|
Surabaya - Hari (17) seorang siswa SMA Khusus Among Asih nampak menikmati acara hiburan atraksi panggung boneka yang digelar di Gelora Pantjasila, Surabaya, Rabu (18/1).
Raut mukanya mengekspresikan kegembiraan meski ia menderita keterbelakangan mental. Hari adalah penyandang Tuna Grahita.
Hari berbaur dengan 2000 anak berkebutuhan khusus lainnya dari 39 Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) yang mengisi kegiatan awal tahun dengan menggelar pentas seni di Gelora Pantjasila, Rabu (18/1). Mereka berasal dari SLB dan YPAC se-Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Krian.
Kegiatan pentas seni yang diprakarsai Yayasan Pondok Kasih (YPK) ini menyuguhkan aneka hiburan. Tak hanya panggung boneka, tapi anak-anak berkebutuhan khusus ini juga diajari main sulap. Selain itu, mereka juga diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Ada yang menari, menyanyi, bahkan ada juga yang bermain biola.

Aksi hiburan panggung boneka dari Little Samuel Ministry menjadi magnet tersendiri bagi ribuan anak berkebutuhan khusus yang memenuhi gedung olahraga yang berlokasi di Jalan Indragiri ini.
Dari awalnya banyak yang asyik bermain sendiri, konsentrasi mereka akhirnya tertuju pada panggung. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya berdiri di bibir panggung untuk sekadar melihat boneka-boneka yang bisa “berbicara dan menari” itu.
Tak hanya anak didik, namun para guru yang turut mendampingi juga turut senang. Seperti yang diungkapkan Endang. Salah satu staf pendidik di SMA Khusus Among Asih ini merasa bahagia mendapat undangan dari Yayasan Pondok Kasih untuk menghadiri acara pentas seni.
Bahkan, sekolahan yang berlokasi di Rungkut Mejoyo Selatan mengirim 37 anak didiknya dengan mencarter angkutan kota untuk bisa hadir di lokasi acara.
“Biar anak-anak senang dan tidak merasa jenuh dengan rutinitas di sekolah. Apalagi bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka, acara seperti ini dapat memberikan kebahagiaan tersendiri,” ujar Wali Kelas C ini.
Panggung boneka sendiri bercerita tentang kisah seorang anak yang awalnya malu karena tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap, karena salah satu tangannya tidak tumbuh sempurna. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, anak tersebut akhirnya bisa menerima kenyataan.
Menurut Hana Amalia Vandayani Ananda, ketua Yayasan Pondok Kasih (YPK), tujuan digelarnya acara ini memang sengaja untuk memberikan hiburan tersendiri bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Hana juga berpesan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah juga generasi masa depan bangsa.
"Jangan sampai mereka menjadi the lost generation, atau generasi yang hilang, sehingga dianggap tidak perlu diperhatikan," harap Hana yang pernah mendapatkan penghargaan Satya Lancana (2004-2005) dan Dharma Karya Kancana (2006) dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Hana yang sudah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk ribuan ‘kaum papa’ di Surabaya ini juga menyatakan apresiasi yang tinggi terhadap keberadaan para guru dan tenaga pendidik di SLB dan YPAC.
Pihak Konsul Jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Kristen F Bauer tampak hadir di acara pentas seni gelaran YPK tersebut. Bahkan Bauer juga memberikan Samaritan’s Purse pada ribuan anak berkebutuhan khusus yang diterima secara simbolis, salah satunya oleh Prita Laras.
Laras dengan memakai kursi roda, adalah seorang siswa kelas 5 SLB Aisyiyah, Krian. Ia mengaku sangat senang menerima paket yang berisikan perlengkapan mandi, alat tulis sekolah dan mainan.
“Hore, aku dapat boneka,” teriak Laras kegirangan usai membuka Samaritan’s Purse yang berasal dari lembaga sosial berpusat di Amerika Serikat dan Australia.
Sementara itu, Bauer sendiri merasa terharu dan turut berbahagia dapat berbagi kasih dengan ribuan anak berkebutuhan khusus tersebut.
“Saya juga memberikan apresiasi tinggi pada Yayasan Pondok Kasih yang peduli terhadap keberadaan mereka,” katanya dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar. (deo/rhb) |