan ukuran lingkar pinggang di bawah rata-rata yang juga memiliki nilai BMI kurang dari 25 (dianggap sehat).

Pada pria, dibandingkan dengan kelompok berisiko rendah, mereka yang memiliki lingkar pinggang yang lebih rendah tetapi memiliki nilai BMI ‘kelebihan berat badan’ lebih mungkin menderita diabetes tipe-2 sebesar 2,26 kali.

Mereka yang berlingkar pinggang lebih tinggi dan memiliki nilai BMI kelebihan berat badan lebih mungkin menderita diabetes tipe-2 hampir 5 kali.

Tapi bagaimana dengan orang dengan BMI sehat dan lingkar pinggang yang lebih tinggi? Lebih mungkin menderita diabetes 3,62 kali.

Sama halnya pada perempuan: lingkar pinggang yang lebih rendah dan kelebihan berat badan pada BMI tidak ditemukan secara statistik adanya peningkatan risiko diabetes.

Namun mereka dengan lingkar pinggang yang lebih tinggi dan diklasifikasikan sehat oleh BMI lebih mungkin menderita diabetes 2,74 kali dibandingkan mereka yang memiliki nilai BMI sehat dan lingkar pinggang yang lebih rendah.

Berikut beberapa kutipan dari penulis studi ini:

“Risiko relatif (RR) menderita diabetes tipe-2 DM (diabetes mellitus) diantara pemilik berat badan rendah atau normal (BMI kurang dari 25) yang memiliki lingkar pinggang besar, paling tidak sebesar mereka yang kelebihan berat badan (BMI 25,0 - 29,9 ) dengan lingkar pinggang kecil.”

“Temuan ini menyiratkan bahwa lingkar pinggang merupakan informasi tambahan penting untuk menilai risiko DM tipe-2, khususnya di kalangan pemilik berat badan rendah atau normal.”

Studi ini menyoroti pentingnya fokus menjaga tubuh dari kelebihan lemak di sekitar tengah tubuh dan kurang menganggap penting berat badan atau BMI.

Itulah salah satu alasan mengapa saya menulis buku terbaru, Waist Disposal (Pembuangan Pinggang). (Dr. John Briffa/The Epoch Times/feb)