Video Adegan Penggal Kepala di Mesuji Diambil dari Separatis Pattani, Thailand
Nasional - Peristiwa
Ditulis oleh Era Baru News Sabtu, 17 Desember 2011

altJakarta - Terungkap menjadi fakta baru, salah satu adegan sadis pemenggalan kepala warga yang ditampilkan dalam video "Pembantaian Mesuji" ternyata  diambil dari konflik di Thailand selatan. Hal itu dilansir kantor berita CBSNews yang ditulis 16 Desember 2011.


Video pembantaian Mesuji sudah tersebar luas di internet, salah satu adegannya diambil di Thailand selatan. Para pelaku pembantaian yang terlihat memakai celana loreng, bersenjata laras api, dan mengenakan penutup muka ini ternyata adalah para anggota separatis Pattani yang terkenal terlibat konflik SARA di negeri itu.

Krisis Thailand Selatan adalah gerakan separatis yang terjadi di wilayah Pattani, provinsi paling selatan Thailand. Provinsi ini didominasi oleh Melayu-Islam. Pattani merupakan salah satu dari tiga provinsi di Thailand selatan dengan kekerasan terus menyebar ke provinsi lain.

Meskipun gerakan separatis telah terjadi untuk beberapa dekade di wilayah ini, kampanye ini baru diangkat tahun 2004.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Junta Militer mengklaim bahwa perlawanan ini didanai oleh restoran sup Tom Yam Kung di Malaysia. Pemerintah Malaysia menyebut klaim ini "tidak beralasan," dan "sangat imajinatif."

Terungkap dalam adegan video yang digabungkan pula dengan pembunuhan sadis di Sodong, Ogan Komering Ilir, ini, CBS meyakini bahwa itu terjadi di Thailand berdasarkan bahasa dan dialek yang digunakan, yaitu Melayu Pattani.

Seperti yang dilansir dari berbagai media baik cetak dan elektronik, separatis Pattani telah membantai berbagai elemen masyarakat dari warga, biksu, tentara yang yang bukan beragama sesuai yang dianutnya dengan memenggal kepala, dan pembunuhan sadis lainnya. Mereka berpaham dan menganggap 'kafir'  harus disika lalu dibunuh.

Para pelaku sengaja menunjukkan aksi membunuh sambil meneriakkan "Islamiyah Fathoni Darussalam", lalu muncul kata-kata "Merdeka". Begitu yang terungkap dalam versi aslinya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari pihak terkait di Indonesia mengenai hal ini. (sus)