|
Jakarta - Video versi polisi dipertontonkan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (21/12) terkait penanganan kejadian kasus Mesuji di Provinsi Lampung pada tanggal 10 November 2011.
Kapolres Tulangbawang AKBP Shobarmen diancam senjata tajam saat mencegah penyerangan warga ke mess PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) di Kabupaten Mesuji, Lampung, November 2011.
Dalam video itu memperlihatkan warga datang menggunakan sepeda motor ke mess PT BSMI. Polisi yang tiba lebih dulu berusaha mencegah. Namun, warga malah marah dan mengelilingi Kapolres sambil mengacungkan senjata. Mereka meminta Kapolres mundur dari lokasi tersebut.
"Kapolres meminta anggota mundur untuk meredam kemarahan warga. Kapolres juga menyuruh anggota menghentikan tembakan peringatan agar tak memancing kemarahan," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution, saat pemutaran video.
Saud menjelaskan, Kapolres memutuskan mundur sambil menunggu bantuan Kepolisian Daerah Lampung. Perlu diketahui jarak Polda ke lokasi sekitar empat jam. Pada saat kekosongan pengamanan itu, massa bertambah banyak mencapai sekitar 400 orang. Mereka membabi buta membakar pabrik serta mess milikĀ perusahaan.
"Jam 3 datang bantuan Polda, massa bisa diamankan. Hasil pengecekan lapangan, tertembak 5 orang. Muslim tertembak kaki kanan, Robin kaki kiri, Rano Karno lengan kiri, Harun di tumit kiri, dan Zailani tertembak meninggal dunia," kata Saud.
Bentrokan bermula dari penjarahan sawit oleh dua warga. Meraka adalah Dani dan Hendri. Keduanya lolos dari pengejaran keamanan perusahaan. Namun, sepeda motor yang mereka gunakan tertinggal di lokasi.
"Kemudian keduanya dikejar oleh petugas keamanan dan kabur meninggalkan motor, jumlah petugas saat dari polsek setempat 14 orang sudah dihadang sekitar 100 orang dari massa itu," kata Saud. Kejadian ini dilaporkan ke Polsek Tanjung Raya, tak jauh dari lokasi.
Kemudian petugas Polsek Tanjung Raya meminta bantuan pada Polres Tulang Bawang. Kapolres kemudian memimpin apel pasukan untuk persiapan. Apel melibatkan Polri-TNI yang kemudian mengamankan gerbang masuk perusahaan tersebut.
Massa tersebut mempertanyakan keberadaan Hendri dan Dani, dan Suratno kemudian tertembak. Selanjutnya massa beringas dan petugas mencoba mengamankan, tapi massa sedemikian besar bertambah 200 orang dengan membawa tombak, parang dan dodos untuk menyerang petugas, katanya.
Bantuan dari Polda Lampung tiba di lokasi empat jam setelah kejadian. Bentrokan pun terjadi antara polisi dengan warga yang akhirnya polisi melepaskan tembakan dengan lima orang luka tembak dan salah satunya tewas.
Lima orang korban tersebut yaitu Muslim terkena tembakan di kaki kanan, Robin dengan luka tembak di kaki kiri, Rano Karno dengan luka tembak di lengan dan perut bagian kiri, Harun kena luka tembak di tumit kiri serta Jailani yang tewas tertembak.
"Selanjutnya datang bantuan dari Polda dan dari hasil pengecekan di lapangan, tertembak sebanyak lima orang dan satu orang meninggal dunia," kata Saud.
Adapun lima korban yang tertembak yakni Muslim, Robin, Rano Karno, Harun sedangkan Zaelani tewas tertembak, katanya.
Selain itu, massa membakar 19 mess karyawan, sembilan pos pengamanan, lima mess manajer dan gudang bahan bakar minyak (BBM) serta beberapa gudang lainnya.
"Kita sedang melakukan penyelidikan terkait dengan kasus ini," kata Saud. (sus)
|