|
Perkembangan agama Tao di Indonesia tidak segencar agama-agama lain yang kerap menghiasi berbagai media masa. Ditambah dengan tempat ibadah yang didirikan dimana-dimana, seakan menambah eksistensi agama itu di mata masyarakat bahkan negara.
Berawal dari intisari pencerahan Lao Zi (老子), keberadaan agama Tao di Indonesia jika ditelusuri dari sejarah memang telah berkembang dalam zaman yang cukup lama.
Awalnya yang dikenal dengan sebutan keluarga Tao atau aliran kultivasi Tao, masuknya agama Tao di Indonesia bersamaan dengan masuknya orang Tionghoa ke Indonesia.
Ajaran Lao Zi, lebih dikenal dengan sebutan Taoisme, yakni suatu paham spiritual yang lahir di Tiongkok dan telah mengalami berbagai perkembangan selama ribuan tahun. Taoisme dikembangkan oleh Lao Tzu dengan kitab utamanya yang disebut Tao Te Ching yakni kitab tentang Jalan Kebenaran.
“Sejarahnya cukup lama, cuman tidak dipopulerkan secara memberi ceramah dan memberikan pelajaran-pelajarannya, baru terakhir ini buku-bukunya dikumpulkan, baru sekarang dijabarkan,” ujar Ketua Umum Paguyuban Umat Tao Indonesia (PUTI) Ir.Flyming Lika saat ditemui di kediamannya Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (17/1).
Mengakarnya ajaran Tao bisa diketahui dari keberadaan penganut Tao, yang sudah menekuni sampai lima hingga tujuh keturunan. Bahkan beberapa Kelenteng seperti di Tegal, Jawa Tengah telah berdiri selama 600 tahun, Kelenteng di Bogor selama 300 tahun dan Babakan Madang selama 300 tahun lebih.
Hubungan baik umat Tao dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, berjalan dengan harmonis tanpa adanya gesekan keyakinan dengan berbagai umat dan kepercayaan yang dianut berbagai umat di Indonesia.
Kalangan umat Tao di Indonesia melaksankan ritual keagamaan berdasarkan kesadaran mereka sendiri untuk datang ke Kelenteng, hal ini memupuk sikap toleran dalam dirinya mereka sendiri. Maka karena itu pernah ada punya semboyan-semboyan, datang tidak diundang dan pergipun tidak dihantar. Ini dikarenakan hubungan vertikal tidak bisa memaksakan atau dipaksakan.
“Kalau saya lihat sejarahnya kelenteng yang ada, itu tidak pernah ada gesekan dengan warga setempat,” kisah pria kelahiran, Jember,3 Agustus 1957 silam.
Jumlah penganut Tao di Indonesia tercatat kurang lebih 70.000 ribu, meski demikian kebanyakan umat yang sembahyang tidak terdaftar secara keseluruhan ditambaha dengan peraturan dalam KTP tentang pencantuman agama. Agama Tao dalam hal ini belum dikategorikan sebagai agama resmi yang diakui oleh negara.
“Mau tidak mau harus ikut dalam peraturan politik, itulah sehingga tidak jelas jumlahnya berapa banyak,” kata Flyming yang pernah aktif di Senat Mahasiswa dan organisasi pecinta alam Universitas Satya Wacana, Salatiga.
Meski demikian ada beberapa umat yang memberanikan mencantumkan Tao sebagai agama mereka. Dalam konteks ini yang perlu diperhatikan adalah negara idealnya tidak mengurusi agama, namun negara mengurus hukum. Siapapun nantinya warga negara yang melanggar hukum apapun agamanya, maka harus ditindak.
“Gitu loh, Jadi kalau saya pribadi jangan dicantumkan dalam KTP itu sudah selesai semua, jadi negara tidak mengurusnya agama, jadi negara mengurus hukum,” ujar Flyming yang pernah bekerja di perusahaan swasta telekomunikasi dan perusahaan minyak.
Legitimasi sebagai agama di Indonesia meskipun belum mengarah kesana, namun dalam konteks dunia spiritual, Tao tetap sebagai ajaran spiritual. Adapun PUTI sebagai organisasi kemasyarakatan umat Tao Indonesia yang berada resmi dibawah naungan Kemendagri sebagai LSM. Sebagai pembinaan terhadap umat dibawah naungan Majelis Tridharma Indonesia (MTI).
Hadirnya Tao sebagai agama memang baru saja berkembang akhir-akhir ini. Tao awalnya yang dikenal sebagai keluarga Tao, berbicara melampaui batas-batas logika. Sehingga diperlukan usaha yang tekun dan perenungan yang mendalam secara intuisi. Tao yang dipopulerkan awalnya dikenal sebagai dengan maha misterinya, sampai disebutkan inilah Tao yang sebenarnya namun tidak diketahui Tao yang sebenarnya. 
Ide ajaran Lao Zi dalam Tao Te Ching yang terkenal adalah mengenai wuwei atau tanpa upaya disengaja. Wuwei mengandung pengertian membiarkan segala hal terjadi dengan apa adanya, alami, dan bukan dibuat-buat atau direncanakan. Doktrin 'wuwei' merupakan suatu bentuk pengolahan diri untuk mencapai kesunyian diri sejati dan penyucian pikiran.
Simbol para penganut ajaran Taoisme yang juga terkenal di dunia adalah prinsip Yin Yang. Teori Yin dan Yang adalah saling berlawanan di alam, tetapi mereka merupakan bagian dari alam, mereka bergantung satu sama lain, mereka tidak dapat eksis tanpa salah satu darinya.
Keberadaan Tao dalam bentuk agama kemudiannya, baru diciptakan konsep Tuhan, mulai ada yang mengontrol, padahal yang sebenarnya maha besar itu tidak tahu siapa dia karena pikiran tidak sampai kesana. Baru akhir-akhir ini berkembang menjadi agama dengan pengembangan berbagai konsep hirarki ajaran seperti dalam agama-agama.
“Belakangan baru diciptakan, maka Tao bersifat politeisme maka muncul banyak dewa-dewa ketika perkembangan keagamaaannya,” kata Ayah dari Thayne (24), Dianne (22) dan Terry (17).
Carut marut kondisi bangsa saat ini, mulai dari maraknya praktek korupsi hingga menyebar mulai dari krisis moral, krisis kepercayaan bahkan krisis kebangsaan diantaranya disebabkan tidak adanya ketegasan dalam melaksanakan kebijakan. Dalam perkara pemberantasan korupsi yang terus terjadi tarik menarik memperlemah adanya ketegasan dalam pemberantasan korupsi.
Krisis moral yang terjadi saat ini, memang awalnya agama mengajarkan orang baik lalu kemudian apakah agama mengajarkan tata karma yang menjadi dasarkan dari pembenahan moral dan diri dari penganut-penganut agama itu sendiri.
“Ajarkan orang baik ya, tata karma ya, nah, ajarkan orang baik iya, terus tata krama gimana,kemudian berpakaian gimana,yang namanya sopan gimana, nah ini tidak diajarkan agama,” ujar Flyming.
Mulai terhapusnya pelajaran budi pekerti dalam sekolah, menjadi pertanyaan dengan merebaknya perkelahian antar pelajar sekolah dijalanang, tata karama dalam bertutur kata dan berpakaian. Agama memang pada dasarnya mengangkat semua sama drajatnya tapi diperlukan cara yang baik untuk menanamkan pengajaran moralitas.
“Ini siapa yang bisa dilihat disitu, tidak ada tata krama lalu berkelahi dijalanan, itu bukan karena bukan orang baik, bukan karena tidak beragama,” tambah Flyming.
Jika ini dibiarkan, konteksnya nanti akan menciptakan strata baru dalam masyarakat. Seperti anak-anak elit tidak bergaul kalangan bawah. Saat ini diperlukan perangkat yang mengajarkan sopan santun dan tata krama kepada generasi-generasi muda Indonesia sebagai generasi penerus.
Memperbaiki semua itu diawali dengan memperbaiki diri sendiri, dengan membangun kesadaran diri sendiri lantas secara langsung alam akan menselaraskan dengan sendiri terhadap lingkungan masing-masing. Dengan artian sadarkan diri, sadarkan orang kemudian tolong manusia dan tolong dunia.
“Kita bermula dari diri, lalu hasilnya apa maka alam akan membalancing sendiri, dengan artian sadarkan diri, sadarkan orang lain, lebih dalam lagi tolong manusia, tolong dunia,” pungkas Flyming. (mas/asr)
|